Mengapa Perempuan Mudah Insecure dengan Perasaannya Sendiri?
Ilustrasi perempuan malu-malu.(Dok. Unsplash/khanhtu1810)
18:50
28 Maret 2026

Mengapa Perempuan Mudah Insecure dengan Perasaannya Sendiri?

- Perempuan sering dikenal lebih peka dan terbuka dalam mengekspresikan emosi. Namun di balik kemampuan tersebut, tidak sedikit yang justru merasa tidak yakin atau insecure terhadap perasaan mereka sendiri.

Fenomena ini bukan tanpa alasan. Menurut psikoterapis Dr Chandni Tugnait, banyak perempuan sebenarnya mengalami kesulitan untuk merasa aman dengan emosi yang mereka rasakan.

“Perasaan bukanlah masalah yang harus dibenarkan. Perasaan adalah sinyal bahwa sesuatu itu penting,” katanya, seperti dikutip Only My Health, Sabtu (28/3/2026).

Baca juga: 9 Ciri Orang Insecure Menurut Psikolog, Sulit Menerima Pujian

Lantas, mengapa perempuan lebih mudah merasa insecure dengan emosinya sendiri?

Penyebab perempuan lebih mudah merasa insecure 

Kebiasaan meragukan diri sendiri sejak hal kecil

Salah satu penyebab utama perempuan merasa insecure adalah kebiasaan meragukan perasaan sendiri. Hal ini sering dimulai dari situasi sederhana yang tampak sepele, tetapi terjadi berulang kali.

“Ini sering dimulai dari momen kecil, seperti ketika seorang perempuan merasa terluka setelah percakapan, tetapi langsung mengatakan pada dirinya sendiri bahwa mungkin ia terlalu berlebihan,” tutur Tugnait.

Ia menambahkan, ketika merasa marah atas sesuatu yang tidak adil, banyak perempuan justru menahan atau meredam emosinya agar tidak terlihat berlebihan.

Seiring waktu, kebiasaan ini menciptakan jarak antara apa yang sebenarnya dirasakan dengan apa yang diizinkan untuk diakui. 

Perempuan menjadi terbiasa mengedit emosinya sendiri sebelum benar-benar memahaminya.

Akibatnya, muncul rasa tidak stabil secara emosional dan keraguan terhadap validitas perasaan sendiri. Inilah yang kemudian memicu rasa insecure dari dalam diri.

Tekanan label sosial terhadap ekspresi emosi perempuan

Faktor lain yang berperan besar adalah bagaimana masyarakat memandang emosi perempuan. 

Tidak jarang, perempuan berada dalam posisi serba salah saat mengekspresikan perasaannya.

“Sebagian hal ini berasal dari bagaimana emosi perempuan sering diartikan dalam masyarakat. Ketika perempuan mengekspresikan frustrasi, mereka bisa dianggap terlalu emosional. Jika berbicara tegas, mereka bisa disebut agresif,” terang Tugnait.

Baca juga: Cara Cinta Laura Atasi Insecure dan Membangun Percaya Diri

Label semacam ini membuat banyak perempuan mulai mengontrol dirinya secara berlebihan. 

Mereka memikirkan bagaimana respons orang lain sebelum benar-benar mengekspresikan perasaan yang jujur.

Kondisi ini menciptakan tekanan internal yang besar. Perempuan tidak hanya merasakan emosi, tetapi juga harus menilai apakah emosi tersebut pantas untuk ditunjukkan.

Dalam jangka panjang, hal ini membuat perempuan kehilangan kepercayaan terhadap emosinya sendiri dan merasa tidak aman untuk mengekspresikannya.

Peran sebagai penjaga keharmonisan dalam hubungan

Sejak kecil, banyak perempuan diajarkan untuk menjadi penyeimbang dalam hubungan, baik di keluarga, pertemanan, maupun percintaan. Mereka sering dianggap sebagai penjaga keharmonisan.

“Mereka cepat menyadari ketegangan dan berusaha menyelesaikannya sebelum membesar,” ungkap Tugnait.

Kemampuan ini memang membangun empati yang tinggi, tetapi juga menciptakan tekanan emosional. 

Perempuan menjadi lebih fokus pada perasaan orang lain dibandingkan dirinya sendiri.

Ketika terus-menerus memprioritaskan kenyamanan orang lain, perasaan pribadi bisa terasa kurang penting. 

Bahkan, tidak jarang perempuan merasa bersalah ketika ingin mengungkapkan emosi negatifnya.

Akibatnya, muncul konflik batin yang membuat perempuan semakin ragu terhadap emosinya sendiri, sehingga memicu rasa insecure.

Ekspektasi untuk selalu stabil dan kuat secara emosional

Perempuan juga kerap dihadapkan pada ekspektasi untuk selalu sabar, pengertian, dan kuat dalam berbagai situasi. Hal ini membuat mereka merasa tidak nyaman saat mengalami emosi yang dianggap negatif.

“Perempuan sering diharapkan untuk tetap sabar, memahami, dan suportif. Ketika mereka merasa marah, lelah, atau kecewa, hal itu terasa tidak nyaman untuk diungkapkan secara terbuka,” jelas Tugnait.

Emosi tersebut sering kali ditekan, diperkecil, atau ditunda. Padahal, emosi seperti marah atau kecewa adalah bagian normal dari pengalaman manusia.

Ketika emosi tidak diakui dengan jujur, perempuan bisa merasa tidak autentik terhadap dirinya sendiri. 

Hal ini memperkuat rasa insecure karena ada ketidaksesuaian antara apa yang dirasakan dan apa yang ditampilkan.

Secara keseluruhan, rasa insecure terhadap emosi pada perempuan dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal dan eksternal, mulai dari kebiasaan meragukan diri hingga tekanan sosial yang kompleks.

Namun, langkah awal untuk mengatasinya adalah dengan belajar menerima emosi tanpa langsung menghakimi diri sendiri. 

Dengan memahami bahwa setiap emosi memiliki makna, perempuan dapat mulai membangun hubungan yang lebih sehat dengan dirinya sendiri.

 Baca juga: Berawal dari Insecure, Cerita Nindy Turun 39 Kg Lewat Diet Mandiri

Tag:  #mengapa #perempuan #mudah #insecure #dengan #perasaannya #sendiri

KOMENTAR