Bangkitnya China Menguji Strategi AS di Jepang
Helikopter milik militer AS terbang di atas pangkalan udara di Futenma, prefektur Okinawa, Jepang.(Toshifumi Kitamura / AFP)
22:24
26 Februari 2026

Bangkitnya China Menguji Strategi AS di Jepang

Penulis: Julian Ryall/DW Indonesia

- Militer AS perlahan-lahan mengurangi kehadirannya di Okinawa setelah puluhan tahun perundingan dan penundaan, yang diwarnai ketegangan antara pasukan AS dan penduduk setempat.

Hal itu terutama terkait skandal 1995, ketika tiga tentara AS menculik, menyerang, dan memperkosa seorang gadis Okinawa berusia 12 tahun.

Pada tahun 2006, Tokyo dan Washington menandatangani US-Japan Defense Policy Review Initiative (DPRI), yang mencakup ketentuan pengurangan kehadiran militer AS di Okinawa atas alasan politik.

Baca juga: Eks Pilot Tempur Elite AS Diam-diam Latih Militer China, Barat Ketar-ketir

Dalam rencana tahun 2012 diperkirakan  sekitar 9.000 marinir dipindahkan dari pulau di Jepang itu, dengan menyisakan sekitar 10.000 personel.

Marinir AS dijadwalkan ditempatkan di pangkalan di Guam, Hawai, Korea Selatan, dan bagian utara Australia.

Hingga Desember 2024, media AS melaporkan kontingen pertama yang berjumlah sedikit lebih dari 100 marinir meninggalkan Okinawa, ini merupakan pengurangan pasukan pertama di pangkalan AS yang didirikan sejak Perang Dunia II. 

Namun sejumlah pakar kini menyerukan agar proses tersebut ditunda atau dibatalkan, mengingat peningkatan kekuatan militer China di kawasan tersebut.

Baca juga: China Vs Jepang dan Dimulainya Perang Dingin Baru di Asia

Marinir AS sebagai penunda waktu jika terjadi konflik besar

Bulan ini, lembaga pemikir berpengaruh Atlantic Council menerbitkan laporan yang memperingatkan bahwa pemindahan marinir dari Okinawa berisiko melemahkan daya tangkal terhadap Beijing.

Penulis laporan, Letnan Kolonel Caleb Eames dan pakar hubungan internasional Amy Cowley, menekankan bahwa China terus mengejar dominasi dengan militernya yang memproyeksikan pengaruh di jalur laut penting, mengingat Beijing menargetkan Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri.

China menganggap Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri dan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan untuk membawa pulau itu di bawah kendali Beijing.

Menurut laporan Atlantic Council, rencana pemindahan marinir dari Okinawa akan memberikan apa yang diinginkan perencana militer China.

Sebagai gantinya, Washington disarankan untuk tetap mempertahankan kehadiran di Okinawa, sekaligus memberikan insentif ekonomi, menegaskan komitmen AS terhadap sekutu dan kawasan, serta merestrukturisasi rencana masa depan Marinir AS di Jepang dan seluruh Pasifik.

Laporan tersebut menyoroti kehadiran militer AS yang kuat di Okinawa, di utara Taiwan, dan di Filipina, yang dianggap mampu menunda kemajuan musuh dan memberi waktu bagi pasukan tambahan AS jika perang terjadi.

Baca juga: Iran Beli Rudal Supersonik China, Diklaim Bisa Tenggelamkan Kapal Induk AS

Tekanan terhadap pemerintah Jepang

Garren Mulloy, profesor hubungan internasional di Daito Bunka University dan pakar isu militer, mengatakan artikel tersebut bisa menarik perhatian banyak pihak di pemerintahan AS.

Di sisi lain, Tokyo sadar akan menghadapi reaksi keras jika dianggap ingkar janji untuk mengurangi pasukan AS di Okinawa, papar Mulloy kepada DW.

"Saya tidak berpikir ini soal menghentikan atau membatalkan pemindahan Marinir ke Guam dan lokasi lain; yang terjadi adalah AS dan Jepang sedang meninjau kembali unit mana yang harus tetap berada di Okinawa dan mana yang bisa dipindahkan," ujarnya.

Kuncinya adalah menciptakan sinergi lebih baik antara unit AS dan Jepang di pulau-pulau itu, seiring Tokyo meningkatkan belanja pertahanan dan memindahkan lebih banyak asetnya ke selatan, terutama unit angkatan laut dan udara, demi kemampuan keseluruhan yang lebih kuat.

Kekhawatiran di Okinawa bisa diredakan, ujar Mulloy, dengan memindahkan satu batalion infanteri berjumlah 500 personel ke Guam, bersama ratusan anggota keluarga mereka.

AS kemudian bisa menggantikannya dengan tim baterai rudal khusus berjumlah hanya 100 personel. Konsentrasi pasukan di pulau utama juga bisa dikurangi dengan menempatkan unit-unit di pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Baca juga: Hubungan Makin Panas, China Blokir 20 Perusahaan Jepang

Kehadiran lebih kecil, kemampuan tempur lebih besar

Hasilnya, menurut Mulloy, akan menjadi jejak militer yang lebih kecil tetapi lebih mampu, terutama melalui integrasi lebih baik dengan pasukan Jepang yang terus berkembang.

Hal ini diyakini akan disambut baik oleh Tokyo, ujar analis lain kepada DW. Dia menolak disebutkan namanya karena menjadi penasihat pemerintah Jepang dalam isu keamanan.

Namun, analis itu memperingatkan bahwa rencana ini tetap akan menghadapi penolakan dari warga Okinawa yang ingin semua pasukan AS keluar sepenuhnya.

"Dari sudut pandang Tokyo, pasukan AS diperlukan karena ancaman terhadap Okinawa dan Jepang selatan bersifat eksistensial," paparnya.

"Status quo jelas lebih mudah, tapi akan sulit sepenuhnya membatalkan janji yang telah dibuat kepada Okinawa. Saya perkirakan pemindahan akan lebih kecil dari rencana awal, mungkin hanya pasukan garis depan atau spesialis, dan akan ada rencana untuk mengembalikan mereka ke Okinawa dengan cepat jika dibutuhkan," tambahnya.

Artikel ini pernah tayang di DW Indonesia dengan judul: Bangkitnya China Menguji Strategi AS di Jepang.

Baca juga: Menepi ke China untuk Kedaulatan Ekonomi Indonesia

Tag:  #bangkitnya #china #menguji #strategi #jepang

KOMENTAR