Surplus Neraca Perdagangan RI Capai 71 Bulan Beruntun, Ditopang Ekspor Nonmigas
Ilustrasi ekspor. (PIXABAY/AWADPALESTINE)
12:12
4 Mei 2026

Surplus Neraca Perdagangan RI Capai 71 Bulan Beruntun, Ditopang Ekspor Nonmigas

- Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus neraca perdagangan secara kumulatif Januari-Maret 2026 mencapai 5,55 miliar dollar AS, memperpanjang tren surplus menjadi 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, surplus tersebut terutama ditopang oleh kinerja ekspor komoditas nonmigas yang masih solid, meskipun sektor migas masih mengalami tekanan.

“Hingga bulan Maret 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar 5,55 miliar dollar AS. Surplus ini ditopang oleh komoditas nonmigas sebesar 10,63 miliar dollar AS, sementara komoditas migas masih mengalami defisit 5,08 miliar dollar AS,” ujar Ateng dalam rilis BPS di Kantor BPS Pusat pada Senin (4/5/2026).

Baca juga: Ekspor Maret Turun 3,10 Persen, Migas dan Nonmigas Melemah

Dari sisi ekspor, nilai kumulatif pada Januari-Maret 2026 tercatat sebesar 66,85 miliar dollar AS atau tumbuh tipis 0,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kinerja ini kata Ateng, terutama didorong oleh sektor industri pengolahan yang mencatatkan pertumbuhan ekspor 3,96 persen menjadi 54,98 miliar dollar AS.

BPS mencatat tiga negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia masih didominasi oleh Tiongkok, Amerika Serikat, dan India, dengan kontribusi gabungan mencapai 44,48 persen dari total ekspor nonmigas.

Sedangkan China menjadi pasar terbesar dengan nilai 16,50 miliar dollar AS atau 25,94 persen, diikuti Amerika Serikat 7,29 miliar dollar AS atau 11,46 persen, dan India 4,50 miliar dollar AS setara dengan 7,08 persen.

Komoditas unggulan ekspor ke China meliputi besi dan baja, nikel, serta bahan bakar mineral. Sementara ekspor ke Amerika Serikat didominasi mesin dan perlengkapan elektrik, alas kaki, serta pakaian rajutan.Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam rilis BPS di Kantor BPS Pusat pada Senin (4/5/2026).KOMPAS.com/DEBRINATA RIZKY Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam rilis BPS di Kantor BPS Pusat pada Senin (4/5/2026).

Di sisi lain, impor Indonesia menunjukkan pertumbuhan lebih tinggi. Nilai impor kumulatif hingga Maret 2026 mencapai 61,30 miliar dollar AS, naik 10,05 persen secara tahunan.

Impor nonmigas menjadi kontributor utama dengan nilai 52,97 miliar dollar AS atau meningkat 12,16 persen, sementara impor migas turun 1,72 persen menjadi 8,33 miliar dollar AS.

Baca juga: Impor RI Februari 2026 Naik 10,85 Persen, Neraca Perdagangan Tetap Surplus

Berdasarkan penggunaannya, impor bahan baku/penolong masih mendominasi dengan nilai 43,17 miliar dollar AS, tumbuh 6,89 persen.

Namun, lonjakan tertinggi terjadi pada impor barang modal yang naik 24,02 persen menjadi 12,98 miliar dollar AS, mengindikasikan peningkatan aktivitas investasi. Adapun impor barang konsumsi tercatat 5,15 miliar dollar AS atau tumbuh 6,12 persen.

Dari sisi negara asal, China masih menjadi pemasok utama impor nonmigas Indonesia dengan nilai 22,02 miliar dollar AS, diikuti Australia 3,14 miliar dollar AS, dan Jepang 2,90 miliar dollar AS. Ketiga negara tersebut menyumbang lebih dari separuh total impor nonmigas.

Sementara itu, surplus nonmigas sepanjang Januari-Maret 2026 masih ditopang oleh komoditas utama seperti lemak dan minyak hewan/nabati sebesar 8,68 miliar dollar AS, bahan bakar mineral 6,22 miliar dollar AS, besi dan baja 4,29 miliar dollar AS, nikel dan turunannya 3,24 miliar dollar AS, serta alas kaki 1,49 miliar dollar AS.

Tag:  #surplus #neraca #perdagangan #capai #bulan #beruntun #ditopang #ekspor #nonmigas

KOMENTAR