KNKT Ungkap Fakta Baru Kecelakaan Kereta Bekasi Timur
Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono mengungkapkan temuan dalam investigasi kecelakaan KA Bekasi Timur. (Tangkap layar)
19:04
21 Mei 2026

KNKT Ungkap Fakta Baru Kecelakaan Kereta Bekasi Timur

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan temuan krusial dalam investigasi kecelakaan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur.

Diketahui, masinis KA Argo Bromo sebenarnya sudah mulai melakukan pengereman sejak jarak 1,3 kilometer sebelum lokasi tabrakan.

Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, menjelaskan bahwa masinis telah mendapatkan peringatan dari Pusat Pengendali (PK) Timur mengenai adanya gangguan di jalur tersebut.

"Soalnya masinis sudah mulai ngerem di 1,3 km sebelum lokasi tabrakan pak. Dia tahunya karena diinformasikan oleh PK Timur, pengendali jalur antara Manggarai sampai Cikampek,” kata Soerjanto dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, Kamis (21/5/2026).

Temuan ini memicu pertanyaan dari Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, mengenai kemampuan pengereman kereta api.

Menanggapi hal tersebut, Soerjanto menjelaskan bahwa secara teknis, jarak 1,3 kilometer lebih dari cukup untuk menghentikan kereta secara total jika dilakukan pengereman darurat atau maksimal.

"Kalau dia melakukan pengereman secara maksimal, itu kira-kira kurang lebih antara 900-1000 meter,” katanya.

Namun, tabrakan tetap terjadi karena masinis tidak melakukan pengereman maksimal. Hal ini disebabkan oleh instruksi yang diterima dari pusat kendali yang hanya meminta masinis untuk mengurangi kecepatan secara bertahap.

"Tapi karena dia tahunya di komunikasi pusat kendali ada temperan di JBL85, kamu berjalan direm dikit-dikit dan banyak-banyak semboyan 35 artinya banyak banyak klakson, jadi masinis tidak melakukan pengereman maksimum,” jelasnya.

Ia menekankan kembali bahwa tindakan masinis didasari oleh arahan yang ia terima saat itu.

“Karena informasi yang diterima dari PK Timur rem dikit-dikit dan sambil bunyikan klakson,” lanjutnya.

Lasarus kemudian menyoroti adanya selisih jarak sekitar 300 meter yang seharusnya bisa menjadi ruang aman jika pengereman maksimal dilakukan sejak masinis menerima informasi awal.

"Padahal kalau dia ngerem benar 900-1 km sudah bisa berhenti?” tanya Lasarus.

“Iya,” jawab Soerjanto.

“Masih ada space 300 meter,” kata Lasarus lagi.

“Iya,” ujar Soerjanto.

Meski data ini telah terungkap, KNKT menegaskan bahwa proses investigasi masih terus berjalan dan belum mencapai kesimpulan akhir.

Editor: Vania Rossa

Tag:  #knkt #ungkap #fakta #baru #kecelakaan #kereta #bekasi #timur

KOMENTAR