Rupiah Ditutup Menguat ke Level 17.142, Ini Deretan Sentimennya
Ilustrasi nilai tukar kurs rupiah dan dollar AS(Thinkstockphotos.com/ThamKC)
16:08
21 April 2026

Rupiah Ditutup Menguat ke Level 17.142, Ini Deretan Sentimennya

Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat tipis pada perdagangan Selasa (21/4/2026). Mata uang Garuda naik 26 poin atau 0,15 persen ke level Rp 17.142 per dollar AS.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh dinamika di Timur Tengah.

Terutama masa depan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang masih diliputi ketidakpastian.

“Masa depan perang sebagian besar masih belum pasti, di tengah sinyal yang saling bertentangan tentang apakah pembicaraan damai AS-Iran lebih lanjut akan berlangsung,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Selasa sore ini.

Baca juga: Jalan Menuju Kurs Rupiah Berdaulat

Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa delegasi yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance akan melakukan perjalanan ke Pakistan untuk melanjutkan pembicaraan pada pekan ini.

Namun, pejabat Iran menyatakan perundingan sulit terwujud selama AS masih mempertahankan blokade angkatan laut terhadap negaranya.

Meski demikian, sejumlah laporan menyebut Teheran telah memberi sinyal kepada mediator regional bahwa mereka akan mengirim delegasi ke Islamabad.

Di sisi lain, gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran dijadwalkan berakhir pada Rabu.

Trump juga memberi indikasi bahwa perpanjangan kesepakatan tersebut kecil kemungkinan terjadi.

Kondisi ini semakin mempertegang pasar, terutama setelah aksi militer terbaru AS yang menembaki dan menangkap kapal berbendera Iran pada akhir pekan lalu.

Selain perkembangan konflik geopolitik, perhatian pasar juga tertuju pada sidang konfirmasi Warsh yang dijadwalkan berlangsung pukul 10.00 ET (14.00 GMT). Independensi Warsh dari pengaruh Trump menjadi isu utama, mengingat Presiden AS tersebut secara konsisten mendorong penurunan suku bunga.

Pencalonan Warsh dinilai tidak seakomodatif ekspektasi pasar.

Meski mendukung kebijakan suku bunga rendah, ia sebelumnya mengkritik program pembelian aset Federal Reserve dan mendorong neraca bank sentral yang lebih ramping.

Di tengah tekanan global tersebut, Ibrahim menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang solid.

Pemerintah terus mendorong peningkatan investasi dengan menjaga pertumbuhan ekonomi sesuai target, serta menyelaraskan kebijakan fiskal dengan realisasi di lapangan guna menciptakan perbaikan ekonomi yang berkelanjutan.

Indonesia saat ini mengarahkan pembangunan tidak hanya pada stabilitas, tetapi juga pada pertumbuhan yang lebih produktif, bernilai tambah, dan mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas.

Transformasi ini ditopang oleh tiga pilar utama, yakni investasi, industrialisasi, dan peningkatan produktivitas.

Kinerja ekonomi domestik juga dinilai relatif kuat dibandingkan negara G20 dan negara berkembang lainnya.

Hal ini didukung oleh pertumbuhan yang stabil, inflasi yang terjaga, serta defisit dan rasio utang yang tetap terkendali.

Peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai shock absorber dinilai krusial dalam menjaga daya beli masyarakat, sekaligus mempertahankan disiplin fiskal di bawah batas defisit 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Pemerintah juga mengoptimalkan sinergi kebijakan fiskal dan moneter, serta memanfaatkan peran Danantara dalam mendorong investasi di luar APBN.

Ibrahim menambahkan, krisis energi global akibat konflik geopolitik saat ini menjadi pengingat pentingnya reformasi struktural yang telah dilakukan Indonesia jauh sebelum krisis terjadi.

Ketahanan energi nasional dinilai tidak hanya bergantung pada langkah darurat, tetapi juga pada efisiensi proses dan perizinan.

Dalam hal ini, pemerintah terus mempercepat reformasi melalui penyederhanaan perizinan, pembentukan task force de-bottlenecking, serta pengurangan hambatan impor energi.

Sementara itu, di tengah penyesuaian harga global, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun mengalami kenaikan, namun masih berada dalam asumsi pemerintah.

Kondisi ini mencerminkan kredibilitas fiskal Indonesia yang mampu menyerap tekanan kenaikan harga energi tanpa mengorbankan perlindungan terhadap kelompok rentan maupun melampaui batas defisit.

Meskipun sempat terjadi arus keluar devisa sebesar 1,8 miliar dollar AS dan depresiasi nilai tukar rupiah, defisit fiskal tetap terjaga di bawah 3 persen dan cadangan devisa berada pada level yang memadai.

Hal itu menunjukkan kredibilitas makro-finansial Indonesia tetap kuat, bahkan dalam situasi tekanan global, termasuk dalam menjaga ketahanan energi nasional.

Baca juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Level 17.168

Tag:  #rupiah #ditutup #menguat #level #17142 #deretan #sentimennya

KOMENTAR