Project Freedom Buyar dalam Hitungan Jam, Internal Trump Dinilai Plin-plan soal Iran
Pembatalan operasi Project Freedom oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump menimbulkan asumsi inkonsistensi di internal Gedung Putih.(GETTY IMAGES NORTH AMERICA/JOE RAEDLE via AFP)
10:18
7 Mei 2026

Project Freedom Buyar dalam Hitungan Jam, Internal Trump Dinilai Plin-plan soal Iran

Amerika Serikat dan Iran sempat kembali memanas setelah munculnya rencana militer bernama “Project Freedom” yang digadang-gadang akan membuka blokade Iran di Selat Hormuz. 

Namun, dalam waktu yang sangat singkat, operasi yang sebelumnya diumumkan dengan percaya diri itu justru dihentikan oleh Presiden Donald Trump.

Hal itu seketika memicu kebingungan di internal pemerintahan AS, yang kemudian mempertanyakan arah kebijakan Washington dalam konflik tersebut.

Baca juga: Tak Biasa, Iran Dilaporkan Mau Pakai Lumba-lumba Pembawa Ranjau demi Terobos Blokade AS

Gembar-gembor operasi “Project Freedom”

Helikopter Apache AH-64 terbang saat berpatroli di Selat Hormuz pada 17 April 2026, di tengah perang Iran melawan Amerika Serikat-Israel, yang berujung blokade jalur air strategis tersebut.US CENTRAL COMMAND (CENTCOM) via AFP Helikopter Apache AH-64 terbang saat berpatroli di Selat Hormuz pada 17 April 2026, di tengah perang Iran melawan Amerika Serikat-Israel, yang berujung blokade jalur air strategis tersebut.

Dalam sebuah pertemuan di Gedung Putih, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menjelaskan bahwa Amerika Serikat memasuki fase baru dalam konflik dengan Iran. 

Ia menyebut operasi militer tersebut sebagai langkah “defensif” untuk membuka blokade di Selat Hormuz yang disebut telah mengganggu pasokan minyak global sejak perang dimulai.

Rubio juga menyatakan bahwa operasi sebelumnya, “Operation Epic Fury”, telah berakhir dan digantikan dengan “Project Freedom”.

“Kami sekarang memasuki proyek kebebasan ini,” katanya, seperti dikutip The Telegraph, Rabu (6/5/2026).

Pernyataan itu disampaikan pemerintah AS untuk meyakinkan publik bahwa operasi tersebut akan memperlancar jalur kapal tanker, menstabilkan pasar, dan mengurangi dampak ekonomi domestik.

Narasi berbeda di internal pemerintahan

Namun, narasi berbeda muncul dari Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Ia menggambarkan operasi pengawalan kapal oleh kapal perusak AS, yang didukung jet tempur, helikopter, dan drone, sebagai bagian dari misi kemanusiaan.

Meski Iran terus melancarkan serangan rudal, Hegseth menegaskan bahwa situasi tidak sedang mengarah pada eskalasi baru.

Ia berkata, “Kami tidak mencari pertempuran.”

Pernyataan ini kontras dengan sikap sebelumnya dari pemerintahan yang sama, yang selama berbulan-bulan menekankan kekuatan militer AS dan serangan terhadap ribuan target di Iran.

Project Freedom mandek dalam hitungan jam

Hanya beberapa jam setelah penjelasan resmi tersebut, Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa Project Freedom dihentikan sementara untuk memberi ruang negosiasi dengan Iran.

Melalui Truth Social, ia menulis, “Kami telah sepakat bahwa, meskipun blokade akan tetap berlaku penuh, Project Freedom (pergerakan kapal melalui Selat Hormuz) akan dihentikan sementara untuk melihat apakah kesepakatan dapat diselesaikan dan ditandatangani.”

Baca juga: Coba Terobos Blokade AS, Kapal Tanker Iran Dilaporkan Ditembaki

Keputusan ini langsung membalikkan narasi yang sebelumnya disampaikan para pejabat seniornya, dan memunculkan kebingungan di internal pemerintahan.

Seorang sumber yang dekat dengan presiden menyebut situasi tersebut sebagai sesuatu yang sangat memalukan.

Kebingungan internal

Perubahan mendadak ini memperkuat kesan adanya ketidaksinkronan dalam kebijakan AS terhadap Iran. 

Dalam beberapa bulan terakhir, Trump beberapa kali mengirim sinyal yang berbeda terkait arah negosiasi.

Ia sebelumnya menyebut kesepakatan dengan Iran “hampir tercapai”, namun hanya 48 jam kemudian mengatakan bahwa kesepakatan itu tidak mungkin dilakukan.

Wakil Presiden JD Vance juga sempat ditugaskan memimpin putaran baru pembicaraan damai, tetapi rencana perjalanan diplomatik itu dibatalkan pada 21 April. 

Iran kemudian menyatakan, tidak akan melanjutkan negosiasi yang sedang direncanakan.

Di sisi lain, Gedung Putih disebut berada di bawah tekanan untuk menyelesaikan konflik sebelum pertemuan penting dengan Presiden China Xi Jinping.

Seorang sumber militer AS mengatakan, “Iran berantakan... kami hanya bermain waktu di sana untuk mencapai kesepakatan yang bisa mengklaim sebagian kemenangan.”

Sementara itu, mantan pejabat pemerintahan menilai pola keputusan Trump semakin sulit diprediksi.

Ia mengatakan: “Rentang perhatiannya yang pendek membuatnya dalam masalah. Dia hanya berharap sesuatu bisa membantunya keluar.”

Di tengah ketidakpastian tersebut, laporan menyebut adanya rancangan kesepakatan awal antara AS dan Iran. Kesepakatan itu mencakup penghentian sementara pengayaan nuklir oleh Iran serta pembukaan kembali dana Iran yang dibekukan oleh AS.

Namun, proposal itu dinilai mirip dengan kesepakatan era Barack Obama pada 2016 yang sebelumnya dikritik keras oleh Trump.

Meski Iran telah mengalami tekanan militer dan ekonomi, laporan menyebut program nuklirnya hanya tertunda, bukan dihentikan, sementara negara itu tetap bertahan di tengah konflik.

Baca juga: Trump Melunak, AS-Iran Makin Dekati Akhir Perang

Tag:  #project #freedom #buyar #dalam #hitungan #internal #trump #dinilai #plin #plan #soal #iran

KOMENTAR