Harga Emas Dunia Anjlok 1,9 Persen, Ketegangan Selat Hormuz Picu Gejolak Pasar
- Harga emas dunia turun tajam pada perdagangan awal pekan ini, seiring kembali memanasnya konflik di Timur Tengah.
Mengutip Bloomberg, pada Senin (20/4/2026) pagi, harga emas di pasar spot tercatat di kisaran 4.740 dollar AS per troy ons, turun sekitar 1,9 persen dibandingkan penutupan akhir pekan lalu. Penurunan ini sekaligus menghapus kenaikan harga emas pada pekan sebelumnya.
Pelemahan harga emas terjadi setelah insiden penembakan kapal di Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran baru terhadap gangguan pasokan energi global.
Baca juga: Harga Minyak Melonjak Lebih dari 7 Persen Imbas Selat Hormuz Ditutup Lagi
Presiden AS, Donald Trump menyatakan Angkatan Laut Amerika Serikat menembaki dan menyita kapal kargo berbendera Iran. Di sisi lain, Teheran memperingatkan bahwa kapal yang mendekati kawasan tersebut akan dianggap melanggar gencatan senjata.
Akibat situasi tersebut, sejumlah kapal terpaksa membatalkan pelayaran hanya beberapa jam setelah Iran sebelumnya menyatakan Selat Hormuz “sepenuhnya terbuka”.
Di lapangan, ketegangan juga berdampak pada aktivitas pelayaran. Salah satu kapal milik Pertamina International Shipping sempat melintasi selat tersebut saat jalur dibuka.
Namun, kondisi kembali berubah setelah Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz ditutup akibat konflik yang masih berlangsung, termasuk serangan Israel di Lebanon.
Baca juga: Buka-Tutup Selat Hormuz, Kapan Harga Plastik Bisa Turun?
Juru Bicara Kepresidenan Iran, Mehdi Tabatabaei, menegaskan bahwa blokade kembali dilakukan karena pelanggaran kepercayaan dan propaganda yang terus berulang.
Pasar bereaksi cepat
Ketegangan geopolitik membuat pasar keuangan global langsung bergejolak. Investor yang sebelumnya mencari perlindungan di emas mulai melepas posisi.
Analis Capital.com, Kyle Rodda, menyebut bahwa perdagangan yang dipicu oleh situasi perang kembali mendominasi pasar, sehingga emas justru banyak dilepas oleh investor.
"Transaksi berbasis sentimen perang kembali terjadi, dan itu berarti emas sedang dilepas,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pergerakan pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan berita, sehingga berpotensi mengalami volatilitas dua arah yang tinggi dalam waktu singkat.
Ilustrasi harga emas dunia.
Baca juga: Harga Emas Dunia Stabil, Pelaku Pasar Cermati Isu Perdamaian AS-Iran
Harga energi melonjak, inflasi mengintai
Di sisi lain, harga energi kembali naik. Harga minyak mentah Brent tercatat melonjak sekitar 6,8 persen ke kisaran 96 dollar AS per barel pada perdagangan pagi.
Lonjakan harga energi ini memperkuat kekhawatiran inflasi global, terutama jika konflik terus berlanjut dan mengganggu distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah.
Kondisi tersebut membuat bank sentral berpotensi menahan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka ruang kenaikan lanjutan.
Dollar AS menguat, harga emas tertekan
Selain faktor geopolitik dan energi, penguatan dollar AS turut menekan harga emas. Indeks dollar tercatat naik sekitar 0,2–0,3 persen.
Karena emas diperdagangkan dalam dollar AS, penguatan mata uang tersebut membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor global, sehingga menekan permintaan.
Perkembangan terbaru juga mengganggu peluang pembicaraan damai yang direncanakan berlangsung dalam waktu dekat.
Baca juga: Harga Emas Dunia Naik, Perak Melonjak Lebih dari 2 Persen
Trump menyebut masih ada peluang kesepakatan, namun di saat yang sama kembali melontarkan ancaman terhadap infrastruktur Iran. Sementara itu, Teheran menilai tidak ada prospek yang jelas untuk negosiasi yang produktif.
Situasi ini menunjukkan rapuhnya gencatan senjata yang ada.
Kebijakan suku bunga jadi penentu
Konflik yang berkepanjangan telah memicu guncangan pasokan energi dan memperkuat tekanan inflasi. Dampaknya, kebijakan suku bunga menjadi faktor kunci bagi pergerakan emas.
Emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding), sehingga menjadi kurang menarik ketika suku bunga tinggi.
Sejak konflik memanas pada akhir Februari, harga emas tercatat telah turun sekitar 10 persen.
Pelaku pasar kini juga menantikan arah kebijakan bank sentral AS, termasuk sidang konfirmasi terhadap Kevin Warsh.
Baca juga: Iran Benar-benar Ogah Lanjut Berunding Selama Blokade AS Belum Dicabut
Head of cross asset strategy Amundi, Lorenzo Portelli, menilai tekanan inflasi akibat lonjakan energi kemungkinan hanya bersifat sementara, bukan berkelanjutan.
Ia juga menyebut inflasi inti masih relatif terkendali dan lebih stabil dibandingkan saat krisis energi pada 2022, sehingga mengurangi kebutuhan bank sentral untuk mengambil kebijakan moneter yang lebih agresif.
Pergerakan harga emas ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah, arah harga energi, serta kebijakan suku bunga global.
Tag: #harga #emas #dunia #anjlok #persen #ketegangan #selat #hormuz #picu #gejolak #pasar