Ekonom, Analis Mata Uang, hingga Peneliti Kompak Prediksi BI Rate Naik Hari Ini
Ilustrasi suku bunga. (SHUTTERSTOCK/MONSTER ZTUDIO)
09:44
20 Mei 2026

Ekonom, Analis Mata Uang, hingga Peneliti Kompak Prediksi BI Rate Naik Hari Ini

- Ekonom, analis mata uang, hingga peneliti kompak memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5 persen pada Rapat Dewan Gubernur BI periode Mei 2026.

Head of Macroeconomics and Market Research PermataBank’s PIER Faisal Rachman mengatakan, ruang kenaikan BI Rate pada tahun 2026 kini semakin terbuka karena pelemahan rupiah.

Jadi kita proyeksi kemungkinan akan ada kenaikan 25 basis point itu di Semester I ya, jadi mungkin ada di Mei atau Juni ini BI Rate akan dinaikkan ke 5 persen," ujarnya saat media briefing PIER Economic Review, Selasa (12/5/2026). Faisal melihat, secara historis bank sentral cenderung mulai menaikkan suku bunga ketika pelemahan rupiah telah melampaui 3 persen.

Sementara saat ini, nilai tukar rupiah sudah melemah lebih dari 4 persen.

Baca juga: BI Rate Bisa Naik demi Jaga Rupiah, Apa Dampaknya ke Cicilan Kredit?

Seperti diketahui, rupiah pada Mei 2026 juga terus mencetak level psikologis baru.

Pada perdagangan Selasa (19/5/2026), nilai tukar rupiah ditutup melemah 38 poin atau 0,22 persen ke level Rp 17.706 per dollar AS.

Selain itu, upaya BI menstabilkan rupiah melalui kenaikan imbal hasil (yield) Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga dinilai sudah maksimal.

Sebagai informasi, BI telah menaikkan yield SRBI pada 13 Mei 2026 ke level 6,4 persen.

Besaran ini meningkat 51 bps sejak pertengahan April dan naik 150 bps sejak awal 2026.

Jadi ini kita memang perlu antisipasi.

Tetapi memang risiko faktor ketiga tadi, itu ada dan kami melihat memang peluang BI untuk menaikkan suku bunga acuan ke 5 persen itu terbuka ya saat ini," ucapnya.

Pandangan serupa disampaikan analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong.

Lukman memperkirakan BI akan menaikkan BI Rate sebesar 25 bps dalam RDG BI Mei 2026.

Sebab, pelemahan rupiah mencerminkan sentimen pasar yang negatif terhadap respons pemerintah dan BI dalam menghadapi tekanan nilai tukar.

“(BI Rate akan naik) 25 bps. Pelemahan rupiah ini mencerminkan sentimen yang lemah pada rupiah, investor menganggap pemerintah dan BI tidak cukup cepat bertindak dan menganggap ringan permasalahan di awal-awal, ujar Lukman kepada Kompas.com, Selasa.

Lukman juga meragukan proyeksi penguatan rupiah mulai Juli mendatang seperti yang sebelumnya disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo. Menurut dia, rupiah masih akan tertekan karena dipengaruhi tingginya harga minyak dunia dan sentimen negatif pasar.

Lukman bahkan menilai apabila BI menaikkan suku bunga saat ini pun dampaknya tidak akan terlalu efektif meredam tekanan rupiah karena langkah pengetatan dinilai terlambat dilakukan.

"Kalau dinaikkan lebih awal, mungkin 50 bps sudah mencukupi, saat ini saya lihat 100 atau 150 bps pun sulit meredam tekanan pada rupiah," tukasnya.

Sementara itu, Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menilai, BI perlu segera menggunakan instrumen suku bunga acuan untuk menahan pelemahan rupiah yang terus berlanjut.

Dalam analisisnya, Riefky menyebut rupiah telah melemah 5,5 persen secara year to date dan menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di antara negara berkembang, hanya lebih baik dibandingkan Lira Turki dan Rupee India.

Riefky menilai tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor eksternal, tetapi juga dipengaruhi persoalan domestik seperti kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan fiskal, program populis yang mahal, hingga risiko kewajiban kontingen dari Danantara.

Selain itu, ketidakpastian kebijakan dan kekhawatiran terhadap independensi bank sentral juga dinilai memperburuk sentimen pasar terhadap Indonesia.

Di sisi lain, dia juga menilai berbagai intervensi yang telah dilakukan BI secara maksimal melalui SRBI, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), dan Non-Deliverable Forward (NDF) belum cukup efektif menahan depresiasi rupiah.

"Bank Indonesia harus menaikkan suku bunga kebijakannya sebesar 25 bps menjadi 5 persen pada Rapat Dewan Gubernur mendatang," ujar Riefky dalam hasil penelitiannya dikutip Rabu (20/5/2026).

Menurut Riefky, meski kenaikan suku bunga berpotensi memperlambat pertumbuhan kredit, prioritas utama BI saat ini adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan yang terus meningkat.

"Kenaikan suku bunga BI sebesar 25 bps dianggap wajar dalam lingkungan saat ini," tuturnya.

Baca juga: Rupiah Kini Tembus Rp 17.704, BI Bakal Kerek Suku Bunga?

Tag:  #ekonom #analis #mata #uang #hingga #peneliti #kompak #prediksi #rate #naik #hari

KOMENTAR