KBRI Pastikan WNI yang Kabur dari Markas Scammer Kamboja Bukan Korban TPPO
- Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh memastikan bahwa warga negara Indonesia (WNI) yang berhasil melarikan diri dari markas penipuan daring atau online scam tidak terindikasi sebagai korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
“Nah berdasarkan early assessment KBRI, kami menggunakan berbagai tools terkait dengan upaya mengidentifikasi seseorang apakah terindikasi TPPO atau tidak. Nah berdasarkan early assessment dari KBRI, tidak ada WNI yang terindikasi sebagai korban TPPO,” kata Duta Besar RI di Kamboja, Santo Darmosumarto, dalam jumpa pers daring, Kamis (22/1/2026).
Bukan hanya itu, mereka yang melapor ke KBRI Phnom Penh tidak menunjukkan tanda-tanda mengalami kekerasan fisik.
“Kondisi fisik sebagian besar dalam keadaan aman dan sehat,” tegas dia.
Namun karena perjalanan panjang usai kabur dari markas online scam, beberapa WNI mengalami stres, letih, dan trauma.
“Bagi WNI yang sakit, ada beberapa yang sakit, tapi sakitnya bukan sakit yang dikarenakan kekerasan fisik. Sudah dibawa ke pusat layanan kesehatan untuk diberikan pengobatan,” jelas dia.
“Termasuk di antaranya ada yang pingsan dan lain-lain karena dehidrasi, kita bantu untuk berikan pengobatan di pusat layanan kesehatan yang ada di Phnom Penh,” ucap dia lagi.
Ribuan WNI kabur dari markas scammer Kamboja
Hingga Rabu (21/1/2026), sebanyak 1.726 warga negara Indonesia (WNI) berhasil kabur dari markas penipuan online scam di Kamboja.
Dubes Santo mengatakan bahwa angka tersebut merupakan akumulasi mulai 16 Januari hingga 21 Januari 2026.
“Jadi mulai 16 sampai tanggal 21 itu, sekarang sudah ada 1.726 warga negara Indonesia yang datang ke KBRI untuk menyampaikan laporan bahwa mereka baru saja keluar dari sindikat penipuan online di berbagai tempat di Kamboja,” kata Santo dalam jumpa pers virtual hari ini.
Santo mengungkapkan alasan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Phnom Penh di Kamboja mulai melakukan penghitungan sejak 16 Januari 2026.
Ia menjelaskan bahwa tanggal tersebut dipilih karena menjadi titik awal lonjakan jumlah kasus yang signifikan.
Untuk diketahui, Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, menginstruksikan pemberantasan sindikat penipuan daring di seluruh wilayah Kamboja.
Instruksi ini diikuti dengan penangkapan mastermind di berbagai wilayah, sehingga membuat sindikat tersebut membubarkan diri dan membiarkan para pekerjanya keluar.
Tag: #kbri #pastikan #yang #kabur #dari #markas #scammer #kamboja #bukan #korban #tppo