BMKG Ingatkan Risiko Kekeringan-Karhutla Meningkat imbas El Nino
Kebakaran hutan terjadi di Riau dan Kepulauan Riau yang menghanguskan ratusan hektare.(Dok.KEMENHUT)
10:22
9 April 2026

BMKG Ingatkan Risiko Kekeringan-Karhutla Meningkat imbas El Nino

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan, risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia meningkat akibat fenomena El Nino pada semester kedua 2026 mendatang.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, musim kemarau juga berpotensi datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang dan secara umum kondisi iklim di 2026 diperkirakan lebih kering dibandingkan normal.

“Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda. Kemarau merupakan siklus klimatologis, namun jika terjadi bersamaan dengan El Nino, curah hujan akan jauh berkurang dan kondisi menjadi lebih kering,” kata Faisal, Kamis (9/4/2026), dikutip dari Antara.

Baca juga: El Nino Ancam RI, Mana Saja Wilayah yang Perlu Waspada?

Faisal menuturkan, saat ini kondisi El Nino Southern Oscillation (ENSO) masih berada pada fase netral, tetapi indikasi penguatan menuju El Nino perlu diwaspadai karena dapat memperparah musim kemarau.

Adapun ENSO merupakan fenomena iklim global yang ditandai oleh perubahan suhu permukaan laut dan tekanan udara di Samudra Pasifik tropis, yang terdiri dari tiga fase utama yakni El Nino (pemanasan), La Nina (pendinginan), dan netral.

Perubahan itu memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia, di mana El Nino umumnya menyebabkan berkurangnya curah hujan dan meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan.

Sejalan dengan kondisi tersebut, BMKG mencatat jumlah titik panas atau hotspot di Indonesia hingga awal April 2026 telah mencapai 1.601 titik, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.

Baca juga: Jurus Pemerintah Hadapi El Nino Godzila

Faisal merinci bahwa potensi karhutla diperkirakan mulai meningkat di wilayah Riau pada Juni, kemudian meluas ke Jambi dan Sumatera Selatan, serta berlanjut ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan pada periode Juli hingga Agustus.

Sebagai langkah mitigasi, BMKG terus memperkuat pendekatan preventif melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan metode pembasahan lahan atau rewetting, khususnya di wilayah rawan gambut.

"Ketika tinggi muka air tanah di lahan gambut mulai menurun, BMKG segera melakukan modifikasi cuaca untuk menjaga kelembapan tanah agar tidak mudah terbakar," kata dia.

Faisal juga mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan lintas sektor, baik pemerintah daerah maupun masyarakat, guna mengantisipasi peningkatan risiko karhutla seiring perkembangan kondisi iklim tersebut.

Tag:  #bmkg #ingatkan #risiko #kekeringan #karhutla #meningkat #imbas #nino

KOMENTAR