Mengukur Risiko Ranjau Laut di Selat Hormuz
Penulis: Carla Bleiker/DW Indonesia
Pada Jumat (17/4/2026), Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan, negaranya siap menyediakan bantuan pembersihan ranjau dan pengintaian maritim untuk membantu mengamankan Selat Hormuz.
"Kami dapat menyediakan kapal pembersih ranjau, kami ahli dalam hal itu,” kata Merz, sambil menambahkan bahwa intervensi semacam itu memerlukan "dasar hukum yang kuat.”
Pernyataan itu disampaikan setelah konsultasi dengan para pemimpin Eropa terkait kemungkinan misi multinasional dalam rangka mengamankan Selat Hormuz pascaperang.
Baca juga: Iran dan Keunggulan Strategisnya di Selat Hormuz
Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan, jalur perairan strategis itu "sepenuhnya terbuka” selama masa gencatan senjata Israel-Lebanon berlangsung.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump juga mengatakan, jalur itu "siap untuk dilalui sepenuhnya.” Namun sehari kemudian, Iran membatalkan keputusannya dan kembali menutup selat tersebut.
Bagaimanapun, lalu lintas maritim masih berisiko. Otoritas Iran sebelumnya mengindikasikan kemungkinan terdapat ranjau bawah laut di selat itu. Namun, para ahli belum sepenuhnya yakin.
"Kami bahkan belum yakin ada ranjau (di Selat Hormuz),” kata Johannes Peters, pakar peperangan bawah laut dari Institute for Security Policy di Universitas Kiel.
"Namun, ancaman itu sendiri sudah cukup (untuk menghalangi pelayaran). Untuk saat ini, tak seorang pun di zona perang benar-benar bisa pergi dan memeriksanya.”
Bagaimana cara kerja ranjau laut?
Ranjau laut merupakan alat peledak bawah air yang relatif murah dan dirancang untuk meledak ketika dipicu oleh kapal yang melintas di dekatnya. Berdasarkan penempatannya, terdapat tiga jenis utama:
- Ranjau hanyut (drifting mines) yang mengapung bebas di atau dekat permukaan air
- Ranjau tambat (moored mines) yang mengapung di bawah permukaan air dan diikat ke dasar laut
- Ranjau dasar (bottom mines) yang diletakkan di dasar laut.
Selama Perang Dunia II, ranjau tambat merupakan ranjau standar Angkatan Laut Inggris. Ranjau tersebut dilengkapi dengan sakelar yang memicu ledakan saat bersentuhan langsung dengan kapal. Teknologi ini meniru ranjau Jerman yang dikembangkan pada Perang Dunia I.
"Ranjau modern sudah sangat berbeda dari itu,” kata Peters kepada DW.
Mekanisme pemicu pada ranjau yang lebih baru tidak lagi memerlukan kontak langsung. Ranjau dapat dipicu oleh efek magnetik tertentu, gelombang suara bawah laut, atau perubahan tekanan air akibat kapal yang melintas.
Untuk memprogram ranjau agar menargetkan tipe kapal tertentu, "kapal selam dapat membantu menentukan profil akustik kapal musuh,” jelas Peters.
"Kapal musuh akan memicu ranjau lewat tanda akustiknya, sementara kapal sekutu dapat tetap melintas di area yang dipasangi ranjau tanpa gangguan.”
Pencarian bahan peledak yang memakan waktu
Proses pembersihan ranjau, yang mencakup pendeteksian dan penyapuan ranjau, bisa memakan waktu lama. Untuk mendeteksi ranjau, objek mencurigakan harus terlebih dahulu ditemukan, lalu para ahli menentukan apakah objek itu menimbulkan ancaman atau tidak.
Jika berbahaya, ada beberapa cara untuk menanganinya: ranjau bisa diangkat, dilucuti, atau diledakkan secara terkendali di bawah air. Peters membandingkan proses ini dengan "layanan penjinakan amunisi bawah air.”
Namun, perkembangan terbaru membuka peluang membersihkan ranjau tanpa membahayakan nyawa.
"Jika memungkinkan, kami menggunakan drone untuk mencari objek, lalu mengidentifikasi dan menghancurkannya,” kata tentara Ukraina, Mykola, kepada DW awal tahun ini.
Ia merupakan bagian dari satuan tugas Ukraina yang membersihkan ranjau laut di Laut Hitam yang dipasang Rusia dalam perang agresinya.
Baca juga: Taktik Iran Buka-Tutup Selat Hormuz, Apa Tujuannya?
