Iran Olok-olok AS, Tuduh Washington Bom Pesawat Sendiri karena Malu
Puing pesawat Hercules C-130 Amerika Serikat yang Iran klaim telah mereka hancurkan di Isfahan, Minggu (5/4/2026), dalam misi pencarian pilot F-15 AS. Kisah di Balik Misi Penyelamatan Pilot Amerika yang Jatuh Ditembak Iran(X @ME_Observer_)
09:30
7 April 2026

Iran Olok-olok AS, Tuduh Washington Bom Pesawat Sendiri karena Malu

Pemerintah Iran melontarkan tuduhan serius bahwa militer Amerika Serikat (AS) sengaja menghancurkan asetnya sendiri untuk menutupi kegagalan di medan perang.

Tuduhan ini muncul setelah dua jet tempur AS berhasil ditembak jatuh oleh Iran bersama para kru yang tidak berhasil melontarkan diri.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump justru meningkatkan ancaman keras terhadap Teheran jika tak segera mencapai kesepakatan.

Baca juga: Perang Masih Berlanjut, Iran Tolak Proposal Gencatan Senjata 45 Hari

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat ini memanas di tengah perang yang telah berlangsung lebih dari lima minggu sejak operasi militer gabungan AS dan Israel pada 28 Februari.

Tuduhan Iran

Juru bicara komando militer gabungan Iran menyatakan bahwa Amerika Serikat sengaja membombardir pesawat dan personelnya sendiri yang sebelumnya diserang oleh Iran.

Ia mengatakan, langkah itu dilakukan untuk “mencegah rasa malu bagi Presiden Trump dan citra kosong militernya.”

“Untuk mencegah rasa malu Presiden Trump dan citra buruk militernya, mereka terpaksa melaksanakan pengeboman pada pesawat sendiri,” ucap Juru bicara komando militer gabungan Iran Ebrahim Zolfaghari, seperti dikutip Associated Press (AP).

Tuduhan ini merujuk pada insiden jatuhnya sejumlah pesawat AS, termasuk dalam operasi penyelamatan pilot yang ditembak jatuh oleh Iran.

Televisi pemerintah Iran pada Minggu (5/4/2026) bahkan menayangkan video yang diklaim sebagai puing-puing pesawat AS—terdiri dari satu pesawat transportasi dan dua helikopter—yang dihancurkan selama operasi tersebut.

Namun, pejabat intelijen regional yang mengetahui misi itu membantah klaim tersebut. Ia menyebut dua pesawat transportasi AS justru diledakkan sendiri karena mengalami kerusakan teknis, bukan karena serangan Iran.

Trump ancam Iran

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur Iran jika Teheran tak segera membuka jalur pelayaran Selat Hormuz.AFP/NATHAN HOWARD Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur Iran jika Teheran tak segera membuka jalur pelayaran Selat Hormuz.

Di tengah polemik tersebut, Trump melontarkan ancaman keras terhadap Iran jika tidak membuka Selat Hormuz sebelum tenggat waktu yang ia tetapkan.

Ia bersumpah akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan Iran, bahkan memperingatkan negara itu akan “hidup dalam neraka” jika tidak mematuhi tuntutan tersebut.

Ancaman itu muncul setelah militer AS berhasil menyelamatkan seorang pilot yang terluka parah dari wilayah pegunungan di Iran.

Trump menyebut prajurit itu “terluka serius dan sangat berani,” serta mengatakan bahwa operasi penyelamatan melibatkan puluhan pesawat bersenjata.

Seorang pejabat senior AS juga mengungkap bahwa CIA sempat menyebarkan informasi palsu di dalam Iran untuk membingungkan pihak lawan selama operasi penyelamatan berlangsung.

Baca juga: Ancaman Baru Trump: Luluhlantakkan Iran dalam Semalam

Iran nilai Trump inkonsisten

Pernyataan keras Trump juga menuai kritik dari pejabat Iran. Menteri Kebudayaan Iran, Sayed Reza Salihi-Amiri, menyindir sikap Presiden AS tersebut.

Ia mengatakan, “Tampaknya Trump telah menjadi fenomena yang tidak sepenuhnya dapat dianalisis baik oleh orang Iran maupun Amerika,” seraya menambahkan bahwa Trump “terus-menerus berpindah di antara posisi yang saling bertentangan.”

Misi Iran di PBB bahkan menyebut ancaman Trump sebagai “bukti jelas niat untuk melakukan kejahatan perang,” terutama karena menyasar infrastruktur sipil.

Konflik meluas

Konflik tidak hanya terjadi antara Iran dan AS, tetapi juga melibatkan negara-negara di kawasan. Iran melancarkan serangan ke infrastruktur di negara Teluk seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain, yang menyebabkan kebakaran dan kerusakan fasilitas energi.

Di sisi lain, serangan juga terjadi di Israel dan Lebanon, menambah panjang daftar korban jiwa. Lebih dari 1.900 orang dilaporkan tewas di Iran sejak perang dimulai, sementara ribuan lainnya menjadi korban di berbagai wilayah konflik.

Meski retorika perang semakin keras, upaya diplomatik masih terus dilakukan. Oman memfasilitasi pertemuan dengan Iran untuk membahas kelancaran jalur pelayaran, sementara Mesir, Rusia, dan negara lain ikut terlibat dalam komunikasi lintas pihak.

Baca juga: Bukan Pakai Radar, Begini Cara Iran Jatuhkan F-15 AS dengan Teknologi Diam

Tag:  #iran #olok #olok #tuduh #washington #pesawat #sendiri #karena #malu

KOMENTAR