Negosiasi Nuklir AS-Iran Buntu Lagi, Perang di Depan Mata?
Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran terkait masa depan program nuklir Teheran berakhir tanpa kesepakatan pada Kamis (26/2/2026) waktu setempat.
Kebuntuan ini terjadi di tengah pertimbangan Gedung Putih untuk melancarkan operasi militer yang bisa menjadi intervensi terbesar Washington di Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir.
Meski kedua pihak mengeklaim ada kemajuan, belum terlihat tanda-tanda kompromi atas isu paling mendasar. Situasi tersebut membuat ancaman konflik terbuka semakin menguat.
Baca juga: Kapal Induk USS Gerald R Ford Susul Armada AS Lainnya ke Dekat Iran, Teheran Dikepung
Klaim “kemajuan baik”, tapi isu inti tetap buntu
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut pembicaraan tidak langsung di Jenewa sebagai “salah satu putaran negosiasi paling intens dan terpanjang yang pernah kami jalani.”
Ia juga mengeklaim telah terjadi “kemajuan yang baik” dan mengonfirmasi bahwa perundingan lanjutan akan berlangsung kurang dari sepekan.
Mediator dari Oman turut menyampaikan optimisme dan memprediksi perundingan teknis akan kembali digelar pekan depan di Wina.
Mereka menepis anggapan bahwa negosiasi mengalami keruntuhan, bahkan menyebut adanya pertukaran ide-ide baru dan kreatif dengan tingkat keterbukaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Namun, belum ada bukti nyata bahwa kedua pihak mencapai kesepatan mengenai hak Iran untuk memperkaya uranium.
Seorang pejabat Iran di Jenewa menegaskan garis keras negaranya. “Prinsip nol pengayaan selamanya, pembongkaran fasilitas nuklir, dan pemindahan stok uranium ke AS sepenuhnya ditolak,” ujarnya.
Tuntutan AS dan ancaman serangan militer
Amerika Serikat menuntut jaminan permanen terkait pengayaan uranium dan mekanisme inspeksi yang dapat meyakinkan Washington bahwa Iran tak akan pernah mampu membuat senjata nuklir. Iran selama ini membantah memiliki ambisi tersebut.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan pada Rabu, “Mereka saat ini tidak melakukan pengayaan, tetapi mereka sedang berusaha mencapai titik di mana pada akhirnya mereka bisa melakukannya.”
Rubio juga menyoroti program rudal balistik Iran. “Iran menolak membahas jangkauan rudalnya dengan kami atau dengan siapa pun, dan ini merupakan masalah besar bagi kami. Iran memiliki rudal yang jangkauannya meningkat setiap tahun, dan ini bisa menjadi ancaman bagi Amerika Serikat karena jangkauan rudal tersebut dapat mencapai wilayah Amerika,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa rudal jarak pendek Iran juga mampu menghantam pangkalan AS di kawasan.
Teheran menolak memasukkan isu non-nuklir ke dalam agenda pembicaraan, termasuk program rudal balistiknya dan dukungannya terhadap kelompok-kelompok “perlawanan” di Timur Tengah.
Iran menyebut rudal balistiknya—beberapa berjangkauan hingga 2.000 kilometer—sebagai murni defensif.
Baca juga: Pejabat AS Usul Israel Serang Iran Dulu, Agar Washington Punya Alasan Perang
Sengketa pengayaan uranium
Gambar dari citra satelit Maxar memperlihatkan kondisi situs nuklir Iran di Natanz pada 15 Juni 2025, sebelum diserang bom Amerika Serikat pada 22 Juni 2025.
Hak memperkaya uranium di dalam negeri telah lama dianggap simbol kedaulatan nasional Iran, dan diakui dalam kesepakatan nuklir 2015.
Presiden Donald Trump sebelumnya mengeklaim bahwa tiga fasilitas nuklir utama Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan telah “dihancurkan” oleh bom AS pada Juni tahun lalu, sehingga secara teknis mustahil bagi Iran untuk memperkaya uranium dalam jumlah besar dalam waktu dekat.
Namun Teheran menolak mengizinkan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) melakukan inspeksi untuk menilai tingkat kerusakan fasilitas tersebut.
IAEA menyebut Iran belum menjelaskan keberadaan sekitar 400 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen—cukup untuk membuat lima hingga enam bom dengan kekuatan serupa bom yang menghancurkan Nagasaki pada 1945.
Selain itu, pada Mei tahun lalu, IAEA memperkirakan Iran memiliki 8.000 kilogram uranium yang diperkaya hingga 20 persen atau di bawahnya.
Iran sempat mengusulkan agar stok uranium dengan pengayaan tinggi itu diencerkan (down-blended) di dalam negeri.
Alternatif lain adalah mengekspornya ke Rusia atau AS. Namun, mengirim seluruh stok 8.000 kilogram ke AS akan menjadi konsesi besar bagi Iran, meskipun dapat membuka jalan pencabutan banyak sanksi ekonomi AS dan PBB.
Tekanan politik di Washington
Perundingan berlangsung di tengah pengerahan militer besar-besaran AS di kawasan, termasuk dua kelompok tempur kapal induk, pesawat tempur, peralatan pengisian bahan bakar udara, dan kapal selam bersenjata rudal Tomahawk.
Trump kini memiliki aset militer yang cukup untuk menyerang Iran, baik dalam serangan luas untuk mendorong perubahan rezim maupun serangan terbatas guna memaksa Teheran lebih fleksibel dalam negosiasi.
Namun para komandan militernya diyakini enggan mempertahankan konsentrasi pasukan besar dan mahal itu terlalu lama tanpa keputusan jelas.
Di dalam negeri, Trump juga menghadapi tekanan politik. Partai Demokrat menuntut pemungutan suara di Kongres atas apa yang mereka sebut sebagai “perang pilihannya”.
Jajak pendapat Associated Press pekan ini menunjukkan bahwa 56 persen warga Amerika tidak percaya Trump akan mengambil keputusan yang tepat terkait penggunaan kekuatan militer di luar negeri.
Baca juga: Hizbullah Tak Akan Ikut Campur jika AS Serang Iran, tapi...
Tag: #negosiasi #nuklir #iran #buntu #lagi #perang #depan #mata