Kegagalan Rp 983 Juta yang Membuka Jalan ke Bisnis Parfum
Josh Frost(KOMPAS.COM /KIKI SAFITRI)
19:04
5 Juni 2026

Kegagalan Rp 983 Juta yang Membuka Jalan ke Bisnis Parfum

Kegagalan bisnis tidak selalu menjadi akhir perjalanan usaha. Pendiri sekaligus perfumer BestPerfume.Store asal Singapura, Josh Frost, pernah mengalami kerugian hingga 70.000 dollar Singapura atau sekitar Rp 983 juta.

Kerugian itu terjadi setelah bisnis minuman berperisa yang ia bangun gagal diluncurkan pada 2022.

Saat itu, proyek yang sudah disiapkan selama berbulan-bulan harus berhenti sebelum masuk pasar.

Frost kemudian mengevaluasi keahlian yang ia miliki. Latar belakang di dunia bartending, pengembangan rasa, dan miksologi dinilai menjadi bekal untuk masuk ke industri parfum.

“Berpindah ke dunia parfum bukanlah sebuah poros haluan yang acak. Itu adalah penerapan alami dari ilmu sains yang sama, hanya saja ke dalam botol yang berbeda,” ujar Frost saat berbincang dengan Kompas.com, Jumat (5/6/2026).

Menurut Frost, minuman dan parfum sama-sama membutuhkan pemahaman mengenai aroma, formulasi cairan, serta respons indra manusia terhadap berbagai komposisi bahan.

Baca juga: Industri Keramik RI Bangkit, Utilisasi Pabrik Tembus 73 Persen

Melihat celah di iklim tropis

Saat mempelajari industri parfum, Frost menemukan persoalan ketahanan aroma di iklim tropis.

Menurut dia, sebagian besar parfum premium di pasaran dirancang untuk negara beriklim dingin.

Akibatnya, parfum tersebut kerap tidak bertahan lama saat digunakan di kawasan Asia Tenggara yang panas dan lembap.

“Sebagian besar parfum mewah dirancang untuk pasar Eropa. Tingkat konsentrasinya gagal total dan menguap begitu saja di Asia karena faktor panas dan kelembapan yang ekstrem,” katanya.

Temuan tersebut menjadi dasar lahirnya BestPerfume.Store.

Perusahaan itu mengembangkan formula dengan konsentrasi lebih tinggi untuk meningkatkan daya tahan aroma di cuaca tropis.

Frost mengatakan fokus utama bisnisnya bukan menjual citra kemewahan, melainkan menyelesaikan persoalan teknis yang dialami konsumen sehari-hari.

“Saya tidak peduli dengan citra mewah atau menjual simbol status. Saya melihat ini murni sebagai tantangan teknis yang bisa diselesaikan,” ujarnya.

Baca juga: Anak SD FOMO Parfum Viral, Apa yang Harus Dilakukan Orangtua?

Menolak investor

Frost memilih menjalankan bisnis secara mandiri tanpa investor eksternal sejak awal membangun perusahaan.

Langkah itu diambil agar perusahaan tetap memiliki kendali atas kualitas produk tanpa tekanan mengejar keuntungan jangka pendek.

“Ketika Anda menerima dana dari investor, Anda akan kehilangan kendali. Mereka akan memaksa Anda menekan margin, menurunkan kualitas, dan mengejar keuntungan jangka pendek,” katanya.

Strategi tersebut membuat perusahaan berani mengorbankan profit pada tahun-tahun awal.

Frost memilih membangun kepercayaan pelanggan melalui kualitas produk dan pengalaman penggunaan.

Bidik pasar Indonesia

Indonesia menjadi salah satu pasar yang menarik perhatian Frost dalam ekspansi bisnisnya di Asia Tenggara.

Menurut Frost, konsumen Indonesia memiliki karakteristik berbeda dibandingkan negara tetangga.

Mereka dinilai lebih kritis dan tidak terlalu terpaku pada nama besar merek.

“Di Indonesia, konsumen tidak terlalu peduli dengan nama besar desainer. Mereka hanya peduli pada aroma dan kualitasnya,” ujarnya.

Frost melihat celah pasar di Indonesia.

Menurut dia, ada parfum murah dengan kualitas bahan terbatas. Pada sisi lain, parfum premium dijual dengan harga tinggi, tetapi belum tentu cocok dengan iklim tropis.

BestPerfume.Store mencoba masuk di antara dua segmen tersebut dengan menawarkan aroma premium dan daya tahan tinggi tanpa harga yang dinilai berlebihan.

Pendapatan Rp 810 juta sebulan

Frost mengatakan Indonesia masih tergolong pasar baru bagi perusahaan.

Meski begitu, performa bisnis mulai menunjukkan perkembangan.

Ia menyebut total pendapatan bulanan dari tiga negara ekspansi baru, termasuk Indonesia, mencapai sekitar 45.000 dollar AS atau setara Rp 810 juta.

Angka tersebut menggunakan asumsi kurs Rp 18.000 per dollar AS.

Frost menegaskan perusahaan masih berada dalam fase investasi dan pembangunan fondasi bisnis.

“Fokus utama kami saat ini adalah membangun stabilitas operasional dan kepercayaan konsumen jangka panjang, bukan sekadar mengejar angka pendapatan instan,” katanya.

Perusahaan memperkirakan titik impas berada pada level pendapatan sekitar 180.000 dollar AS per bulan.

Frost optimistis target itu dapat dicapai seiring meningkatnya permintaan pasar.

Bangun gudang di Bekasi

Frost mengatakan perusahaan telah membangun fasilitas pergudangan dan produksi di Bekasi.

Fasilitas itu menjadi bagian dari strategi jangka panjang BestPerfume.Store di Indonesia.

Menurut dia, fasilitas tersebut disiapkan untuk mendukung pertumbuhan bisnis hingga menghasilkan pendapatan jutaan dollar AS per tahun.

“Kami menolak keras untuk beroperasi melalui model impor pasar gelap (grey-market) yang ilegal,” kata Frost.

“Itulah mengapa kami berinvestasi besar untuk mendirikan fasilitas produksi dan pergudangan kami sendiri di Bekasi, serta bermitra dengan pusat pemenuhan pesanan (fulfillment center) lokal,” tegas dia.

Saat ini, BestPerfume.Store telah beroperasi di empat negara Asia Tenggara, yaitu Singapura, Malaysia, Indonesia, dan Filipina.

Tag:  #kegagalan #juta #yang #membuka #jalan #bisnis #parfum

KOMENTAR