Studi Ungkap Orang yang Menikah Memiliki Risiko Kanker Lebih Rendah, Simak Penjelasannya
- Selama ini, banyak yang mengaitkan pernikahan dengan kesejahteraan mental, tetapi penelitian terbaru yang terbit dalam jurnal Cancer Research Communications, Rabu (8/4/2026), menyoroti dampaknya secara fisik.
"Dalam hal terkena kanker, menyematkan cincin di jari mungkin menawarkan lebih banyak perlindungan bagi wanita," tutur profesor di University of Virginia yang secara khusus mempelajari fenomena pernikahan, Dr. Brad Wilcox, menanggapi hasil temuan tersebut.
Lonjakan angka pada populasi lajang
Selama delapan tahun, ilmuwan menelusuri riwayat kesehatan orang dewasa berusia 30 tahun ke atas di 12 negara bagian di Amerika Serikat untuk melihat pola kerentanan penyakit tersebut.
Baca juga: Menikah Bikin Pria Panjang Umur, Bagaimana dengan Wanita?
Para peneliti menemukan fakta bahwa kaum pria yang belum pernah menikah mencatatkan tingkat kemunculan kanker hingga 68 persen lebih besar, melansir People, Sabtu (11/4/2026).
Angka persentase yang terbilang masif ini didapatkan dari hasil perbandingan bersama kelompok pria yang pernah membangun rumah tangga, yang mana kategori ini juga sudah mencakup mereka yang telah resmi bercerai secara hukum ataupun mereka yang menyandang status duda.
Fakta yang dinilai jauh lebih memprihatinkan justru terlihat secara nyata pada kelompok perempuan.
Para peneliti menemukan, wanita lajang memiliki tingkat kerentanan terkena kanker yang menembus angka 83 persen jauh lebih tinggi, jika disejajarkan dengan wanita yang sudah bersuami.
Tingginya selisih persentase ini memicu perhatian yang sangat besar di dunia kesehatan publik terkait pentingnya pengawasan gaya hidup.
Tipe penyakit yang kerap mendominasi
Laporan medis ini tidak sekadar memberikan angka persentase keseluruhan, melainkan juga merinci beberapa tipe penyakit spesifik yang kerap membayangi kelompok tanpa ikatan ini.
Kasus kanker yang berhubungan sangat erat dengan rutinitas konsumsi produk tembakau, seperti halnya kanker paru-paru dan kanker esofagus, ditemukan jauh lebih umum terjadi pada individu yang selalu melajang dalam hidupnya.
Baca juga: Tak Cukup Modal Cinta, Ini Kesiapan Mental Sebelum Menikah Menurut Psikolog
Selain masalah pernapasan, kesehatan sistem reproduksi juga menjadi sorotan tajam bagi tim penilai medis.
Pada kelompok kaum wanita, terlihat lonjakan angka insiden yang cukup mengkhawatirkan untuk jenis kanker endometrium dan kanker ovarium.
Kedua penyakit mematikan ini ternyata jauh lebih sering mendominasi perempuan yang belum terikat status perkawinan.
Alasan menurunnya ancaman kesehatan
Merespons fenomena medis yang tidak biasa ini, para peneliti sangat meyakini bahwa kaitan erat antara status berpasangan seseorang dan turunnya risiko penyakit didorong oleh berbagai faktor penting di keseharian mereka.
"Pernikahan mencerminkan ikatan sosial, ekonomi, dan kelembagaan yang langgeng yang dapat memengaruhi risiko kanker melalui berbagai mekanisme," papar para penulis studi tersebut di dalam laporan resmi mereka.
Tim peneliti menjelaskan melanjutkan, seseorang yang hidup menetap dengan pasangan cenderung mempraktikkan gaya hidup yang jauh lebih positif.
Perilaku sehat di dalam rumah tangga ini biasanya terwujud dalam bentuk penurunan kebiasaan menggunakan tembakau dan sangat minimnya asupan alkohol harian.
Berbanding terbalik dengan hal tersebut, populasi yang melajang terindikasi lebih enggan untuk mencari perawatan medis secara mandiri.
Mereka secara signifikan terbukti lebih jarang menjalani pemeriksaan penapisan rutin atau skrining kanker guna mendeteksi keberadaan penyakit lebih awal.
Kelompok lajang harus waspada
Angka pernikahan di kawasan Amerika Serikat memang tercatat terus merosot tajam selama kurun waktu dua dekade terakhir.
Di Indonesia sendiri selama satu dekade terakhir, lanskap pernikahan di Indonesia pun turut mengalami perubahan signifikan seperti Negeri Paman Sam.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada 2014, jumlah pernikahan masih berada di angka sekitar 2,1 juta peristiwa. Sepuluh tahun kemudian, pada 2024, jumlah tersebut menyusut hingga mendekati 1,4 juta.
Mesi demikian, tim peneliti mengatakan bahwa hasil dari studi analitis ini tidak menyatakan bahwa menikah secara otomatis akan menjauhkan seseorang dari kanker, atau berarti kehidupan rumah tangga adalah suatu kebutuhan.
Baca juga: 9 Tanda Kamu Siap Menikah, Cek Sebelum Ambil Keputusan Besar
Penulis studi sekaligus direktur asosiasi untuk ilmu kependudukan di Sylvester Comprehensive Cancer Center, bagian dari University of Miami Miller School of Medicine, Dr. Frank Penedo, memberikan penegasan penting.
"Artinya, jika kamu tidak menikah, kamu harus memberikan perhatian ekstra pada faktor risiko kanker, menjalani skrining apa pun yang mungkin kamu perlukan, dan selalu mengikuti perkembangan perawatan kesehatan," tutur dia secara tertuils.
"Untuk upaya pencegahan, temuan kami menunjuk pada pentingnya menargetkan kesadaran risiko kanker dan strategi pencegahan dengan memperhatikan status perkawinan," pungkas Penedo.
Tag: #studi #ungkap #orang #yang #menikah #memiliki #risiko #kanker #lebih #rendah #simak #penjelasannya