Donald Trump Bilang Bantuan ''OTW'' untuk Pedemo Iran
- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka menyerukan warga Iran untuk melanjutkan gelombang protes, di tengah penindakan brutal aparat keamanan yang telah menewaskan ribuan orang.
Dalam pernyataannya, Trump bahkan mengatakan bahwa bantuan sedang dalam perjalanan (on the way/OTW) untuk para demonstran di Iran.
Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya laporan tentang jumlah korban jiwa akibat represi terhadap massa demo Iran.
Dukungan terbuka Trump untuk warga Iran
Melalui unggahan di platform Truth Social pada Selasa (13/1/2026), Trump menyampaikan dukungan langsung kepada demonstran Iran.
“Para patriot Iran, teruslah berdemo—ambil alih institusi-institusi kalian!!! Bantuan sedang dalam perjalanan,” tulis Trump, seperti dikutip dari The Guardian.
Ungkapan tersebut muncul sehari setelah Gedung Putih menyampaikan bahwa serangan udara menjadi salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan oleh Presiden AS.
Trump juga membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran hingga kekerasan terhadap para demonstran dihentikan.
Pedemo Iran anti-pemerintah membakar kendaraan dalam aksi unjuk rasa di Teheran, Iran, 9 Januari 2026.Dukungan Trump datang bersamaan dengan laporan organisasi Hak Asasi Manusia (HAM) yang menyebutkan jumlah korban tewas demo Iran mencapai sedikitnya 2.000 orang.
Pihak berwenang Iran sebelumnya hanya mengakui 600 korban jiwa.
Demonstrasi sempat mereda sehari sebelumnya, menyusul kerasnya tindakan aparat. Namun, pernyataan terbuka Trump dikhawatirkan dapat kembali menyulut gelombang protes lanjutan.
Sejumlah gambar dari kamar jenazah yang menunjukkan banyaknya korban bocor ke media sosial, memperkuat laporan tentang tingginya jumlah korban.
Associated Press mengutip organisasi Human Rights Activists in Iran yang memperkirakan korban tewas mencapai 2.000 orang, termasuk 135 individu yang berafiliasi dengan pemerintah.
Pembatasan internet dan kontrol media membuat verifikasi angka korban secara independen menjadi sangat sulit.
Ancaman ekonomi dan seruan pembalasan
Massa pro-pemerintah ikut turun ke jalan untuk membela rezim Ayatollah Ali Khamenei, dalam demo Iran di Kota Ardabil, Jumat (9/1/2026). Demo Iran kali ini pecah setelah meningkatnya biaya hidup.Pada Selasa malam, Departemen Luar Negeri AS mengimbau seluruh warganya untuk segera meninggalkan Iran.
Trump juga memperingatkan bahwa akan ada tindakan sangat keras jika Pemerintah Iran menjatuhkan hukuman mati kepada para demonstran.
Ia mengimbau para demonstran untuk mencatat nama-nama pelaku kekerasan agar kelak dapat dimintai pertanggungjawaban.
“Para pelaku akan menanggung akibat yang sangat besar,” ujar orang nomor satu di Gedung Putih tersebut.
Selain itu, Trump mengumumkan kebijakan tarif baru sebesar 25 persen terhadap negara mana pun yang masih menjalin hubungan dagang dengan Iran.
“Berlaku segera, negara mana pun yang berbisnis dengan Republik Islam Iran akan dikenai tarif 25 persen atas seluruh bisnis yang dilakukan dengan Amerika Serikat,” tulis Trump di Truth Social.
Tarif tersebut akan dibebankan kepada importir di Amerika Serikat untuk setiap barang dari negara-negara terkait.
Reaksi Dunia: China, Rusia, dan negara Eropa angkat suara
Pedemo anti-rezim Iran membawa bendera lama Iran sebelum Revolusi 1979, bergambar Singa dan Matahari, ketika berunjuk rasa di luar Kedutaan Besar Iran di London, Inggris, 9 Januari 2026.Kebijakan tarif yang diumumkan Trump langsung memicu respons dari negara-negara mitra dagang Iran.
Juru bicara Kedutaan Besar China di Washington, Liu Pengyu, menyatakan bahwa Beijing akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingannya.
China tercatat sebagai salah satu mitra ekspor terbesar Iran, selain Irak, Uni Emirat Arab, dan Turkiye.
Rusia juga mengecam tekanan AS terhadap Iran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia menuduh adanya kekuatan eksternal yang memusuhi Iran dan berusaha mengguncang serta menghancurkan negara tersebut.
Negara-negara Eropa seperti Inggris, Perancis, Jerman, dan Italia memilih jalur diplomasi.
Duta Besar Iran di masing-masing negara dipanggil untuk dimintai pertanggungjawaban atas dugaan pelanggaran HAM.
Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, menyampaikan keprihatinannya atas laporan kekerasan di Iran dan meminta pemerintah Teheran untuk menjelaskan situasi yang terjadi.
Pedagang toko menghitung uang di tempat usahanya di Teheran, Iran, 7 Januari 2026. Mata uang riyal Iran anjlok ke titik terendah terhadap nilai tukar dollar AS, memicu demo besar sejak 28 Desember 2025.Protes di Iran berawal dari krisis ekonomi yang memburuk, tetapi kini berkembang menjadi seruan terbuka untuk menjatuhkan pemerintahan teokratis.
Otoritas Iran menanggapi dengan gelombang penangkapan, pemutusan akses internet, serta ancaman hukuman mati bagi mereka yang ikut serta dalam demonstrasi.
Kanselir Jerman Friedrich Merz bahkan menyebut bahwa rezim Iran tengah berada di ujung tanduk.
“Saya berasumsi kita kini menyaksikan hari-hari dan minggu-minggu terakhir rezim ini. Ketika sebuah rezim hanya bisa mempertahankan kekuasaan melalui kekerasan, maka pada dasarnya ia sudah berada di ujung,” ujar Merz.
“Penduduk sekarang bangkit melawan rezim ini,” tegasnya.
Sumber: Kompas.com (Penulis: Inas Rifqia Lainufar | Editor: Inas Rifqia Lainufar)