Industri Holtikultura RI Hadapi Tantangan Iklim dan Kenaikan Biaya Produksi
- Industri hortikultura nasional menghadapi tekanan besar akibat perubahan iklim dan kenaikan biaya produksi. Untuk menjaga keberlanjutan pasokan, PT East West Seed Indonesia (Ewindo) fokus mengembangkan varietas benih unggul yang adaptif terhadap berbagai kondisi lingkungan.
Managing Director Ewindo, Glenn Pardede, mengatakan bahwa keberlanjutan sistem pangan sayuran sangat bergantung pada ketersediaan benih berkualitas. Hal ini menjadi krusial karena sayuran merupakan komoditas yang harus dikonsumsi dalam kondisi segar dan tidak dapat disimpan lama.
“Yang diperlukan itu kontinuitas suplai, karena sayur tidak bisa disimpan lama, harus selalu fresh. Maka benih harus selalu tersedia agar pasokan terjaga sampai ke konsumen,” ujar Glenn di Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Ia menjelaskan, penggunaan benih unggul terbukti mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan. Berdasarkan riset internal, benih berkualitas dapat mendongkrak hasil panen hingga 20–50 persen, sehingga menjadi kebutuhan utama bagi petani dalam menghadapi tekanan biaya dan cuaca ekstrem.
“Benih dengan kualitas unggul bisa meningkatkan hasil 20 sampai 50 persen. Itu sebabnya petani sangat membutuhkan benih unggul agar produksinya optimal,” jelasnya.
Baca juga: Petani Holtikultura Terpaksa Buang Hasil Panen karena Tak Ada yang Membeli
Namun demikian, tantangan yang dihadapi sektor pertanian pada 2026 dinilai semakin kompleks. Selain fenomena El Nino yang berpotensi mengganggu produksi, kenaikan harga input seperti pupuk dan pestisida yang mencapai sekitar 40 persen, serta lonjakan harga plastik hingga lebih dari 100 persen turut membebani petani.
“Harga pupuk dan pestisida sudah naik sekitar 40 persen, plastik bahkan di atas 100 persen. Ini membuat biaya tanam semakin berat bagi petani,” ungkap Glenn.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Ewindo terus mengembangkan varietas tanaman yang lebih adaptif terhadap kondisi spesifik wilayah, baik dataran rendah maupun dataran tinggi.
Perbedaan karakter lingkungan dinilai membutuhkan pendekatan genetik yang berbeda agar tanaman tetap produktif dan tahan terhadap penyakit.
“Untuk varietas unggul, yang penting itu harus adaptif. Untuk tanaman cabe misalnya, walaupun dia sama, tapi secara genetik dia berbeda, karena yang satu lebih tahan yang di dataran rendah, harus lebih tahan penyakit dibandingkan yang di dataran tinggi,” katanya.
Selain inovasi benih, Ewindo juga mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, serta memanfaatkan teknologi dan digitalisasi untuk memperkuat edukasi petani.
Perusahaan juga aktif mengembangkan program urban farming dan edukasi pertanian di sekolah sebagai bagian dari upaya meningkatkan konsumsi pangan sehat.
“Kami percaya benih unggul harus diikuti praktik budidaya yang benar. Karena produk bagus tidak akan optimal kalau petani tidak memahami cara tanam yang tepat,” tegasnya.
Baca juga: Kementan Siapkan Benih Jagung Gratis untuk 1 Juta Hektar Lahan
Tag: #industri #holtikultura #hadapi #tantangan #iklim #kenaikan #biaya #produksi