Kasus Kanker Paru-paru Terus Meningkat, Terapi Generasi Baru Diyakini Tingkatkan Harapan Hidup Pasien
Ilustrasi rontgen kanker paru-paru (Freepik)
20:17
11 November 2025

Kasus Kanker Paru-paru Terus Meningkat, Terapi Generasi Baru Diyakini Tingkatkan Harapan Hidup Pasien

Kanker paru-paru masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan global. Penyakit ini seringkali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, sehingga banyak pasien baru menyadari kondisinya setelah memasuki fase lanjut.

Berdasarkan data Global Cancer Observatory (Globocan) 2022, dalam lima tahun terakhir (2018–2022), terdapat 2.48 juta kasus kanker paru atau sekitar 12,5% dari total kasus kanker di dunia, menjadikannya jenis kanker dengan jumlah kasus tertinggi secara global.

Di Indonesia, tren ini juga meningkat signifikan. Jumlah kasus baru naik dari 30.023 pada 2018 menjadi 38.904 kasus pada 2022, atau sekitar 9,5% dari total seluruh kasus kanker.

"Kanker paru berkembang ketika sel-sel abnormal tumbuh di jaringan paru tanpa kendali bahkan bisa menyebar ke organ lain seperti otak, tulang, dan hati. Kondisi ini seringkali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal," ujar Dr. Lim Hong Liang, Senior Consultant in Medical Oncology Parkway Cancer Centre.

“Batuk berkepanjangan, sesak napas, atau nyeri dada sering dianggap sepele, padahal bisa menjadi tanda awal kanker paru,” jelasnya.

Menurut Lim, terdapat dua jenis sel kanker paru. Pertama adalah Non-Small Cell Lung Cancer (NSCLC)  yang mencakup lebih dari 80% kasus. "Biasanya berkembang lebih lambat," katanya.

Jenis kedua adalah Small Cell Lung Cancer (SCLC). "Jenis ini lebih agresif dan tumbuh cepat," kata Dr. Lim. Dr. Lim Hong Liang, Senior Consultant in Medical Oncology Parkway Cancer Centre. (Istimewa)  

Dia menekankan pentingnya deteksi dini melalui CT scan dosis rendah, yang terbukti mampumendeteksi kanker paru sebelum muncul gejala klinis. “Deteksi dini meningkatkan peluangkesembuhan secara signifikan. Semakin cepat kanker ditemukan, semakin besar kemungkinan untuk diobati dengan efektif,” tambahnya.

Selain faktor genetik, kebiasaan merokok masih menjadi penyebab utama kanker paru, termasuk paparan polusi udara, asap rokok pasif, hingga zat kimia industri.

Belakangan, tren baru seperti vaping atau rokok elektrik juga menimbulkan kekhawatiran.

"Vaping bukanlah alternatif yang aman terhadap rokok konvensional. Vape tetap mengandung nikotin dan bahan kimia toksik yang dapat merusak paru dan menyebabkan kecanduan," kata Dr. Chin Tan Min, Senior Consultant in Medical Oncology PCC.

“Meski belum terbukti langsung menyebabkan kanker paru, risikonya terhadap kesehatan paru tidak bisa diabaikan,” ujarnya lagi.

Kemoterapi hingga Terapi Bertarget

Selama bertahun-tahun, kemoterapi menjadi pengobatan utama bagi pasien kanker paru. Namun efektivitasnya terbatas dan efek sampingnya sering kali berat. Kini, pendekatan baru seperti targeted therapy dan immunotherapy telah mengubah paradigma pengobatan.

Menurut Lim, penemuan mutasi genetik pada sel kanker paru merupakan titik balik penting dalam terapi modern.

“Penemuan mutasi gen seperti EGFR memungkinkan kami merancang terapi yang lebih tepat sasaran. Dengan targeted therapy, kami dapatmenonaktifkan mekanisme gen yang memicu pertumbuhan kanker tanpa merusak jaringan sehat,” jelasnya.

Pasien kanker paru stadium lanjut yang menjalani kombinasi kemoterapi dan terapi bertargetkini memiliki tingkat kelangsungan hidup rata-rata 2,5 hingga 3 tahun lebih dari dua kali lipatdibandingkan kemoterapi konvensional.

Dr. Chin menambahkan, terapi EGFR Tyrosine Kinase Inhibitor (TKI) telah menjadi salah satu inovasi paling efektif bagi pasien kanker paru stadium lanjut. Respons terhadap terapi ini sangat baik. Sekitar 80% pasien mengalami perbaikan gejaladalam dua hingga empat minggu pertama, seperti berkurangnya batuk, sesak napas, dan nyeri.

Selain terapi bertarget, immunotherapy menjadi terobosan besar berikutnya dalam pengobatan kanker paru. Terapi ini bekerja dengan mengaktifkan sistem imun tubuh agar dapat mengenali dan menghancurkan sel kanker secara alami. “Efeknya bisa bertahan lama seperti vaksinasi terhadap kanker,” kata Dr. Lim.

Dalam beberapa kasus, immunotherapy dapat memberikan kontrol jangka panjang dan meningkatkan tingkat kelangsungan hidup hingga lima tahun bagi sebagian pasien.

Studi menunjukkan bahwa pasien kanker paru stadium lanjut yang menjalani immunotherapy memiliki tingkat kelangsungan hidup lima tahun sebesar 23%, dibandingkan kurang dari 5% pada terapi konvensional.

Lebih dari itu, Dr. Lim menjelaskan bahwa setiap pasien memiliki karakteristik unik baik secara biologis maupun emosional. "Artinya, terapi harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Tidak hanya berfokus pada pengobatan medis, setiap pasien juga harus mendapatkan dukungan emosional dan gaya hidup sehat yang berkelanjutan,” tutupnya.

Editor: Banu Adikara

Tag:  #kasus #kanker #paru #paru #terus #meningkat #terapi #generasi #baru #diyakini #tingkatkan #harapan #hidup #pasien

KOMENTAR