Bos Danantara: Saham Blue Chip RI Sangat Murah, tapi Pasar Kehilangan “Cerita”
- Valuasi saham unggulan alias blue chip di Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai masih murah. Namun, pasar saham domestik dipandang kekurangan katalis dan “cerita besar” untuk menarik kembali arus dana asing.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Patria Sjahrir, menilai valuasi saham blue chip saat ini berada di level yang murah, terutama saham sektor perbankan yang menawarkan dividend yield tinggi.
Namun, bursa masih kekurangan katalis, kepercayaan investor, dan cerita pertumbuhan yang kuat untuk menarik arus dana asing kembali masuk.
Ia bahkan menyebut investor saat ini bisa memperoleh dividend yield sekitar 8 persen hingga 11 persen hanya dengan memegang saham-saham bank besar. Menurutnya, imbal hasil dividen tersebut sudah cukup untuk mengurangi biaya investasi sambil menunggu kenaikan harga saham.
“Makanya saya bilang tadi bisa beli (saham) bank, bisa dapat 8-11 persen hanya megang, ya nanti naiknya bagaimana ya itu kan balik modal lewat dividend aja, saya ngurangin cost,” ujar Pandu saat ditemui di gedung BEI, Jakarta, Senin (11/5/2026).
Baca juga: Saham Perbankan Bangkit, Harga Sentuh Level Tertinggi Sepekan
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir saat ditemui di acara Indonesia Economic Summit (IES), di Jakarta, Rabu (4/2/2026).Meski demikian, Pandu menilai pasar modal Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar valuasi murah. Yang paling penting adalah membangun kepercayaan dan cerita pertumbuhan baru di mata investor global.
“Yang kita perlu cerita sekarang, confidence. Sebenarnya economic growth kita juga bagus, somehow not yet reflected (Namun entah bagaimana hal itu belum tercermin),” paparnya.
Ia mengatakan arus dana asing atau foreign flow masih menjadi faktor penting bagi pasar modal tanah air, terutama untuk saham-saham blue chip yang selama ini menjadi target utama investor global.
“Mau enggak mau ya ini kita ngomong apa adanya juga, memang flow itu sangat penting, apalagi flow asing. Ini juga sangat penting di mana kita juga memerlukan flow asing ini, apalagi untuk saham blue chip. Karena kebanyakan dari mereka membeli saham yang disebut blue chip,” lanjutnya.
Lebih jauh, Pandu memastikan bahwa tekanan yang terjadi di pasar saham saat ini lebih banyak dipicu faktor teknikal dibandingkan fundamental perusahaan. Salah satu faktor utama berasal dari arus keluar dana asing akibat penguatan kebutuhan dollar AS dan penyesuaian indeks.
Bahkan, Pandu memperkirakan di kuartal II-2026 tekanan teknikal semakin terasa karena pelemahan dollar AS terjadi bersamaan dengan musim pembagian dividen emiten besar.
Kondisi tersebut membuat investor asing harus menjual saham untuk kebutuhan konversi mata uang dan penyesuaian portofolio indeks.
Meski demikian, ia tetap berpandangan saham-saham blue chip Indonesia saat ini berada di level valuasi yang sangat murah.
Tag: #danantara #saham #blue #chip #sangat #murah #tapi #pasar #kehilangan #cerita