Bukan AS, Negara Teluk Jadi Korban Paling Menderita atas Tarif Selat Hormuz
Sebuah foto menunjukkan pemandangan umum fase 17-18 fasilitas ladang gas South Pars di kota pelabuhan Assaluyeh, Iran selatan, di tepi Teluk Persia pada 19 November 2015.(AFP/ATTA KENARE)
12:36
10 April 2026

Bukan AS, Negara Teluk Jadi Korban Paling Menderita atas Tarif Selat Hormuz

- Penutupan Selat Hormuz oleh Iran kini tidak hanya menekan konsumen dan pelaku bisnis secara global, tetapi juga memunculkan ancaman ekonomi baru bagi negara-negara di kawasan Teluk Persia. 

Para ekonom memperkirakan, rencana Teheran untuk menarik tarif di jalur pelayaran vital tersebut akan membebani produsen minyak regional secara signifikan.

Iran saat ini tengah mendesak Amerika Serikat (AS) untuk mengakui hak mereka dalam memungut biaya transit bagi kapal tanker minyak. 

Baca juga: Selat Hormuz Masih Sepi Usai Gencatan Senjata, Hanya 10 Kapal yang Lewat

Tarif yang diusulkan mencapai sekitar 1 dollar AS (sekitar Rp 17.000) per barrel, atau bisa menyentuh 2 juta dollar AS (Rp 34 miliar) per kapal.

Akan tetapi, pembayaran tarif tersebut tidak menggunakan dollar AS, melainkan dengan aset kripto atau yuan China.

Data dari Capital Economics menunjukkan, Selat Hormuz adalah jalur ekspor utama bagi hampir seperempat minyak mentah dan seperlima gas alam cair (LNG) dunia yang diangkut melalui laut. 

Rencana pemberlakuan tarif ini pun juga dinilai melanggar hukum internasional.

Baca juga: Trump Geram Iran Pungut Tarif Tol di Selat Hormuz, Sebut Tak Sesuai Kesepakatan

Menteri Luar Negeri dari negara-negara G7 telah mengeluarkan pernyataan bersama pada akhir Maret lalu, mendesak segera dipulihkannya Selat Hormuz yang aman dan bebas biaya. 

Namun, sinyal berbeda datang dari Presiden AS Donald Trump.

Trump sempat menyebut potensi kerja sama tarif dengan Iran sebagai "hal yang indah" jika mampu menjamin kesepakatan damai jangka panjang. 

Meski demikian, dia kemudian mengecam penerapan tarif di Selat Hormuz tersebut melalui unggahan di platform media sosial Truth Social.

"Ada laporan bahwa Iran memungut biaya dari tanker yang melewati Selat Hormuz. Seharusnya tidak boleh, dan jika benar, mereka harus berhenti sekarang," tulis Trump.

Baca juga: Iran Mulai Tarik Biaya Tol Selat Hormuz Lewat Kripto dan Yuan

Kerugian negara Teluk

Meskipun ada gencatan senjata antara AS dan Iran, Selat Hormuz secara efektif tetap ditutup oleh Teheran. 

Sultan Al Jaber, CEO perusahaan minyak negara Abu Dhabi (ADNOC), menyatakan bahwa Iran membatasi lalu lintas hanya sekitar 12 kapal per hari dan mewajibkan biaya untuk jalur aman.

Data dari Windward dan S&P Global Market Intelligence menunjukkan penurunan drastis lalu lintas kapal, dari sebelumnya lebih dari 100 kapal per hari menjadi hanya empat hingga 11 kapal setelah gencatan senjata diumumkan.

Ekonom berpendapat bahwa tarif 1 dollar AS per barel tidak akan banyak memengaruhi harga minyak dunia atau ekonomi global secara keseluruhan. 

Karena minyak adalah komoditas dengan harga global, produsen di Teluk seperti Kuwait dan Uni Emirat Arab tidak bisa begitu saja membebankan biaya tambahan kepada pembeli.

Baca juga: Iran Kini Jadi Penjaga Gerbang Selat Hormuz, Bisa Dikte Harga Minyak

"Ini berarti produsen Teluk harus menelan sendiri biaya tersebut," lapor para analis.

Guntram Wolff, profesor ekonomi di Universite Libre de Bruxelles, memperkirakan negara-negara Teluk akan menanggung 80 persen hingga 95 persen dari total biaya tarif tersebut. 

Jika tarif mencapai 2 dollar AS per barel, kerugian bisa mencapai 14 miliar dollar AS per tahun hanya untuk pengiriman minyak.

"Ini bisa menjadi mother of all deals (induk dari segala kesepakatan)," ujar Wolff, merujuk pada kemungkinan tarif ini diterima sebagai jalan keluar perundingan damai.

Baca juga: Waspada Ranjau Laut, Iran Umumkan Rute Alternatif di Selat Hormuz

Pembayaran dengan kripto dan yuan China

Ilustrasi kapal kontainer. Iran Tetap Beri Tarif Kapal yang Lewat Selat Hormuz selama Gencatan Senjata.Freepik/Slon.Pics Ilustrasi kapal kontainer. Iran Tetap Beri Tarif Kapal yang Lewat Selat Hormuz selama Gencatan Senjata.

Hamid Hosseini, juru bicara Persatuan Eksportir Minyak, Gas, dan Produk Petrokimia Iran, mengungkapkan bahwa pihaknya sudah mulai memungut tarif 1 dollar AS per barrel. 

Pembayaran dilakukan menggunakan mata uang kripto untuk menghindari pelacakan akibat sanksi.

Hosseini juga menambahkan bahwa eksportir Arab bisa mendapatkan perlakuan istimewa jika membayar menggunakan mata uang China.

"Jika pembeli minyak mentah dari Teluk Persia membayar menggunakan Yuan, itu akan membantu mereka melewati Hormuz," kata Hosseini.

Baca juga: Tak Tiru Malaysia, Singapura Enggan Negosiasi dengan Iran soal Selat Hormuz

Di sisi lain, Jacob Kirkegaard dari Peterson Institute for International Economics memperingatkan bahwa menyetujui sistem tarif ini akan merusak prinsip kebebasan navigasi yang telah menjadi landasan strategi global selama 150 tahun.

Ia menyebut kebijakan ini sebagai bentuk "perompakan yang dilembagakan" yang bisa memicu negara lain melakukan hal serupa di titik-titik jalur perdagangan dunia lainnya.

"Negara perdagangan terbesar di dunia (China) tidak memiliki kepentingan untuk kembali ke abad ke-18 dan ke-19, mengingat seluruh ekonominya bergantung pada ekspor," tegas Kirkegaard.

Negara-negara Teluk pun diperkirakan akan mulai berinvestasi pada pipa minyak baru untuk menghindari Selat Hormuz jika sistem tarif ini benar-benar ditetapkan secara permanen.

Baca juga: Iran Umumkan Rute Alternatif di Selat Hormuz, Jaga-jaga Ada Ranjau Laut

Tag:  #bukan #negara #teluk #jadi #korban #paling #menderita #atas #tarif #selat #hormuz

KOMENTAR