4 Tanda Pasangan Belum Siap Jadi Orangtua, Apa Saja?
- Hubungan jangka panjang sering kali diukur melalui berbagai tonggak pencapaian besar, mulai dari tinggal bersama, jenjang pernikahan, hingga keputusan memiliki anak.
Namun, menjalani peran sebagai orangtua bersama pasangan yang belum matang secara emosional kelak, bisa menjadi mimpi buruk.
Terapis pernikahan dan keluarga berlisensi di California, Amerika Serikat (AS), Annie Wright, mengungkapkan, tidak ada cara pasti untuk memprediksi masa depan.
Namun, ia menyarankan untuk memperhatikan reaksi pasangan saat menghadapi stres atau situasi yang tidak nyaman, dan tanda lainnya, untuk mengetahui apakah pasangan sudah siap atau belum menjadi orangtua jika berkeluarga nanti.
Baca juga: 11 Ciri Pasangan Bakal Jadi Orangtua yang Baik, Termasuk Punya Keterampilan Menyelesaikan Konflik
Berikut tanda pasangan belum siap orangtua, setidaknya dalam waktu dekat, dikutip dari Business Insider, Minggu (22/2/2026).
Tanda pasangan belum siap menjadi orangtua
1. Punya masalah kemarahan
Ilustrasi bertengkar.
Setiap orang pasti pernah merasa stres. Namun, jika pasanganmu kesulitan mengendalikan emosinya, Wright menyarankan agar kamu meninjau kembali apa yang selama ini dianggap sebagai standar perilaku yang wajar, terutama jika pasangan meluapkan kemarahan dengan berteriak atau mengamuk.
Meskipun kamu mungkin merasa tidak terganggu dengan perilaku tersebut, dampaknya akan berbeda bagi anak kelak.
"Jika ada pasangan dengan kemarahan eksplosif yang berteriak, menghentak, melempar barang, hingga memukul dinding, itu akan sangat menakutkan bagi seorang anak," kata Wright.
Lebih lanjut, orangtua yang reaktif dapat memengaruhi cara anak mengelola perasaan mereka sendiri, serta membentuk persepsi mereka tentang bagaimana mereka layak diperlakukan oleh pasangan atau teman di masa depan.
2. Terlalu kritis terhadap diri sendiri dan orang lain
Menurut Wright, jika pasangan terus-menerus mencari kesalahan kecil pada dirimu, teman-teman, atau bahkan dirinya sendiri, itu adalah tanda kuat bahwa mereka akan memperlakukan anakmu dengan cara yang sama.
Ilustrasi bertengkar.
"Kamu tidak akan pernah melihat orang yang sangat berbelas kasih, hangat, dan menerima diri sendiri, kemudian berbalik menjadi sangat kritis dan kasar, serta menghakimi anak mereka," ungkap Wright.
Baca juga: 10 Cara Menjadi Orangtua yang Lebih Dekat dengan Anak
Ia menyarankan agar kamu memerhatikan cara pasangan berbicara tentang orang lain, dan seberapa sering mereka menghakimi.
Seseorang yang menganggap orang lain sebagai "pecundang" atau layakk diejek karena kesalahan sepele, kemungkinan besar akan menjadi orangtua yang perfeksionis dan terlalu kritis.
3. Tidak bisa menghadapi perubahan atau kekecewaan
Banyak orang bisa menjadi pasangan yang sangat romantis selama, tetapi mereka hanya menunjukkan sisi terbaiknya saja. Wright mengingatkan bahwa itu bukanlah kehidupan nyata.
"Bagaimana mereka merespons ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai keinginan mereka dapat mencerminkan bagaimana mereka nantinya di masa depan," jelas dia.
Misalnya, saat kamu sedang sakit dan tidak bisa diajak pergi berkencan, apakah mereka menghormati hal tersebut atau justru membuatmu merasa bersalah?
Jika ada keadaan darurat dalam keluarga sampai rencana menonton yang sudah disiapkan berbulan-bulan batal, apakah mereka peduli dengan keadaanmu atau justru sibuk mencari orang lain untuk diajak pergi?
Baca juga: Studi Ungkap Orangtua Rentan Kehilangan Identitas Diri Setelah Punya Anak
Ilustrasi kesal.
"Seberapa besar empati yang mereka miliki untuk kita dibandingkan dengan seberapa banyak mereka mempermalukan dan menyalahkan kita?" kata Wright.
Hal ini krusial karena mengasuh anak, dan proses menua pada umumnya, melibatkan pasang surut yang harus dihadapi dengan bijaksana.
4. Menghilang saat kamu sangat membutuhkannya
Dalam hubungan yang sehat, pasangan bisa berargumen dengan dan saling mendukung di masa sulit.
Namun, jika pasangan tidak mampu berkompromi atau enggan membantu suatu urusan saat kamu sedang stres dengan pekerjaan, Wright memperingatkan bahwa kondisi ini akan memburuk saat ada anak.
Mereka berisiko menjadi orangtua yang absen secara emosional karena enggan menghadapi perasaan yang tidak nyaman. Selain itu, hidup penuh dengan kejutan yang tidak menyenangkan seiring bertambahnya usia, seperti penyakit, kecelakaan, atau duka.
"Siapa orang ini ketika keadaan tidak ideal dapat memberikan gambaran tentang siapa mereka nantinya sebagai orangtua maupun bukan orangtua," ujar Wright.
Bahkan jika pada akhirnya kamu tidak memiliki anak bersama, kecurigaan bahwa pasanganmu tidak bisa memperlakukan anak dengan rasa hormat dan kebaikan, bisa menjadi pertanda awal bahwa kamu berada dalam hubungan yang salah sejak awal.
Baca juga: Kedekatan Emosional dengan Orangtua Jadi Fondasi Ketahanan Mental Anak