Lalu Lintas Selat Hormuz Terbatas, Supertanker Irak Diduga Berhasil Melintas
– Pergerakan kapal tanker di Selat Hormuz terpantau terbatas dalam beberapa hari terakhir, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan tersebut.
Mengutip Bloomberg, Minggu (3/5/2026), data pelacakan otomatis menunjukkan sebuah kapal tanker supar pengangkut minyak mentah Irak diduga telah melintasi Selat Hormuz.
Kapal jenis very large crude carrier (VLCC) bernama Kin A, yang juga dikenal sebagai Helga, sebelumnya terdeteksi berada di terminal Basra, Irak, sebelum bergerak menuju Selat Hormuz.
Baca juga: Kami seperti Bajak Laut di Selat Hormuz, Ambil Minyak, Ambil Kargo
Pada Sabtu (3/5/2026), kapal tersebut muncul di layar pelacakan di lepas pantai Duqm, Oman. Berdasarkan jarak tempuh dan jeda waktu sinyal, kapal itu diperkirakan telah menyeberangi Selat Hormuz pada Rabu sebelumnya.
Analisis citra satelit juga menunjukkan keberadaan VLCC di lokasi tambatan yang sama di Basra sebagaimana ditunjukkan oleh sinyal Kin A.
Namun, identitas kapal tidak dapat dipastikan dari citra tersebut. Jika pergerakan ini valid, maka Kin A menjadi salah satu dari sekitar belasan VLCC non-Iran yang melintasi Selat Hormuz sejak awal Maret 2026.
Riwayat operasional Kin A turut menjadi sorotan. Kapal ini sebelumnya diketahui mengangkut minyak Venezuela ke Asia serta terlibat dalam aktivitas penyimpanan dan alih muat minyak di wilayah Kepulauan Riau, kawasan yang kerap dikaitkan dengan aktivitas “shadow fleet”.
Baca juga: Iran Ajukan Proposal Baru ke AS, Selat Hormuz Masih Ditutup
Selat Hormuz. Daftar Jalur Distribusi Minyak Paling Penting di Dunia, Nomor 1 Bukan Selat Hormuz
Selain itu, kapal tanker gas berukuran besar Sarv Shakti yang mengangkut liquefied petroleum gas (LPG) menuju India juga tercatat keluar dari Selat Hormuz pada Sabtu (2/5/2026) pagi.
Sementara itu, satu kapal tanker gas lain dengan ukuran serupa dan terkait India terpantau melintas ke arah sebaliknya.
Di luar tiga kapal tersebut, lalu lintas komersial di Selat Hormuz sejak Jumat pagi hingga Sabtu siang relatif sepi. Data pelacakan hanya menunjukkan pergerakan kapal-kapal kecil yang terkait dengan China atau Iran.
Terbatasnya aktivitas ini mengindikasikan bahwa akses ke Selat Hormuz kemungkinan hanya diberikan kepada kapal tertentu yang memiliki keterkaitan atau persetujuan regional.
Pada Sabtu pagi, pergerakan kapal keluar dari Teluk Persia juga masih minim.
Baca juga: Penutupan Selat Hormuz Ubah Jalur Perdagangan, Pengiriman Dialihkan Lewat Darat, Ini Rutenya
Selain Sarv Shakti, hanya terdapat beberapa kapal lain yang terdeteksi meninggalkan kawasan, yakni kapal kargo curah yang terkait China, kapal tanker produk minyak berukuran kecil, serta kapal pengangkut aspal atau bitumen yang terafiliasi Iran.
Kapal-kapal yang melintas dengan sinyal Automatic Identification System (AIS) aktif dalam 24 jam terakhir pun hanya bergerak di jalur sempit di bagian utara yang disetujui oleh Teheran.
Sejumlah kapal yang terafiliasi Iran bahkan dilaporkan tertahan di Teluk Oman. Namun, belum dapat dipastikan apakah kondisi ini disebabkan oleh penyesuaian rute pelayaran atau dampak dari blokade Angkatan Laut Amerika Serikat yang ditempatkan di wilayah timur luar teluk.
Di sisi lain, kapal yang masuk ke Teluk Persia pada Sabtu pagi mencakup satu kapal tanker produk minyak dan satu kapal kargo curah terkait Iran.
Baca juga: Trump Nyatakan Perang Iran Berakhir, Apa yang Akan Terjadi Setelahnya?
Sebelumnya, pada Jumat (1/5/2026), juga tercatat pergerakan kapal kargo curah, tanker bahan bakar, serta kapal pengangkut agregat menuju kawasan tersebut.
Pembatasan oleh Amerika Serikat juga diduga mendorong kapal-kapal terkait Iran untuk mematikan sinyal pelacakan guna menghindari deteksi.
Praktik ini menyulitkan pemantauan lalu lintas secara akurat karena kapal baru akan kembali menyalakan sinyal setelah berada jauh dari wilayah berisiko.
Bahkan sebelum pembatasan terbaru diberlakukan, kapal-kapal terkait Iran telah lazim mematikan sinyal saat memasuki Selat Hormuz.
Sinyal biasanya baru diaktifkan kembali ketika kapal telah mendekati Selat Malaka di Asia Tenggara, sekitar 13 hari pelayaran dari Pulau Kharg di Iran.
Baca juga: Warga AS Marah Besar Harga Bensin Naik Tertinggi, Caci Maki Trump
Karena kapal dapat berlayar tanpa mengirimkan lokasi hingga berada jauh dari Selat Hormuz, pemantauan dilakukan dengan mengompilasi sinyal dari area yang lebih luas, termasuk Teluk Oman, Laut Arab, hingga Laut Merah.
Data tersebut kemudian dianalisis untuk memastikan apakah pergerakan kapal benar terjadi atau merupakan hasil manipulasi sinyal (spoofing).
Tag: #lalu #lintas #selat #hormuz #terbatas #supertanker #irak #diduga #berhasil #melintas