Era ''Laut Bebas'' Runtuh, Dunia Harus Bayar Harga Mahal Imbas Perang Iran
Kapal kargo Mayuree Naree dari Thailand yang diserang di Selat Hormuz Iran, terbakar pada 11 Maret 2026. Selat Hormuz ditutup imbas dari perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.(ROYAL THAI NAVY via AFP)
17:30
12 April 2026

Era ''Laut Bebas'' Runtuh, Dunia Harus Bayar Harga Mahal Imbas Perang Iran

Sistem perdagangan global yang selama lebih dari satu abad bergantung pada kebebasan pelayaran kini terguncang hebat akibat perang di Iran.

Selat Hormuz yang selama ini menjadi nadi ekonomi maritim dunia kini berada di bawah kendali ketat Teheran.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaut dan perusahaan pelayaran, tetapi juga oleh konsumen global yang harus bersiap menghadapi kenaikan harga dan gangguan pasokan.

Baca juga: AS Belum Tuntas Hancurkan Armada Iran, Kapal Kecil IRGC Masih Kuasai Hormuz

Selat Hormuz berubah jadi “gerbang berbayar”

Ilustrasi Selat Hormuz.Wikimedia Commons Ilustrasi Selat Hormuz.

Selat Hormuz, jalur selebar sekitar 30 mil yang mengalirkan seperlima minyak dan gas alam cair dunia, kini menjadi simbol kekacauan tatanan global baru, menurut The Wall Street Journal, Jumat (10/4/2026).

Iran menegaskan akan menentukan kapal mana yang boleh melintas dan dengan biaya tertentu, menciptakan apa yang disebut sebagai “gerbang tol Teheran”.

Ratusan kapal dengan muatan bernilai puluhan miliar dollar terjebak di sekitar wilayah tersebut, sementara para kapten dan operator kapal berusaha memahami aturan yang terus berubah.

Setelah serangan drone dan rudal selama berhari-hari, angkatan laut Iran bahkan memperingatkan melalui siaran radio, “Jika ada kapal yang mencoba melintas tanpa izin, akan dihancurkan.”

Hal ini menandakan bahwa jalur laut internasional yang sebelumnya bebas kini dapat dikontrol secara sepihak oleh satu negara.

Dampak global

Gangguan di Selat Hormuz langsung berdampak pada ekonomi global. Jika Iran terus mengenakan biaya bagi kapal tanker, maka harga bahan bakar akan terdorong naik secara permanen. Selain itu, risiko penghentian total aliran energi juga mengancam pasar global.

Biaya tambahan seperti asuransi perang dan bahan bakar kapal meningkat tajam, sementara jadwal pengiriman menjadi kacau.

Rantai pasok global yang selama ini mengandalkan kecepatan dan efisiensi kini menghadapi hambatan serius, membuat harga barang berpotensi naik di berbagai negara.

Pelaut terjebak dalam ketidakpastian

Di balik krisis ini, ribuan pelaut menghadapi kondisi yang semakin berat. Sekitar 20.000 pelaut terjebak, sebagian selama lebih dari 40 hari, dengan pasokan makanan yang menipis.

Kapten asal Suriah, Ali Kanafani, menggambarkan situasi penuh kebingungan di lapangan.

“Semuanya bingung,” ujarnya, sambil menunjukkan puluhan kapal yang masih menunggu izin untuk berlayar.

Baca juga: AS Disalahkan atas Gagalnya Negosiasi, Dinilai Mendikte Iran

Untuk menjaga semangat awak kapal, sebagian kapten mengisi waktu dengan aktivitas sederhana seperti olahraga atau bernyanyi.

Namun, tekanan mental tetap tinggi, bahkan beberapa pelaut dilaporkan mengalami keputusasaan hingga mempertimbangkan bunuh diri.

Dominasi AS di laut dipertanyakan

Krisis ini juga menyoroti melemahnya peran Angkatan Laut Amerika Serikat sebagai penjaga kebebasan pelayaran global.

Selama puluhan tahun, Angkatan Laut AS berfungsi sebagai “polisi laut dunia”, memastikan jalur perdagangan tetap aman.

Namun kini, kehadiran mereka tidak mampu mencegah Iran mengontrol Selat Hormuz.

Ancaman preseden global

Langkah Iran berpotensi menjadi preseden berbahaya bagi kawasan lain. Negara-negara dengan klaim wilayah laut strategis dapat meniru pendekatan serupa, termasuk mengenakan biaya bagi kapal yang melintas.

Sejumlah pihak khawatir kondisi ini akan memicu “kekacauan hukum” di laut internasional.

Profesor hukum maritim Jason Chuah memperingatkan, “Begitu terjadi satu pelanggaran besar, yang lain akan menyusul dan kita akan cepat jatuh ke dalam kekacauan hukum.”

Meski demikian, krisis ini bukan yang pertama dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, perang Rusia-Ukraina dan serangan di Laut Merah juga telah mengganggu jalur pelayaran global.

Menurut analis maritim Salvatore R Mercogliano, perubahan yang terjadi bersifat permanen.

“Kita tidak akan melihat kembali kondisi normal seperti sebelumnya, apa pun yang terjadi,” katanya.

Ia menambahkan, “Konsep ‘jalan raya biru’ di laut sedang menghilang. Kita menciptakan sistem yang dirancang untuk volume dan kecepatan—dan sekarang rasanya seperti menabrak tembok bata dengan kecepatan tinggi.”

Konsep kebebasan pelayaran sendiri berakar dari pemikiran abad ke-19 dan berkembang pesat setelah Perang Dunia II, ketika Amerika Serikat mendorong akses laut terbuka bagi semua negara.

Baca juga: Nuklir Iran Ternyata Belum Lumpuh Total, Perundingan dengan AS Kian Alot

Tag:  #laut #bebas #runtuh #dunia #harus #bayar #harga #mahal #imbas #perang #iran

KOMENTAR