5 Tanda Burnout yang Sering Diabaikan Pekerja, Salah Satunya Mudah Marah
Zodiak yang Rentan Burnout di Kantor(freepik)
12:25
9 Mei 2026

5 Tanda Burnout yang Sering Diabaikan Pekerja, Salah Satunya Mudah Marah

Burnout sering dianggap sebagai kondisi lelah biasa akibat pekerjaan yang menumpuk.

Padahal, burnout bisa berdampak lebih jauh pada kesehatan fisik, mental, hingga produktivitas seseorang.

Menariknya, kondisi ini justru kerap dialami oleh orang-orang yang terlihat produktif dan tetap aktif bekerja setiap hari.

Karena terbiasa mengejar target dan menyelesaikan banyak hal, tanda-tanda burnout sering tidak disadari sejak awal.

Psikolog klinis Kasandra Putranto mengatakan, burnout merupakan kondisi kelelahan emosional, fisik, dan mental akibat stres kronis di tempat kerja.

Menurut dia, gejalanya bisa terlihat dari sisi fisik, psikologis, hingga perilaku kerja seseorang.

1. Tetap merasa lelah meski sudah beristirahat

Salah satu tanda burnout yang paling umum adalah rasa lelah yang tidak kunjung hilang, bahkan setelah tidur atau libur kerja.

Burnout fisik (ditandai) kelelahan menerus, gangguan tidur, mudah sakit,” kata Kasandra dikutip dari ANTARA, Sabtu (9/5/2026).

Kondisi ini bukan hanya rasa capek biasa, tetapi kelelahan yang membuat tubuh terasa tidak bertenaga dan sulit kembali fokus.

Kasandra menjelaskan, burnout fisik biasanya ditandai dengan kelelahan terus-menerus, gangguan tidur, hingga tubuh yang menjadi lebih mudah sakit.

Akibatnya, seseorang tetap merasa terkuras meski sudah mencoba beristirahat.

2. Kehilangan motivasi dan semangat kerja

Tanda lain yang sering muncul adalah hilangnya motivasi terhadap pekerjaan maupun aktivitas sehari-hari.

"Dari sisi psikologis kehilangan motivasi, merasa tidak dihargai, mudah marah, sedangkan secara perilaku kerja mengalami penurunan produktivitas, sinisme terhadap pekerjaan, sering absen," jelas Kasandara.

Orang yang mengalami burnout bisa merasa pekerjaannya tidak lagi menyenangkan, bahkan mulai kehilangan minat terhadap hal-hal yang sebelumnya disukai.

Dalam kondisi tertentu, seseorang juga merasa tidak dihargai meski sudah bekerja keras.

Perasaan ini dapat memicu frustrasi, rasa hampa, hingga keinginan untuk menarik diri dari lingkungan kerja.

3. Mudah marah dan lebih emosional

Burnout juga dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang.

Kasandra menyebutkan bahwa pekerja yang mengalami burnout cenderung menjadi lebih mudah marah, sensitif, dan gelisah.

Tidak sedikit pula yang mulai mengalami overthinking, terutama terkait pekerjaan dan tuntutan sehari-hari.

Hal ini terjadi karena tubuh dan pikiran terus berada dalam tekanan tanpa memiliki waktu pemulihan yang cukup.

Baca juga: Berawal dari Burnout Metta Murdaya Sukses Bangun Produk Skincare Berbasis Jamu

Gen Z sering dibilang gampang burnout, tapi ternyata Gen Milenial pun juga pernah merasa lelah mental di usia muda, bedanya dulu mereka jarang bercerita.
freepik Gen Z sering dibilang gampang burnout, tapi ternyata Gen Milenial pun juga pernah merasa lelah mental di usia muda, bedanya dulu mereka jarang bercerita.

4. Sulit fokus dan produktivitas menurun

Meski terlihat sibuk, orang yang mengalami burnout justru bisa mengalami penurunan produktivitas.

Mereka menjadi lebih sulit berkonsentrasi, mudah terdistraksi, dan membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaan.

Selain itu, muncul pula sikap sinis terhadap pekerjaan atau lingkungan kantor.

Dalam beberapa kasus, burnout juga membuat seseorang lebih sering absen atau kehilangan semangat untuk menjalani rutinitas kerja.

5. Tetap memaksa diri bekerja saat tubuh sudah lelah

Salah satu tanda burnout yang sering tidak disadari pekerja produktif adalah dorongan untuk terus bekerja meski tubuh sebenarnya sudah kelelahan.

“Dalam banyak kasus, muncul pula dorongan untuk terus bekerja meski tubuh sudah lelah, karena merasa ‘tidak enak berhenti’ atau takut ketinggalan,” imbuh Kasandra.

Menurutnya, banyak orang merasa tidak enak berhenti bekerja atau takut tertinggal jika mengambil waktu istirahat.

Akibatnya, mereka terus memaksakan diri hingga kondisi fisik dan mental semakin terkuras.

Padahal, produktivitas yang dipaksakan tanpa jeda justru dapat memperburuk burnout dalam jangka panjang.

Baca juga: Tips bagi Ibu Bekerja WFH agar Tidak Cepat Burnout

Burnout bisa dipulihkan

Kasandra menegaskan bahwa burnout bukan kondisi yang harus dianggap sepele, tetapi juga bisa dipulihkan dengan penanganan yang tepat.

Pemulihan burnout dapat dilakukan melalui konseling psikologis, terapi perilaku kognitif (CBT), maupun dukungan psikiatri bila diperlukan.

Selain itu, menjaga kesehatan dasar juga penting dilakukan, seperti tidur cukup, makan seimbang, menjaga hidrasi tubuh, dan rutin berolahraga ringan.

Pekerja juga dianjurkan memiliki waktu istirahat yang benar-benar bebas dari pekerjaan serta tetap menjalani aktivitas yang menyenangkan, seperti menekuni hobi atau bersosialisasi.

“Intinya produktivitas tetap penting, tetapi tanpa pemulihan dan keseimbangan, kinerja justru akan menurun dan biaya psikologisnya jauh lebih besar dalam jangka panjang,” ujarnya.

Tag:  #tanda #burnout #yang #sering #diabaikan #pekerja #salah #satunya #mudah #marah

KOMENTAR