Harga Minyak Naik 2 Persen Usai Israel Perluas Serangan ke Lebanon
– Harga minyak dunia menguat lebih dari 2 persen pada perdagangan Senin (1/6/2026) setelah Israel memerintahkan pasukannya memperluas operasi militer di Lebanon.
Langkah tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Dikutip dari CNBC, harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, naik 2,45 persen menjadi 93,35 dollar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,8 persen ke level 89,78 dollar AS per barel.
Baca juga: Turun Lagi, Harga Minyak Dunia Selama Mei Anjlok 17 Persen
Harapan gencatan senjata kembali memudar
Lonjakan harga minyak terjadi setelah Israel memperluas operasi militernya di Lebanon. Langkah tersebut menimbulkan kekhawatiran baru mengenai potensi bentrokan yang lebih luas dengan kelompok Hezbollah yang didukung Iran.
Perkembangan ini juga mengurangi optimisme pasar terkait kemungkinan perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Sebelumnya, kedua negara dinilai semakin dekat mencapai kesepakatan lanjutan yang dapat membantu meredakan ketegangan di kawasan.
Eskalasi terbaru muncul hanya beberapa hari setelah pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat antara Israel dan Lebanon berlangsung di Washington pada Jumat (29/5/2026).
Perkembangan tersebut mengurangi optimisme pasar bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin dekat untuk memperpanjang kesepakatan gencatan senjata mereka.
Baca juga: Trump Pastikan Selat Hormuz Tetap Terbuka, Harga Minyak Dunia Langsung Turun
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan dirinya bersama Menteri Pertahanan Yisrael Katz telah menginstruksikan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) untuk memperluas manuver militer di Lebanon.
Perintah tersebut dikeluarkan meskipun kedua pihak sebelumnya telah menyepakati gencatan senjata yang diumumkan pada April lalu.
Risiko pasokan dan permintaan
Di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, Goldman Sachs menilai prospek harga minyak hingga akhir tahun masih menghadapi risiko dari dua arah.
Bank investasi tersebut mempertahankan proyeksi harga Brent pada kuartal IV 2026 di level 90 dollar AS per barel dan WTI sebesar 83 dollar AS per barel.
Namun, Goldman memperingatkan bahwa gangguan pasokan yang berkepanjangan dari Timur Tengah dapat mendorong harga minyak lebih tinggi dari perkiraan.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun saat AS-Iran Tempuh Jalur Diplomasi Lagi
Sebaliknya, pelemahan permintaan global berpotensi menekan harga.
Permintaan dari China dan Eropa melambat
Goldman Sachs mencatat data penjualan ritel bahan bakar minyak pada April di China dan Eropa Barat menunjukkan sinyal pelemahan konsumsi energi.
Kondisi tersebut diperkirakan menciptakan risiko penurunan permintaan sekitar 2 juta barel per hari dibandingkan proyeksi yang telah dibuat sebelumnya.
Meski demikian, untuk saat ini pasar lebih berfokus pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi kelancaran pasokan minyak global dan mendorong volatilitas harga energi dalam jangka pendek.
Tag: #harga #minyak #naik #persen #usai #israel #perluas #serangan #lebanon