Lemak juga Bisa Tersembunyi di Otot, Ini Bahayanya
- Tidak semua lemak di tubuh terlihat dari luar. Ada jenis lemak tersembunyi yang diam-diam menumpuk di dalam dan di sekitar otot, dan ternyata dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.
Hal ini terungkap dalam penelitian terbaru berjudul Associations of MRI-derived Paraspinal IMAT and LMM with Cardiometabolic Risk Factors: Results from a German Cohort yang diterbitkan di jurnal Radiology pada Mei 2026.
Dalam penelitian tersebut, ilmuwan menganalisis komposisi otot lebih dari 11.000 orang dewasa menggunakan pemindaian MRI.
Hasilnya menunjukkan bahwa orang dengan timbunan lemak lebih banyak di sekitar otot memiliki risiko lebih tinggi mengalami tekanan darah tinggi, gula darah meningkat, diabetes, hingga kolesterol jahat yang berkaitan dengan penyakit jantung.
Sebaliknya, individu dengan massa otot yang lebih dominan dan minim lemak cenderung memiliki kondisi jantung dan metabolisme yang lebih sehat.
Baca juga: Metabolisme Setelah 30 Tahun Lebih Dipengaruhi Massa Otot, Bukan Usia
Dokter spesialis jantung di Amerika Serikat, dr. Bharat Sangani, menjelaskan bahwa otot sehat pada dasarnya didominasi oleh serat otot.
"Biasanya, otot sebagian besar terdiri dari serat otot. Namun seiring berjalannya waktu, lemak perlahan dapat menumpuk di dalam dan di sekitar jaringan otot," terang Sangani.
Namun seiring bertambahnya usia, kurang aktivitas fisik, atau pola hidup tidak sehat, lemak perlahan dapat menyusup dan menumpuk di dalam jaringan otot.
Yang sering tidak disadari, kondisi ini bisa terjadi bahkan pada orang dengan berat badan normal. Artinya, seseorang mungkin tampak kurus atau ideal dari luar, tetapi sebenarnya memiliki simpanan lemak tidak sehat di dalam ototnya.
Baca juga: Orang Kurus Juga Berisiko Diabetes Tipe 5, Ini Penjelasan Dokter
Proses penumpukan lemak
Timbunan lemak sangat rentan terbentuk di area jaringan serta serat otot pada kelompok orang yang pasif bergerak, mengalami lonjakan berat badan, dan pola makannya buruk.
Penumpukan lemak ini juga mengintai para penderita komplikasi diabetes maupun resistensi insulin.
Penurunan massa otot tanpa lemak seiring bertambahnya usia rupanya membuat sebaran tumpukan lemak lebih mudah menyebar. Tumpukan sisa energi ini berisiko besar menghambat kelancaran proses metabolisme normal.
Dampaknya, terjadi pemburukan berbagai indikator kardiometabolik yang dapat memicu lonjakan peradangan secara menyeluruh.
"Keberadaan lemak yang bersarang tersebut secara langsung dapat mengganggu cara kerja otot," tutur Sangani.
Baca juga: Mengapa Lemak di Perut Lebih Susah Dihilangkan?
Pentingnya massa otot tanpa lemak
Kelompok orang yang paling berisiko mengalami penyumbatan pembuluh darah jantung.
Itu sebabnya, menjaga kesehatan tidak cukup hanya berfokus pada angka timbangan. Aktivitas fisik rutin, latihan kekuatan otot, pola makan seimbang, dan menjaga massa otot tetap optimal juga penting untuk membantu mencegah penumpukan lemak tersembunyi.
"Massa otot tanpa lemak adalah jaringan yang aktif secara metabolik. Semakin banyak massa otot tanpa lemak yang kita miliki, semakin banyak kalori yang bisa kita bakar saat istirahat," terang ahli gizi diet terdaftar Roxana Ehsani.
Kehadiran komposisi otot murni ini mengambil peran penting untuk menyerap gula dari aliran darah dan mengoptimalkan sensitivitas insulin.
Baca juga: Makan Malam Terlalu Larut Ternyata Mengganggu Kerja Hormon Insulin dalam Tubuh
Keberadaan otot juga dapat menekan potensi peradangan di tubuh sekaligus menjaga bobot tetap ideal.
"Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan tingkat massa otot yang lebih tinggi cenderung hidup lebih lama dan mengalami lebih sedikit masalah kesehatan terkait usia," ucap Roxana.
Cara membangun massa otot
Kabar baiknya, kita punya peluang besar membentuk komposisi otot kapan saja. Ada dua hal yang perlu diperhatikan.
"Pertama, lakukan latihan ketahanan (resistance training) setidaknya dua kali seminggu. Kedua, konsumsi sumber protein berkualitas tinggi yang cukup sepanjang hari," jelas Roxana.
Guna merealisasikan target tersebut, Roxana menyarankan untuk menyisipkan berbagai latihan kekuatan fisik (strength training) ke dalam rutinitas harian secara berkelanjutan.
"Kesehatan bukan hanya tentang berat badan. Ini juga tentang kualitas otot. Bahkan sedikit peningkatan dalam aktivitas otot dapat meningkatkan kesehatan jantung dan metabolisme jangka panjang," pungkas Sangani.
Baca juga: Manfaat Rutin Latihan Kekuatan untuk Umur Panjang