UEA Keluar OPEC, Masalah Besar Menanti Teluk
– Keputusan Uni Emirat Arab (UEA) keluar Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) diprediksi menjadi awal dari masalah yang lebih besar bagi stabilitas kawasan Teluk.
UEA akan secara resmi keluar pada Jumat (1/5/2026) dan dinilai para pengamat sebagai sinyal keretakan mendalam dalam Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).
Direktur Pusat China-Timur Tengah di Universitas Shaoxing Fan Hongda memberikan peringatan keras bahwa penarikan diri ini bisa menjadi alarm serius.
Baca juga: Rusia Tanggapi Keluarnya UEA dari OPEC, Berpotensi Turunkan Harga Minyak Global
Dia menilai keputusan ini sangat berisiko, terutama mengingat situasi geopolitik yang memanas.
"Sangat disayangkan bahwa negara yang dulunya makmur ini gagal belajar dari serangan sengit yang dideritanya pada tahap awal perang Iran ini. Tampaknya UEA telah memilih pihak yang salah," tambah Fan, sebagaimana dilansir SCMP, Kamis (30/4/2026).
Sementara itu, pakar dari Council on Foreign Relations Steven Cook menyebutkan bahwa keluarnya UEA memberikan pukulan simbolis bagi OPEC.
OPEC sebagai aliansi ekonomi memang sudah tertekan oleh perang regional dan diplomasi yang retak.
Baca juga: Israel Kirim Iron Dome ke UEA, Sinyal Aliansi Baru di Timur Tengah?
Cook memperingatkan bahwa keputusan UEA, yang mengikuti jejak Qatar, Ekuador, dan Angola yang keluar lebih dulu dari OPEC, dapat memicu keraguan di kalangan anggota lain.
"Hal ini bisa membayangkan anggota lain untuk mempertimbangkan apakah mereka akan lebih baik tanpa kartel tersebut," tulisnya.
Secara teknis, Kementerian Infrastruktur UEA menyatakan pengunduran diri ini didasarkan pada kepentingan nasional untuk memenuhi permintaan pasar global, dengan target kapasitas produksi mencapai 5 juta barel per hari pada 2027.
Namun, di balik target angka tersebut, keputusan politik ini dinilai telah menempatkan UEA pada posisi yang rentan di tengah ketegangan geopolitik yang belum mereda.
Baca juga: Asia Diuntungkan Usai UEA Keluar dari OPEC, Kok Bisa?
Retaknya solidaritas Teluk
Pengunduran diri UEA juga dipandang sebagai hantaman telak bagi persatuan negara-negara Arab di Teluk.
Sun Degang, Direktur Pusat Studi Timur Tengah di Universitas Fudan, menyebutkan bahwa GCC kini berada dalam ancaman serius.
"Langkah ini akan memberikan pukulan signifikan bagi OPEC dan juga secara serius merusak integrasi GCC," ujar Sun.
Menurut Sun, keputusan ini mempertebal persaingan sengit antara dua kekuatan utama, yakni Arab Saudi dan UEA.
Baca juga: AS Berisiko Kena Imbas Keluarnya UEA dari OPEC, Untung atau Rugi?
Meski keduanya merupakan sekutu lama, kini mereka terjebak dalam persaingan ekonomi yang homogen karena sama-sama berusaha beralih dari ketergantungan minyak ke ekonomi non-minyak.
Selain persaingan ekonomi, Sun mencatat adanya kekecewaan mendalam dari pihak Abu Dhabi terhadap aliansi regionalnya.
Saat UEA menjadi sasaran serangan rudal dan drone Iran, mereka merasa ditinggalkan oleh rekan-rekan di GCC.
"Dari perspektif UEA, kurangnya perlindungan dari sesama negara GCC telah menjadi sumber kekecewaan," kata Sun.
Hal inilah yang mendorong UEA untuk semakin menjauh dari tatanan regional yang dipimpin Saudi dan beralih mempererat kerja sama dengan Amerika Serikat (AS).
Baca juga: UEA Keluar dari OPEC, Tanda Keretakan Negara-negara Teluk