Harga Jutaan Batik Tulis Peranakan Itu Masuk Akal
Pameran batik peranakan bertajuk Metamorfosa di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Pameran ini berlangsung pada 9 April-5 Mei 2026.(Kompas.com / Nabilla Ramadhian)
17:05
12 April 2026

Harga Jutaan Batik Tulis Peranakan Itu Masuk Akal

- Tak sedikit masyarakat yang terkejut melihat harga selembar kain batik tulis peranakan Tionghoa yang bisa mencapai jutaan rupiah. Padahal, harga tersebut mencerminkan proses pembuatannya yang sepenuhnya dikerjakan dengan tangan dan memakan waktu berbulan-bulan.

Setiap detail motif dikerjakan dengan teliti oleh pengrajin, dari tahap menggambar hingga pewarnaan berlapis, yang membutuhkan kesabaran serta keahlian tinggi. 

"Orang bilang batik tulis mahal, ya gimana enggak mahal, kerjanya kan setahun. Ibaratkan satu hari itu Rp 35.000 khusus untuk satu orang si pembuat batik," kata pembatik dari Jakarta, Dave Tjoa, dalam talkshow "Merayakan Batik Peranakan di Indonesia" di lokasi, Sabtu (11/4/2026).

Karena itu, jika dihitung dari lamanya pengerjaan dan upah yang layak bagi pengrajin, nilai jual kain ini sebenarnya sangat rasional, meski sering kali luput dipahami oleh pembeli yang terbiasa menawar.

Baca juga: Krisis Regenerasi Batik Peranakan, Anak Muda Pilih Kerja di Pabrik

Pameran batik peranakan bertajuk Metamorfosa di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Pameran ini berlangsung pada 9 April-5 Mei 2026.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Pameran batik peranakan bertajuk Metamorfosa di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Pameran ini berlangsung pada 9 April-5 Mei 2026.

Jauh sebelum lilin malam ditorehkan menggunakan canting, penyiapan bahan memakan biaya besar. Kain mori, yakni katun putih polos khusus membatik, dibutuhkan sebagai fondasi.

Tahap persiapan mori ini tidaklah instan karena mencakup proses pemotongan dan pengetelan atau proses merebus kain agar serat kain siap menyerap pewarna.

"Mori satu piece yang paling bagus, dipotong 2,5 meter, itu kurang lebih Rp 60.000. Ngetel itu kurang lebih Rp 100.000. Jadi untuk satu kain (hampir) Rp 200.000-an," tambah pembatik asal Cirebon sekaligus pemilik Batik Kanoman, Giok.

Baca juga: Makna Emosional Pameran Metamorfosa bagi Eksistensi Batik Peranakan

Proses panjang yang menguras tenaga

Setelah lembaran mori siap, tahap selanjutnya adalah membuat pola dasar. Pekerjaan ini kemudian dilanjutkan dengan mengisi detail ornamen pelengkap yang sangat rumit.

Tahap penyematan isen-isen, yakni pengisian detail titik atau garis halus pada ruang kosong kain, memakan energi paling besar. Tahapan detail ini menyita banyak waktu dan konsentrasi pengrajin setiap harinya.

Pameran batik peranakan bertajuk Metamorfosa di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Pameran ini berlangsung pada 9 April-5 Mei 2026.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Pameran batik peranakan bertajuk Metamorfosa di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Pameran ini berlangsung pada 9 April-5 Mei 2026.

Pembuatan satu helai karya bergaya pesisiran Cirebon, misalnya, umumnya menghabiskan waktu penyelesaian hingga berbulan-bulan.

Jika dihitung menggunakan standar upah harian, biaya produksinya dipastikan langsung membengkak. Upah harian yang terkesan kecil akan berlipat ganda seiring lamanya durasi penyelesaian selembar kain. Belum lagi jika corak yang diminta konsumen memiliki tingkat kerumitan yang tinggi.

"Makanya batik tulis itu agak mahal," ujar Giok.

Baca juga: Makna Mendalam Batik Jaga Rawat Bumi Karya Dave Tjoa, Suarakan Krisis Lingkungan

Bekerja harmonis dengan alam

Nilai jual karya seni ini juga sangat dipengaruhi oleh besarnya faktor ketidakpastian. Selama proses pewarnaan, seniman ahli sekalipun tidak akan pernah bisa memprediksi seratus persen hasil akhirnya.

Reaksi bahan kimia pewarnaan sangat bergantung pada kondisi cuaca dan intensitas pancaran cahaya matahari. Tidak heran jika produk buatan tangan ini tidak pernah identik satu sama lain.

Pameran batik peranakan bertajuk Metamorfosa di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Pameran ini berlangsung pada 9 April-5 Mei 2026.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Pameran batik peranakan bertajuk Metamorfosa di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Pameran ini berlangsung pada 9 April-5 Mei 2026.

Risiko kegagalan warna akibat cuaca buruk sering kali menuntut pengrajin batik untuk memutar otak atau mengulang pekerjaan. Hal inilah yang menambah eksklusivitas sehelai kain batik tulis, termasuk batik peranakan Tionghoa.

"Pekerjaan dengan batik itu adalah pekerjaan dengan alam. Kalau hujan melulu, kalau kita pakai chemical tertentu, dia tidak bisa menjadi bagus," jelas Dave.

Baca juga: Menelusuri Jejak Sejarah Batik Peranakan di Pameran Metamorfosa

Apresiasi tanpa menawar sadis

Mengingat durasi proses produksi yang amat panjang, serta tingginya modal, wajar rasanya jika batik tulis bernilai tinggi.

Menurut Dave dan Giok, praktik tawar-menawar harga yang terlalu ekstrem dinilai kurang menghargai jerih payah para pembatik.

Penurunan penawaran harga beli yang terlalu jauh dipastikan akan mengganggu perputaran modal di dapur produksi.

Pembeli diharapkan memiliki pemahaman bahwa membeli batik tulis sama halnya mengoleksi karya seni eksklusif.

Menawar harga memang wajar dalam transaksi jual beli tradisional di Indonesia. Namun, Dave mengimbau agar para pembeli tetap menggunakan akal sehat saat mengajukan penawaran.

"Kalau harganya Rp 1,5 juta, dan masih ditawar Rp 700.000, pingsan dia (pembuatnya)," pungkas Dave.

Baca juga: Cerita di Balik Batik Jaga Rawat Bhinneka Karya Dave Tjoa

Tag:  #harga #jutaan #batik #tulis #peranakan #masuk #akal

KOMENTAR