Cara ASN Mengatur Waktu agar WFH Jumat Tak Bikin Burnout
Ilustrasi WFH, work from home. Sosiolog UI menilai WFH Jumat untuk ASN tidak otomatis membentuk budaya kerja baru jika hanya dipahami sebagai pemindahan lokasi kerja dari kantor ke rumah.(Google Gemini AI)
15:35
19 Mei 2026

Cara ASN Mengatur Waktu agar WFH Jumat Tak Bikin Burnout

– Bekerja dari rumah sering kali dianggap memberi kenyamanan lebih dibandingkan bekerja dari kantor karena tak harus menempuh kemacetan dalam perjalanan berangkat dan pulang.

Namun bagi Wiwid (38), seorang document controller specialist di salah satu BUMD Jakarta, work from home (WFH) justru menghadirkan tantangan tersendiri yang menuntut strategi khusus agar tidak berujung pada kelelahan mental atau burnout.

Sebagai ibu sekaligus pekerja, hari kerja dari rumah bagi Wiwid bukan sekadar menyelesaikan dokumen atau menghadiri rapat virtual.

Di saat bersamaan, ia juga harus merespons kebutuhan anak dan mengatur ritme kerja yang kerap meluas hingga malam hari.

Baca juga: Alasan Bunyi Notifikasi Grup Kantor Bikin Stres Saat WFH

Di tengah padatnya tanggung jawab tersebut, Wiwid perlahan menemukan cara untuk mengelola tekanan dari berbagai tanggung jawabnya.


Belajar berkompromi dengan anak

Salah satu tantangan terbesar saat bekerja dari rumah adalah membagi fokus antara pekerjaan dan kebutuhan anak yang sering kali datang tanpa bisa diprediksi.

Bagi ibu 2 anak itu, situasi ini kerap terjadi ketika dirinya sedang berkutat dengan dokumen atau menghadiri rapat daring, sementara sang anak membutuhkan perhatian lebih.

“Terkadang kalau bekerja pas ada anak, dia jadi lebih manja, pengin disuapin tapi saya masih ngurus kerjaan. Anak jadi pengin dekat sama ibunya terus,” jelas Wiwid saat diwawancarai Kompas.com, Senin (18/5/2026).

Alih-alih memaksakan dua peran sekaligus dalam satu waktu, Wiwid memilih pendekatan kompromi yang menurutnya lebih realistis.

Baca juga: WFH ASN, Ada Risiko Kebocoran Data Negara dari WiFi hingga Perlunya Standar Keamanan

“Jadi kadang harus kompromi dan kasih batasan ke anak, misalnya minta waktu 15 sampai 20 menit untuk selesaikan kerjaan, lalu suapin dia makan,” ujar dia.

Batasan sederhana itu menjadi cara agar dirinya tetap bisa menyelesaikan pekerjaan tanpa mengabaikan kebutuhan anak.

“Itupun saya kadang minta anak saya untuk makannya jangan terlalu lama. Setelahnya, saya kembali ngurus dokumen, zoom, atau kerjaan lainnya,” katanya.

Cara ini membuat ritme kerja tetap terjaga meski sesekali harus terputus oleh urusan domestik.

Menata batas jam kerja yang fleksibel

Fleksibilitas waktu selama WFH sering dianggap sebagai keuntungan. Namun bagi Wiwid, kondisi ini justru menjadi tantangan yang harus dihadapi.

“Tantangan lainnya itu ada di jam kerja WFH yang fleksibel. Saya bisa mulai kerja lebih awal atau bahkan selesai kerja sampai malam. Jadi agak kabur batasan jam kerjanya,” ungkap Wiwid.

Ketika batas antara waktu kerja dan waktu pribadi memudar, risiko burnout pun semakin besar.

Oleh karena itu, Wiwid berusaha membangun kendali lewat pengelolaan pekerjaan yang lebih terstruktur. Ia menyadari bahwa tidak semua pekerjaan harus diselesaikan saat itu juga.

Membuat skala prioritas

Di tengah derasnya tugas yang datang, Wiwid menerapkan prinsip sederhana, yaitu mendahulukan pekerjaan yang paling mendesak.

“Tentu kalau pekerjaan itu tidak bisa ditolak ya, tapi saya berusaha buat skala prioritas. Mana yang sekiranya dibutuhkan cepat, itu yang saya kerjakan,” terang dia.

Pendekatan ini membantunya menjaga energi agar tidak terkuras untuk hal-hal yang sebenarnya masih bisa dikerjakan di lain waktu.

“Kalau pekerjaannya deadlinenya masih minggu depannya, maka saya lebih pilih kerjakan untuk di Senin minggu depan,” ucap Wiwid.

Dengan memilah pekerjaan berdasarkan urgensi, Wiwid bisa menghindari tekanan berlebihan yang kerap muncul akibat keinginan menyelesaikan semuanya sekaligus.

Menuntaskan pekerjaan demi akhir pekan yang tenang

Meski begitu, ada kalanya seluruh pekerjaan datang dengan tingkat urgensi yang sama. Dalam situasi seperti ini, Wiwid memilih menyelesaikannya hingga malam hari.

“Tapi kalau semuanya dibutuhkan di hari yang sama, maka mau tidak mau saya harus menyelesaikan pekerjaannya sampai malam, dengan harapan weekend tidak diganggu pekerjaan lagi,” imbuhnya.

Baginya, akhir pekan adalah waktu penting untuk memulihkan energi setelah menjalani pekan kerja yang padat.

Pengalaman Wiwid menunjukkan bahwa mencegah burnout saat WFH bukan soal menghindari tekanan sepenuhnya, melainkan tentang menemukan strategi untuk mengelolanya.

Dengan komunikasi, prioritas yang jelas, dan batasan yang konsisten, tuntutan kerja dari rumah bisa dijalani tanpa harus mengorbankan kesejahteraan mental.

Baca juga: WFH Jumat Tak untuk Semua: Satu Kebijakan, Beda Nasib ASN

Tag:  #cara #mengatur #waktu #agar #jumat #bikin #burnout

KOMENTAR