Mengapa Memelihara Owa Jawa Bisa Merusak Regenerasi Hutan? Pakar Bilang Begini
Potret Owa Jawa (Instagram/@roktaviani)
16:43
22 April 2026

Mengapa Memelihara Owa Jawa Bisa Merusak Regenerasi Hutan? Pakar Bilang Begini

Hutan di Pulau Jawa terus menyusut dan terfragmentasi, menyisakan ekosistem yang kian rapuh. Di tengah kondisi ini, praktik memelihara satwa liar seperti Owa Jawa justru memperparah kerusakan.

Situasi ini mengancam proses alami regenerasi hutan yang tidak bisa digantikan teknologi apa pun. Dilansir dari Forest Watch Indonesia (FWI) (22/4/2026), luas hutan di Pulau Jawa kini hanya sekitar 14 persen dari total daratannya. Ibarat 100 halaman buku, hanya 14 halaman yang masih tersisa dalam kondisi utuh.

Di ruang yang semakin sempit ini, peran satwa endemik seperti Owa Jawa menjadi krusial bagi keberlangsungan ekosistem.

Mekanisme Alami yang Tak Tergantikan

Owa Jawa dikenal sebagai “petani hutan”, sebutan yang bukan tanpa alasan. Rahayu Oktaviani, konservasionis dan ahli primata, menjelaskan bahwa primata ini berperan penting dalam penyebaran biji yang menopang regenerasi hutan.

“Owa Jawa di hutan Pulau Jawa memiliki peran sangat vital sebagai petani hutan,” ujarnya.

Biji dari buah yang mereka konsumsi tidak hancur dalam sistem pencernaan, melainkan tersebar kembali di berbagai lokasi melalui kotorannya. Proses ini memungkinkan tumbuhnya pohon-pohon baru secara alami, sebuah mekanisme ekologis yang hingga kini belum mampu direplikasi oleh teknologi.

Rahayu menegaskan, hubungan antara Owa Jawa dan hutan bersifat saling bergantung.

“Adanya Owa Jawa membantu hutan tetap hidup, dan hutan membantu Owa Jawa juga tetap hidup,” tegasnya.

Memelihara Owa Jawa, Menghentikan Regenerasi Alam

Namun, rantai alami ini terancam. Populasi Owa Jawa di alam liar kini diperkirakan hanya tersisa 2.000 hingga 4.000 individu, menurut Yayasan Owa Jawa (22/4/2026).

Salah satu ancaman terbesar datang dari praktik perdagangan dan pemeliharaan ilegal. Banyak orang tidak menyadari bahwa memelihara bayi Owa Jawa berarti membunuh induknya.

“Memelihara Owa Jawa itu artinya membunuh induknya. Karena untuk mendapatkan bayinya, indukannya harus mati terlebih dahulu,” ujar Rahayu.

Dengan tingkat reproduksi yang lambat, hanya melahirkan setiap 2 hingga 3 tahun, kehilangan satu individu memiliki dampak besar bagi populasi.

Jika tren ini terus berlanjut, bukan hanya spesiesnya yang terancam punah, tetapi juga proses penyebaran biji yang menjadi fondasi regenerasi hutan.

Dampak ke Manusia: Dari Hulu ke Hilir

Kerusakan ini tidak berhenti di hutan. Rahayu mengingatkan bahwa apa yang terjadi di dalam ekosistem hutan akan berdampak langsung pada kehidupan manusia, termasuk yang tinggal di perkotaan.

“Apapun yang terjadi di dalam hutan pasti akan berdampak pada kita,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Saya percaya apa yang terjadi di hulu, itu pasti akan berdampak pada hilir.”

Tanpa regenerasi hutan yang optimal, risiko bencana seperti banjir meningkat akibat berkurangnya vegetasi penyerap air. Artinya, hilangnya Owa Jawa bukan sekadar kehilangan satu spesies, tetapi juga hilangnya fungsi ekologis yang menopang kehidupan manusia.

Lebih dari Sekadar Satwa

Dengan keanekaragaman satwa di Pulau Jawa yang relatif terbatas dibanding pulau lain, setiap spesies memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam.

“Satwa apapun yang tersisa di Jawa memiliki peran ekologi yang sangat penting, terutama Owa Jawa,” tegas Rahayu.

Karena itu, menjaga Owa Jawa tetap di habitat alaminya bukan hanya soal konservasi satwa, tetapi juga menjaga masa depan ekosistem, dan manusia itu sendiri.

“Semua orang bisa ikut berperan. Mulai dari tidak memelihara satwa liar hingga meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian alam,” tutupnya.

Editor: Bimo Aria Fundrika

Tag:  #mengapa #memelihara #jawa #bisa #merusak #regenerasi #hutan #pakar #bilang #begini

KOMENTAR