Terpaksa Diet Kopi Susu
MENIKMATI segelas es kopi susu di sela-sela kegiatan sehari-sehari sudah menjadi gaya hidup terkini di tengah masyarakat.
Kalau dulu penikmat kopi hanya terbatas kepada "pria" atau "bapak-bapak" saja, sekarang hampir semua kalangan gender dan usia menikmati kopi yang diolah secara kreatif melalui es kopi susu kekinian.
Perpaduan rasa manis dari sirup, creamy dari susu dan pahit khas ekstrasi kopi menjadi pendamping aktifitas masyarakat sehari-hari. Sangat berbeda dengan wajah kopi yang dulu hanya terbatas pahit dan hitam pekat saja.
Seiring dengan meluasnya pangsa penikmat kopi susu, hal ini pun menjadi alasan menjamurnya jumlah kedai kopi di berbagai daerah di Indonesia.
Tentunya skala kedai kopi ini mayoritas pada skala kecil hingga menengah atau disebut UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah).
Baca juga: Jejak Komoditas pada Lonjakan Kesejahteraan Petani
Namun penikmat es kopi susu nampaknya akan terancam untuk menikmati kopi susu karena adanya beberapa isu yang terjadi di dalam dan di luar negeri.
Isu terkini akibat perang antara Amerika Serikat dan Iran yaitu meningkatnya harga komoditas plastik. Ketegangan geopolitik ini mengganggu pasokan energi dan minyak mentah, yang menjadi bahan dasar plastik.
Saat ini kebanyakan warung kopi kekinian menggunakan gelas plastik sekali pakai sebagai wadah yang mudah digunakan dan dibawa oleh pelanggan.
Selain itu, isu dalam negeri terkait adanya kelangkaan susu varian full cream di pasaran yang salah satu isunya terjadi karena banyak digunakan untuk mendukung Program Pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG).
Padahal, susu UHT full cream menjadi salah satu bahan baku utama dalam membuat kopi susu yang nikmat. Kelangkaan ini terjadi pada beberapa wilayah di Indonesia, dari Kalimantan, Sulawesi hingga Sumatera.
Bahkan, Komisi II dan DPRD Kotabaru, Kalimantan Selatan bersama Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan telah melakukan sidak ke beberapa minimarket sebagai tindak lanjut atas keluhan masyarakat yang kesulitan mendapatkan susu UHT full cream dalam beberapa waktu terakhir.
Dalam siklus rantai ekonomi, kelangkaan suatu komoditas akan mengakibatkan kenaikan harga jika permintaan tinggi namun pasokan terbatas.
Terbersit di pikiran saya, seandainya penyelenggara program MBG bisa lebih bervariasi memberikan rasa susu UHT kepada anak sekolah.
Kedua hal ini membuat pelaku usaha UMKM memutar otak agar kopi susu tetap tersedia kepada penikmatnya.
Sebagai implikasinya, mau tidak mau harga jual pun harus disesuaikan agar pelaku UMKM tetap mendapatkan margin keuntungan.
Baca juga: MBG Reborn: Menakar Keadilan di Piring yang Tepat
Jika terdapat perubahan harga jual ke pasaran, masyarakat pun akhirnya mulai berpikir untuk tetap mengkonsumsi es kopi susu atau mulai menguranginya sebagai upaya mengurangi pengeluaran pribadi alias penghematan.
Yah, hitung-hitung juga kalau bisa sekalian diet, pikirku yang merupakan salah satu penikmat es kopi susu kekinian.
Namun, dampak ini tidak hanya berhenti pada konsumen. Jika konsumsinya menurun, maka pendapatan pelaku UMKM juga akan menurun di tengah tingginya biaya bahan baku yang meningkat dan berisiko terhadap siklus ekonomi khususnya pada level UMKM.
Pemerintah perlu memberi perhatian terhadap isu ini mengingat mayoritas pelaku usaha Indonesia berasal dari sektor UMKM yang turut berperan sebagai salah satu sektor penyumbang PDB dan membuka banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
Tentunya hal ini mendukung penguatan UMKM sebagai salah satu program Asta Cita Pemerintah dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.