Negara-negara Paling Terdampak Blokade Selat Hormuz, Indonesia Termasuk
Langkah Amerika Serikat memberlakukan blokade di Selat Hormuz setelah gagalnya perundingan dengan Iran memukul ekonomi berbagai negara
Menurut laporan terbaru dari bank investasi Jepang Nomura, sebagaimana dilansir Al Jazeera, Rabu (15/4/2026), kawasan yang paling terdampak ketegangan di Teluk Persia adalah negara-negara Asia (kecuali China), disusul Eropa.
Di antara negara yang paling rentan sebagai importir energi bersih adalah Thailand, India, Indonesia, Filipina, Jerman, Italia, dan Inggris. Ketergantungan tinggi terhadap impor energi membuat negara-negara ini sangat sensitif terhadap gangguan pasokan.
Baca juga: Masih Mampukah Iran Ekspor Minyak Saat AS Blokade Selat Hormuz?
Namun, dampak dinilai lebih terbatas bagi ekonomi besar seperti Amerika Serikat dan China, serta negara lain seperti Kanada, Norwegia, Spanyol, Korea Selatan, Malaysia, dan Singapura.
Meski demikian, platform data energi Energy World Mag mengingatkan kerentanan tertentu.
Mereka menyatakan, “Lebih dari 97 persen energi Singapura berasal dari bahan bakar fosil, sehingga negara tersebut tidak memiliki alternatif jika impor gas atau minyak terganggu.”
Ketergantungan tinggi pada energi Timur Tengah
Nomura mencatat bahwa lebih dari 90 persen impor minyak mentah Jepang dan Filipina berasal dari Timur Tengah.
Sementara itu, sekitar 60 persen pasokan gas alam cair (LNG) India juga bersumber dari kawasan tersebut, meningkatkan risiko akibat konsentrasi pasokan.
Di Eropa, ketergantungan juga cukup signifikan. LNG dari Qatar menyumbang sekitar 10 persen konsumsi gas Italia, sementara minyak dari Timur Tengah mencapai sekitar 12 persen impor minyak mentah negara tersebut tahun lalu.
Pada 2024, sekitar 45 persen pasokan LNG Italia bergantung pada impor dari Qatar, menurut data pemerintah AS.
Nomura memperkirakan kenaikan harga energi sebesar 10 persen dapat menurunkan produk domestik bruto (PDB) negara-negara zona euro sebesar 0,2 poin persentase secara kumulatif dalam dua tahun.
Dampak terhadap China dan Amerika Serikat
Sekitar 65 persen impor minyak mentah China melalui jalur laut berasal dari Timur Tengah.
Namun, perusahaan intelijen pasar Kpler menilai dampaknya dapat ditekan berkat diversifikasi energi, cadangan batu bara yang besar, serta stok minyak strategis yang dimiliki negara tersebut.
Baca juga: 24 Jam Blokade Selat Hormuz: Pelabuhan Iran Lumpuh, Negosiasi Berpeluang Lanjut
Di sisi lain, Amerika Serikat sebagai produsen minyak besar hanya mengimpor sekitar 8 persen minyak mentahnya dari kawasan Teluk Persia pada tahun lalu, berdasarkan data Administrasi Informasi Energi AS.
Harga minyak berpotensi melonjak
Ilustrasi minyak bumi.
Harga minyak mentah Brent tercatat naik hingga mendekati 99 dollar AS (sekitar Rp 1,6 juta) per barrel pada Selasa sore, dari sekitar 75 dollar AS (sekitar Rp 1,7 juta) saat Amerika Serikat dan Iran mengumumkan gencatan senjata pada 7 April. Para pelaku pasar energi memperingatkan harga bisa melonjak lebih tinggi.
Direktur pelaksana Onyx Capital Group, Jorge Montepeque, mengatakan kepada Bloomberg Television bahwa blokade AS dapat memperluas konflik. Ia menyebut langkah tersebut berpotensi mengubah konflik regional menjadi global, dengan kemungkinan menghilangkan hingga 12 juta barrel minyak per hari dari pasar.
Para eksekutif pasar minyak bahkan memperkirakan harga dapat melonjak hingga kisaran 140 dollar AS hingga 150 dollar AS (sekitar Rp 2,3 juta hingga Rp 2,5 juta) per barrel jika blokade terus berlanjut.
Baca juga: Korsel Dapat 273 Juta Barrel Minyak dari 4 Negara yang Tak Lewati Selat Hormuz
Tag: #negara #negara #paling #terdampak #blokade #selat #hormuz #indonesia #termasuk