Saham BBCA dan BBRI Jatuh ke Level Terendah 5 Tahun, Saatnya Beli?
– Saham BBCA dan saham BBRI terperosok ke level terendah dalam lima tahun terakhir setelah dibayangi aksi jual investor asing sepanjang tahun ini.
Di tengah koreksi yang dalam, sejumlah analis justru menilai kondisi tersebut dapat menjadi peluang bagi investor untuk mulai melakukan akumulasi secara bertahap.
Tekanan terhadap kedua saham perbankan berkapitalisasi besar itu terjadi seiring pelemahan pasar saham domestik. Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,70 persen atau turun 101,28 poin ke level 5.839,78.
Baca juga: IHSG Hari Ini Berpeluang Menguat, Saham ADMR, RAJA, PTBA Berpotensi Cuan
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 623 saham ditutup melemah, 106 saham menguat, dan 85 saham stagnan.
Nilai transaksi mencapai Rp 25,33 triliun dengan volume perdagangan 39,31 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 2,29 juta kali. Sementara kapitalisasi pasar BEI tercatat sebesar Rp 10.284,95 triliun.
Saham BBCA dan BBRI kembali ke level lima tahun lalu
Pada penutupan perdagangan Kamis (4/6/2026), saham BBCA turun 1,81 persen ke level Rp 5.425 per saham. Secara tahun berjalan (year to date/YtD), harga saham BBCA telah terkoreksi 32,82 persen.
Sementara itu, saham BBRI merosot lebih dalam, yakni 3,10 persen ke level Rp 2.810 per saham. Sepanjang 2026, saham bank pelat merah tersebut telah turun 23,22 persen.
Jika dibandingkan dengan posisi pada 4 Juni 2021, harga BBCA kini telah melemah 17,80 persen, sedangkan BBRI turun lebih dalam hingga 33,94 persen.
Baca juga: IHSG Dibuka Melemah, Lalu Rebound ke Level 5.844 Pagi Ini
Kondisi ini menjadikan kedua saham tersebut berada di titik terendah dalam lima tahun terakhir.
Adapun saham bank besar lainnya, yakni PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), juga mengalami tekanan. Namun, harga kedua saham tersebut masih berada di atas level yang dicatatkan lima tahun lalu.
Investor asing ramai-ramai keluar
Penurunan harga saham BBCA dan BBRI tidak terlepas dari derasnya aksi jual investor asing sepanjang tahun ini.
BBCA mencatatkan nilai jual bersih (net sell) asing mencapai Rp 31,34 triliun sepanjang 2026. Sementara net sell asing di saham BBRI mencapai Rp 9,57 triliun.
Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan kepemilikan investor asing di BBCA pada akhir Mei 2026 turun 10,07 persen dibandingkan posisi akhir Desember 2025. Saat ini investor asing menguasai sekitar 36,91 miliar lembar saham BBCA.
Di sisi lain, kepemilikan asing di BBRI juga menyusut 6 persen dibandingkan akhir tahun lalu menjadi sekitar 41,6 miliar lembar saham.
Baca juga: Asing Terus Angkat Kaki, IHSG dan Rupiah Kompak Tersungkur
Rupiah dan BI rate jadi tekanan utama
Senior Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai ada dua faktor utama yang menekan saham-saham perbankan besar, yakni kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Menurut dia, keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,25 persen pada Mei 2026 sempat memicu kekhawatiran investor terhadap prospek kinerja sektor perbankan sehingga mendorong aksi jual.
Meski demikian, Nafan menilai dampak kenaikan suku bunga tersebut cenderung bersifat jangka pendek karena fundamental bank-bank besar masih terjaga.
"Kinerja empat bank besar sejauh ini masih solid pada empat bulan pertama 2026. BBCA dan BBRI juga masih mencatatkan pertumbuhan laba bersih," ujarnya.
Baca juga: Asing Net Sell Rp 1,43 Triliun, Saham BBCA, BBRI, Hingga BMRI Dilepas
Ia menambahkan, sentimen yang lebih dominan saat ini berasal dari pelemahan rupiah. Menurut Nafan, sektor perbankan memiliki korelasi kuat dengan kondisi makroekonomi domestik sehingga depresiasi mata uang berpotensi memicu arus keluar dana asing dari pasar saham.
"Sektor perbankan memiliki korelasi erat dengan kondisi makro domestik. Pelemahan kurs rupiah dapat memicu aksi offload investor asing," kata Nafan.
Ia juga menilai BBCA dan BBRI menjadi saham yang paling sensitif terhadap sentimen pasar karena memiliki kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia.
Masih layak dikoleksi?
Di tengah tekanan yang masih berlangsung, Nafan tetap merekomendasikan investor untuk melakukan akumulasi secara bertahap pada saham-saham perbankan besar.
Ia mematok target harga BBCA di level Rp 8.375 per saham dan BBRI sebesar Rp 3.670 per saham.
Pandangan serupa disampaikan Analis Kiwoom Sekuritas Abdul Aziz Setiyo Wibowo. Menurut dia, secara teknikal saham BBCA tengah membentuk pola candle doji, yakni kondisi ketika pergerakan harga berada dalam rentang yang sempit antara kenaikan dan penurunan.
Baca juga: Tebar Dividen Rp 1 per Saham, Pudjiadi Prestige Kejar Untung Lewat Rumah Mewah Lebak Bulus
Jika mampu memantul dari area tersebut, BBCA berpotensi bergerak menuju kisaran Rp 5.875 hingga Rp 5.900 per saham dengan level support di Rp 5.300.
Sementara untuk BBRI, Aziz menilai area support berada di level Rp 2.780 per saham. Ia melihat kondisi saat ini sebagai momentum akumulasi dengan target harga jangka pendek di sekitar Rp 3.070 per saham.
Menurut Aziz, valuasi saham-saham bank besar saat ini sudah berada di level yang relatif murah sehingga dapat menjadi peluang bagi investor yang ingin mulai mengoleksi saham sektor perbankan.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul Investor Asing Kabur, Saham BBCA & BBRI Terjun Bebas: Saatnya Beli?
Tag: #saham #bbca #bbri #jatuh #level #terendah #tahun #saatnya #beli