Purbaya Akui Tarik Hampir Separuh Utang APBN di Awal 2026
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui di Kementerian Bappenas, Senin (8/6/2026).(KOMPAS.com/DEBRINATA RIZKY )
11:56
10 Juni 2026

Purbaya Akui Tarik Hampir Separuh Utang APBN di Awal 2026

- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pemerintah mempercepat atau melakukan front loading penarikan utang pada awal 2026.

"Sebagian depannya front loading-kan. Ke belakang seperti biasa, sesuai dengan jadwalnya," ujar Purbaya saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Front loading merupakan strategi pembiayaan dengan memperbesar porsi penerbitan utang pada awal tahun.

Langkah ini umumnya dilakukan untuk mengantisipasi ketidakpastian pasar dan memastikan kebutuhan pembiayaan pemerintah tetap terjaga.

Baca juga: Berburu Utang

Adapun hingga Mei 2026, pemerintah telah menarik utang baru sebesar Rp 386 triliun atau sekitar 46,4 persen dari target penerbitan utang APBN tahun ini yang mencapai Rp 832,2 triliun.

Dalam APBN KiTa edisi Mei 2026 sebelumnya dijelaskan bahwa, pembiayaan utang hingga lima bulan pertama tahun ini sudah mendekati separuh target APBN 2026.

Sementara itu, pembiayaan nonutang baru mencapai Rp 6,5 triliun atau 4,4 persen dari target Rp 143,1 triliun.

"Pembiayaan APBN dikelola secara prudent dan terukur serta memperhatikan likuiditas pemerintah, kondisi kas yang optimal, serta dinamika pasar keuangan," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa.

Secara keseluruhan, realisasi pembiayaan anggaran hingga Mei 2026 mencapai Rp 379,4 triliun atau 55,1 persen dari target APBN sebesar Rp 689,1 triliun.

Angka tersebut meningkat 16,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat Rp 326,5 triliun.

Menurut Purbaya, strategi pembiayaan tersebut juga didukung kondisi pasar surat utang negara yang masih relatif stabil di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun, misalnya, tetap terjaga di level 6,68 persen.

Selain itu, selisih imbal hasil atau yield spread SBN terhadap obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) juga dinilai relatif rendah dibandingkan sejumlah negara berkembang lainnya.

Meski kembali menambah utang, Purbaya menegaskan pemerintah tidak menghadapi kendala dalam penerbitan surat utang negara (SUN) maupun instrumen pembiayaan lainnya.

Menurut dia, kepercayaan investor terhadap pengelolaan fiskal Indonesia masih terjaga sehingga pemerintah tetap memiliki akses pembiayaan yang memadai dari pasar keuangan.

"Perlu dicatat dana kita cukup kredibel, kita tidak ada kesulitan untuk menerbitkan surat utang dan kita akan jaga terus kredibilitas APBN kita," kata Purbaya.

Ia menjelaskan, strategi pembiayaan APBN 2026 dilakukan secara prudent atau hati-hati dengan mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari kondisi kas negara, kebutuhan pembiayaan program pemerintah, hingga dinamika pasar keuangan global.

Baca juga: Pemerintah Tarik Utang Baru Rp 386 Triliun hingga Mei 2026

Tag:  #purbaya #akui #tarik #hampir #separuh #utang #apbn #awal #2026

KOMENTAR