6 Cara Mengajarkan Anak Mengelola Amarah Sejak Dini
- Salah satu tantangan mengasuh anak usia dini adalah tangisan histeris mereka ketika tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Seringkali orangtua juga bingung karena tanpa alasan yang jelas anak bisa tantrum.
Menurut pakar pengasuhan, sekaligus terapis anak dan keluarga, Meri Wallace, luapan amarah tersebut muncul karena anak belum memiliki kemampuan bahasa untuk mengungkapkan perasaannya.
"Mereka akan menangis dan menjerit, meronta-ronta, atau menendang-nendangkan kaki mereka," kata Wallace, menyadur Parents, Senin (27/4/2026).
Anak kecil juga masih kesulitan untuk menahan dorongan batin mereka. Saat merasa frustasi, mereka cenderung langsung bereaksi dengan perilaku fisik, seperti memukul atau menggigit. Tantrum merupakan cara utama memprotes kebutuhan yang tidak terpenuhi.
Baca juga: Viral Trik Jessica Atasi Tantrum Anak di TikTok, Kenapa Bisa Ampuh?
"Balita melihat keinginan dan hasrat mereka sebagai sesuatu yang mendesak," tambah Wallace.
Meskipun melihat anak mengamuk terasa berat, ingatlah bahwa kemarahan adalah emosi alami yang akan terus ada hingga mereka dewasa.
Tugas utama ayah dan ibu adalah mengajari mereka cara terbaik untuk menanganinya, meskipun dalam prosesnya bisa membuat orangtua kehabisan kesabaran. Berikut ragam cara mengajarkan anak untuk mengelola amarah mereka.
Baca juga: Anak Tantrum saat Dilarang Main Gadget, Begini Cara Menyikapinya
Langkah praktis mendampingi anak mengelola emosinya
Ilustrasi
1. Validasi dan terima perasaan si kecil
Saat buah hati meledak dalam amarah, akui perasaannya. Jika tahu alasannya, tambahkan penjelasan bahwa kamu memahami anak sedang marah karena hal tersebut.
Langkah selanjutnya adalah menerima kemarahan tersebut. Ucapkan, "Tidak apa-apa untuk marah." Sebagai orangtua kita tentu ingin anak merasa nyaman mengekspresikan emosi.
Memvalidasi emosi sangatlah penting karena ampuh mengurangi intensitas amarah. Sebaliknya, menyalahkan perasaan mereka hanya akan memperburuk situasi.
Baca juga: 7 Cara Mengajarkan Anak Berani Berkata Tidak
2. Ajarkan anak mengungkapkan emosi lewat kata-kata
Anak tidak otomatis mengetahui apa yang harus diucapkan saat kesal. Orangtua perlu mengajarkannya secara perlahan.
"Ketika anak merasa marah, anak harus menggunakan kata. Sampaikan, 'Ayah atau ibu ingin mendengar apa yang membuatmu kesal. Jika kamu menggunakan kata-kata, kami akan lebih mengerti dan bisa membantu'," tutur Wallace.
Berikan contoh kalimat panduan bagi anak. Misalnya, ketika anak sedang marah, ajarkan mereka untuk mengatakan "Aku marah".
Jika anak sudah lebih mahir dalam berbicara, ajarkan mereka untuk mengatakan "Aku marah karena..." dan "Aku butuh bantuan untuk menenangkan diri".
Baca juga: Orangtua Perfeksionisme Bisa Picu Gangguan Makan pada Anak
Ilustrasi anak saat tantrum. Pengidap Peter Pan Syndrome menunjukkan serangkaian perilaku sosial, ideologi, dan sifat yang dianggap belum dewasa. Pemicunya meliputi pola asuh di masa kanak-kanak.
3. Tawarkan solusi dan kompromi yang positif
Dulu, orangtua sering disarankan untuk membiarkan anak menangis agar tidak manja. Namun, pendekatan masa kini tidak membenarkan hal tersebut karena gagal mengajarkan mekanisme koping emosional yang sehat.
Tawarkan solusi nyata untuk mereka. Jika anak enggan meminjamkan mainan kepada temannya, orangtua bisa menganjurkan untuk menyimpan mainan tersebut ketika temannya berkunjung, agar tidak dipinjam.
Bisa juga menggunakan teknik pengalihan peratian seperti mengajak anak melakukan hal lain, ketika aktivitas yang seharusnya dilakukan, tidak bisa dilakukan karena satu dan lain hal.
"Atau berikan kompromi sepadan, 'Kita tidak bisa makan es krim sebelum makan malam, tapi bagaimana kalau makan apel?'," kata Wallace.
Baca juga: Kapan Waktu Tepat Mengajarkan Anak Meregulasi Emosi?
4. Ambil jeda sebelum memberikan respons
Alih-alih langsung berkata tidak, berhentilah sejenak. Mengambil jeda memberi kita waktu untuk merespons dengan bijak.
Mengambil jeda bisa berupa mengajak anak pergi ke tempat lain untuk membantu meredakan ketegangan. Di sepanjang perjalanan, kamu tidak perlu mengucapkan sepatah kata apapun untuk turut menenangkan diri.
5. Ajak anak ke tempat yang lebih tenang
Jika amukan terjadi di area publik, segera menjauh dari keramaian dan abaikan pandangan menghakimi orang lain. Lingkungan minim gangguan mempermudah orangtua dan anak untuk kembali tenang.
Setelah pergi ke tempat yang lebih tenang, raih tangan si kecil dan katakan dengan lembut bahwa kalian akan membicarakan penyebab tantrumnya.
Baca juga: Seberapa Penting Mengajarkan Budi Pekerti pada Anak?
6. Tetapkan batasan yang tegas terhadap perilaku agresif
Merasa marah memang wajar, tetapi perilaku agresif tidak bisa ditoleransi. Jika anak mulai menyakiti orang di sekitarnya, bersikaplah tegas.
"Tegur dengan jelas, 'tidak apa-apa untuk marah. Kemarahanmu tidak masalah, tetapi memukul itu tidak boleh'," ujar Wallace.
"Lanjutkan dengan panduan positif yang tegas, 'Kita tidak memukul atau menendang siapa pun', serta 'Memukul itu menyakitkan. Kita tidak menyakiti siapa pun'," pungkas dia.
Baca juga: 4 Manfaat Dongeng untuk Tumbuh Kembang Anak
Tag: #cara #mengajarkan #anak #mengelola #amarah #sejak #dini