Angkatan Laut Jerman: Berburu ranjau dengan drone
Angkatan Laut Jerman juga menggunakan drone untuk mendeteksi ranjau laut.
"Kami sebagian besar menggunakan sistem otonom untuk menyisir dasar laut,” kata Kapten Fregat Andreas dari Skuadron Penyapu Ranjau ke-3 Angkatan Laut Jerman kepada DW.
Demi alasan keamanan, hanya nama depannya yang boleh dipublikasikan.
"Dulu, kapal yang dilengkapi dengan sistem sonar harus melintas tepat di atas area yang diduga terdapat ranjau untuk mendeteksinya,” kata Andreas.
"Dengan sistem otonom, 40 nyawa itu tidak lagi harus ditempatkan pada situasi yang berisiko langsung."
Teknologi ini juga sangat mengurangi kebutuhan personel manusia. Drone secara mandiri mengirim rekaman dari dasar laut ke stasiun untuk dianalisis. Namun, manusia tetap dibutuhkan untuk membedakan antara sampah tak berbahaya dan ranjau mematikan, serta menentukan cara menangani bahan peledak yang ditemukan.
Menurut Andreas, penggunaan drone membuat Angkatan Laut secara keseluruhan lebih efisien. Namun, membersihkan suatu wilayah laut dari ranjau setelah perang tetap bisa memakan waktu puluhan tahun, bahkan lebih lama.
Artyom, penyapu ranjau Ukraina lainnya di Laut Hitam, membenarkan hal itu.
"Kami masih menemukan ranjau dari Perang Dunia II, bahkan beberapa dari Perang Dunia I,” katanya.
"Itu menunjukkan masih ada pekerjaan yang menanti kami di depan.”
Apakah penggunaan drone terlalu sulit di Selat Hormuz?
Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026. Trump Ungkap detik-detik kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Teluk Oman
Kapasitas baterai drone yang digunakan Angkatan Laut Jerman masih terbatas untuk dioperasikan di laut terbuka. Untuk saat ini, drone harus diluncurkan tidak jauh dari area yang akan disisir.
"Anda harus selalu berada di dekat area operasi,” kata Andreas.
"Itu akan sulit di kawasan sensitif seperti Selat Hormuz. Senjata Iran memiliki jangkauan jauh, dan kami harus melindungi personel kami.”
Sejumlah perusahaan kini mengembangkan drone yang dapat beroperasi lebih lama. Salah satunya Euroatlas dari Bremen, Jerman utara.
Perusahaan itu mengeklaim drone bawah air Greyshark saat ini mampu melaju 10 knot (18,5 kilometer per jam) selama enam jam, atau 4 knot selama tiga kali lebih lama.
Euroatlas mengumumkan versi otonom bertenaga baterai akan mulai diproduksi pada September 2026.
Produksi massal model berikutnya yang dilengkapi sistem sel bahan bakar untuk operasi hingga satu minggu diperkirakan dimulai akhir tahun.
Drone Greyshark berpotensi segera dikerahkan
Chief Sales Officer untuk autonomous underwater vehicles (AUV) di Euroatlas, Markus Beer, menjelaskan kepada DW bagaimana drone Greyshark dapat berguna dalam krisis di perairan Iran saat ini.
"Kapal di Selat Hormuz berisiko terkena serangan dari darat,” katanya, "Termasuk kapal pemburu ranjau. Namun, pengintaian bawah air (dengan drone) masih bisa dilakukan, tanpa risiko dan tanpa memperkeruh situasi.”
Beer menambahkan, keunggulan Greyshark adalah jangkauan operasinya yang lebih luas sehingga dapat diluncurkan dari jarak aman.
"Drone kecil yang saat ini digunakan untuk berburu ranjau hanya mampu bertahan beberapa jam,” katanya.
"Drone Greyshark bisa menjangkau jarak yang lebih jauh,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa drone ini juga mampu mengambil gambar beresolusi tinggi dan secara mandiri mengidentifikasi objek di dasar laut.
September lalu, Euroatlas mendemonstrasikan kemampuan drone bawah air Greyshark dalam ajang terkemuka dunia untuk menguji sistem maritim nirawak, Robotic Experimentation and Prototyping using Maritime Unmanned Systems (REPMUS), yang digelar di lepas pantai Portugal.
Baca juga: Militer AS Pakai Robot untuk Bersihkan Ranjau di Selat Hormuz
Artikel ini telah dimuat di DW Indonesia dengan judul Ancaman Ranjau di Selat Hormuz, Seberapa Berbahaya?