Sering Meragukan Diri dan Intuisi Sendiri? Mungkin Ini penyebabnya
Ilustrasi keraguan dari dalam diri(Linkedin)
11:05
8 April 2026

Sering Meragukan Diri dan Intuisi Sendiri? Mungkin Ini penyebabnya

- Saat dihadapkan pada sebuah pilihan, setiap orang pasti memantapkan langkah dengan mengikuti kata hati. Namun, ada beberapa yang justru berpaling untuk mencari validasi dari orang-orang terdekat.

Kebiasaan mengandalkan pihak luar untuk memverifikasi seluruh pikiran dan tindakan ini kerap dikenal dengan istilah pengecekan akal sehat, atau sense-checking. Dengan kata lain, kita meragukan diri dan intuisi sendiri.

Psikolog klinis Chu Hui Cha, PhD mengatakan, pada pandangan pertama, kebiasaan meminta pendapat ini terlihat wajar dan seolah mendukung kelancaran komunikasi.

“Tetapi ketika hal ini mulai menyerupai perilaku seseorang yang berjuang dengan kecemasan berlebihan, kita harus mundur selangkah dan mencari tahu apakah kecemasan perlu dikelola dengan cara yang lebih efektif daripada mendapatkan penegasan terus-menerus dari orang lain,” ucap dia, mengutip Real Simple, Selasa (7/4/2026).

Baca juga: 6 Cara Menenangkan Diri Saat Kecemasan Timbul

Penyebab suka meragukan diri sendiri

Bayangkan saat kamu baru memulai masa pendekatan dengan seseorang. Rasa gugup kerap memuncak saat berkirim pesan, sehingga kamu merasa perlu bertanya kepada sahabat mengenai kalimat yang tepat untuk dikirimkan.

Hal serupa juga umum terjadi di lingkungan kerja baru,  ada rasa segan dan takut berbicara dengan atasan sebelum mematangkan konsep percakapan.

“Pengecekan ulang sering kali merupakan bentuk pencarian kepastian, yang didorong oleh kecemasan atau kewaspadaan berlebihan dalam hubungan,” jelas terapis trauma somatik Chloë Bean, LMFT.

Sebagai makhluk sosial, kamu selalu memikirkan dampak dari setiap interaksi sosial yang dilakukan.

Pakar kesehatan mental Daryl Appleton, EdD, MEd, CAGS, LMHC, menuturkan, kebiasaan meminta pendapat pihak lain ini membantu memverifikasi apakah ucapan nantinya bisa diterima oleh norma sosial yang berlaku atau tidak.

Baca juga: 6 Kebiasaan yang Bisa Memicu Kecemasan, Salah Satunya People Pleasing

1. Keinginan untuk menghindari penolakan

Kekhawatiran akan penilaian buruk dari lingkungan sangat memengaruhi kondisi psikologis. Cha mengatakan, setiap orang takut dinilai secara negatif.

Orang yang terbiasa menyenangkan pihak lain kerap mencemaskan nada bicara mereka pada sebuah pesan singkat, murni karena takut dibenci.

Rasa takut berbuat salah bahkan berlaku untuk urusan sepele sekalipun, seperti keliru menyebutkan nama seorang figur publik.

“Dengan meminta pendapat seseorang, mereka mencari kepastian dan validasi,” terang Cha.

Jika kamu memiliki riwayat trauma masa lalu yang penuh kritik atau konflik perselisihan, sensitivitas sistem saraf terhadap ancaman penolakan atau pengabaian akan meningkat secara drastis.

“Bahkan komunikasi kecil pun dapat terasa seperti peluang yang berisiko tinggi,” tambah Bean.

Baca juga: Jangan Remehkan Perbedaan, Bisa Jadi Sumber Konflik dalam Hubungan

2. Tidak nyaman menghadapi ketidakpastian

Otak manusia secara otomatis merespons situasi ambigu sebagai sebuah ancaman nyata. Menurut Appleton, contoh nyatanya adalah ketika atasan meminta dokumen laporan tanpa panduan format yang jelas.

Contoh lainnya adalah kawan lama mengajak bertemu tanpa menetapkan waktu spesifik. Meminta opini pihak luar merupakan jalan pintas yang sering diambil untuk meredam kebingungan.

“Dalam hal ini, ini lebih tentang mendapatkan kelegaan daripada menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut,” ucap Appleton.

3. Ada terlalu banyak keputusan yang harus dibuat

Setiap harinya, manusia dipaksa mengeksekusi ratusan pilihan kecil, mulai dari sekadar menentukan menu sarapan hingga tontonan televisi sebelum tidur.

Semakin banyak opsi yang wajib diambil, kepercayaan terhadap kemampuan nalar sendiri malah semakin terkikis dan memudar.

Baca juga: Dibanding Perempuan, Keputusan Finansial Pria Lebih Sering Dipengaruhi Emosi

Dampak Buruk Pengecekan Berlebih

Meminta bantuan untuk mengoreksi draf pesan atau sekadar memeriksa email memang tergolong lumrah pada batas tertentu guna meredakan kepanikan sementara.

“Manusia adalah pembelajar sosial, dan itu membantu membangun kecerdasan emosional secara langsung,” terang Appleton.

Namun, jika dipraktikkan terus-menerus tanpa henti, harga dirimu berisiko hancur perlahan.

“Seiring waktu, hal itu dapat memperkuat siklus pengalihan regulasi dan validasi, sekaligus memperkuat keyakinan bahwa kamu tidak dapat mempercayai suaramu sendiri,” sambung Bean.

Sikap terlalu mawas diri akan membuat kita sering menahan diri untuk bersikap jujur apa adanya dalam berinteraksi.

Terlalu fokus mengucapkan hal yang dianggap "benar" akan membuat diri merasa lelah dan kesulitan membangun interaksi autentik.

Pada akhirnya, orang lain pun akan merasa tidak mengenal jati diri yang sesungguhnya karena kamu selalu bersembunyi di balik validasi pihak lain.

Baca juga: Kecemasan Masa Kecil Bisa Sebabkan Anak Alami OCD Saat Dewasa

Tag:  #sering #meragukan #diri #intuisi #sendiri #mungkin #penyebabnya

KOMENTAR