Bangun 40 Flyover di Pelintasan Kereta, KAI Butuh Rp 1,2 Triliun
- PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menyiapkan pembangunan 40 jalan layang (flyover) di sejumlah titik pelintasan sebidang sebagai bagian dari upaya memperkuat aspek keselamatan perjalanan kereta api sekaligus mengurangi risiko kecelakaan antara kereta dan pengguna jalan.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan, pembangunan puluhan flyover tersebut membutuhkan investasi yang cukup besar.
KAI memperkirakan kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) untuk merealisasikan proyek tersebut mencapai sekitar Rp 1,2 triliun.
Selain itu, KAI juga menyiapkan anggaran belanja operasional (operational expenditure/opex) sekitar Rp 700 miliar per tahun guna mendukung pengelolaan dan pemeliharaan infrastruktur yang telah dibangun.
Baca juga: Daftar Kereta Ekonomi New Generation Juni 2026, Cek KA yang Sudah Pakai Kursi Captain Seat
Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang KAI dalam menata pelintasan sebidang yang selama ini menjadi salah satu titik rawan kecelakaan.
Dengan hadirnya flyover, interaksi langsung antara kereta api dan kendaraan diharapkan dapat berkurang secara signifikan sehingga keselamatan perjalanan kereta maupun pengguna jalan dapat semakin terjamin.
"Kalau tidak salah ada 40 yang memang harus kita bikinkan flyover-nya. Nah, untuk JPL (jalur pelintasan langsung)-nya sendiri, kami sudah melakukan estimasi kebutuhan dari capex-nya itu sekitar Rp 1,2 triliun. Kebutuhan dari opex-nya itu karena harus ada penjaga," ujar Bobby dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Rabu (3/6/2026).
Bobby menyampaikan bahwa masih terdapat banyak pelintasan sebidang di berbagai daerah yang belum didukung sistem penjagaan yang memadai.
Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam upaya meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api dan pengguna jalan.
Berdasarkan data yang dimiliki KAI, sebanyak 172 jalur pelintasan (JPL) dengan lebar jalan di bawah 2 meter telah ditutup.
Sementara itu, terdapat 1.683 JPL dengan lebar jalan lebih dari 2 meter yang menjadi prioritas dalam program peningkatan keselamatan.
Dari jumlah tersebut, KAI menetapkan 40 lokasi sebagai fokus pembangunan jalan layang (flyover). Adapun 1.638 titik lainnya akan diperkuat dengan pemasangan portal maupun perangkat keselamatan tambahan guna meminimalkan risiko kecelakaan.
Bobby juga mengungkapkan bahwa perusahaan membutuhkan anggaran operasional sekitar Rp 700 miliar setiap tahun.
Dana tersebut antara lain digunakan untuk mendukung keberadaan sekitar 8.000 petugas penjaga pelintasan serta membiayai berbagai kebutuhan operasional teknis lainnya.
"Kami sudah hitung, dari 1.638 pelintasan kita akan butuh lebih dari 8.000 petugas jaga yang cost-nya itu sekitar Rp 700 miliar per tahun," ujar dia.
Sebagai informasi, KAI telah menutup 116 pelintasan sebidang di berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari program penataan dan pengurangan potensi kecelakaan antara perjalanan kereta api dan pengguna jalan.
Langkah tersebut dilakukan di tengah masih tingginya jumlah pelintasan sebidang di Indonesia yang mencapai sekitar 3.674 hingga 4.000 titik.
Dari jumlah tersebut, terdapat sekitar 1.810 pelintasan yang tidak dijaga dan menjadi fokus penanganan pemerintah bersama KAI.
Sebanyak 172 titik prioritas ditargetkan untuk ditutup secara bertahap, terutama pelintasan liar maupun pelintasan tidak dijaga dengan lebar jalan kurang dari 2 meter.
Untuk pelintasan tidak dijaga yang memiliki lebar jalan lebih dari 2 meter, KAI menyiapkan langkah mitigasi melalui pemasangan portal pengaman guna membatasi akses kendaraan dan meningkatkan keselamatan.
Percepatan penataan pelintasan ini dilakukan sebagai respons atas tingginya angka kecelakaan di pelintasan sebidang.
Dalam periode 2023 hingga 24 Mei 2026, tercatat sebanyak 1.074 kecelakaan dengan total korban mencapai 964 orang, termasuk 370 korban meninggal dunia.
Baca juga: 116 Pelintasan Ditutup, Upaya Kurangi Risiko di Jalur Kereta