Pentingnya Makan Bareng Keluarga untuk Mencegah Anak GTM
- Menghadapi fase penolakan makan pada anak, alias gerakan tutup mulut (GTM), merupakan ujian kesabaran bagi banyak orangtua.
Beragam metode pun dicoba oleh ayah dan ibu demi memastikan kebutuhan gizi harian buah hati terpenuhi dengan baik.
Dokter spesialis anak Miza Afrizal Azwir, Sp.A, BMedSci, MKes, mengatakan, salah satu faktor penting yang jarang diperhatikan dalam mengatasi masalah ini adalah kondisi lingkungan saat waktu makan tiba.
Baca juga: Cegah Anak GTM, Jessica Iskandar Perkenalkan Makanan Keluarga Sejak MPASI
"Idealnya memang yang pertama sebenarnya adalah seorang anak itu dia makannya harus bareng-bareng sama keluarga. Jadi bukan dia makan, terus dia jadi kayak tontonan," papar dr. Miza dalam acara LACTOGROW Digestion Expert Lab di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026).
Suasana rumah dan rutinitas ayah maupun ibu saat jam makan tiba, memegang peranan krusial terhadap nafsu makan balita.
Ketidakteraturan jadwal orangtua di rumah, terlebih jika jarang makan bersama, sangat bisa berimbas pada keengganan si kecil untuk membuka mulut dan menikmati hidangannya dengan tenang.
Menjadi teladan di meja makan untuk menghindari GTM
Psikologi anak usia dini sangat bergantung pada apa yang mereka lihat dan alami setiap hari.
Proses pembelajaran terbaik bagi balita tidak datang dari instruksi lisan semata, melainkan dari observasi langsung terhadap sosok yang merawat mereka dari pagi hingga malam.
Ketika ayah dan ibu memiliki jadwal makan yang tidak beraturan, anak kehilangan figur percontohan dalam membangun kedisiplinan mengonsumsi nutrisi.
Makan sebagai rutinitas yang menyenangkan
Duduk bersama di meja makan memberikan sinyal positif kepada otak balita bahwa momen tersebut adalah rutinitas yang aman serta menyenangkan bagi semua anggota keluarga.
Menghadirkan teladan yang baik melalui rutinitas harian di rumah menjadi fondasi pencegahan GTM.
Baca juga: Anak Lakukan GTM Saat MPASI, Waspada Anemia Defisiensi Besi
Anak yang terbiasa melihat orangtuanya menikmati berbagai jenis lauk pauk akan lebih mudah beradaptasi dengan menu baru yang disajikan di piringnya.
"Nah jadi pada saat kita makan bareng-bareng di keluarga (tanpa memilih lauk pauk), dia akan mencontoh," tutur dr. Miza.
Jangan jadikan anak tontonan
Dokter spesialis anak Miza Afrizal Azwir, Sp.A, BMedSci, MKes dalam acara LACTOGROW Digestion Expert Lab di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026).
Kesalahan umum yang sering terjadi di rumah adalah membiarkan anak makan sendirian sembari dikelilingi oleh banyak orang dewasa.
Orangtua, pengasuh, hingga kerabat, berkumpul hanya untuk melihat proses masuknya sendok ke dalam mulut si kecil. Padahal, kondisi ini menciptakan tekanan psikologis yang amat berat bagi buah hati.
Perhatian berlebihan yang diberikan lingkungan sekitar justru memicu rasa tidak nyaman dan kewaspadaan tinggi, sehingga selera makan anak menurun drastis.
Baca juga: Tak Melulu soal Makanan, Sakit Juga Bisa Jadi Penyebab Anak GTM
"Dia duduk makan disuapin, terus sekitarnya nontonin dia. Kalau misalnya (makanan) masuk mulut, (respons orang-orang) 'Wih pintar' gitu," tutur dr. Miza.
Pujian dalam situasi yang tidak natural akan disalahartikan oleh sistem saraf anak sebagai sebuah ketidaknyamanan yang serius.
"Itu (menonton anak makan) akan memberikan exposure yang lumayan stressful buat mereka, bahwa ini, 'Nih orang pada ngapain sih ngeliatin' gitu," urai dr. Miza.
Menyiasati jadwal makan bersama di tengah kesibukan
Masallah lain adalah tuntutan pekerjaan yang tinggi, membuat penerapan jadwal makan harian yang teratur menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga urban.
Meski demikian, ayah dan ibu harus berupaya keras menyempatkan waktu demi membentuk pola kebiasaan makan yang teratur demi perkembangan dan pertumbuhan anak.
Tidak perlu memaksakan diri agar setiap waktu makan harus dilalui bersama jika kondisinya sama sekali tidak memungkinkan.
Hal terpenting adalah menjaga konsistensi pertemuan harian di meja makan tanpa memberikan intervensi paksaan kepada balita.
"Jadi kalau misalnya kita memang tidak bisa karena memang kesibukan, diusahakan memang dalam sehari ada satu kali minimal dia yang makan bareng-bareng sama keluarga," ujar dr. Miza.
Sikap defensif anak terhadap makanan perlahan akan menurun lantaran ia merasakan suasana yang damai saat menikmati hidangan bersama orangtuanya.
"Tapi makannya jangan ada pressure berlebihan. Jadi ya kayak kita makan bareng aja," pungkas dr. Miza.
Tag: #pentingnya #makan #bareng #keluarga #untuk #mencegah #anak