Dari Petrodollar ke Programmable Dollar: Pelajaran dari Selat Hormuz
Personel Angkatan Laut Amerika Serikat saat berjaga di kapal USS Monterey (CG 61) yang sedang transit di Selat Hormuz pada 3 Juni 2021.(US NAVY/CHELSEA PALMER via AFP)
16:32
18 April 2026

Dari Petrodollar ke Programmable Dollar: Pelajaran dari Selat Hormuz

DI SEPANJANG sejarah ekonomi dunia, kekuasaan global hampir selalu bertumpu pada tiga simpul utama: energi, jalur perdagangan, dan mata uang dominan.

Ketika ketiganya bertemu, lahirlah arsitektur ekonomi internasional yang mampu menentukan arah pertumbuhan, inflasi, bahkan stabilitas politik lintas negara.

Pada paruh kedua abad ke-20, dunia mengenalnya dalam satu nama besar: petrodollar.

Sejak dekade 1970-an, perdagangan minyak global hampir seluruhnya diselesaikan dalam dolar Amerika Serikat.

Setiap kapal tanker yang bergerak dari Teluk Persia menuju Asia, Eropa, maupun Amerika pada akhirnya memperkuat dominasi dolar sebagai mata uang cadangan dunia.

Selat Hormuz jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab menjadi nadi utama sistem tersebut.

Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melintasi jalur ini, menjadikannya salah satu chokepoint paling strategis dalam geopolitik energi global.

Baca juga: MBG Reborn: Menakar Keadilan di Piring yang Tepat

Namun dinamika terbaru menunjukkan bahwa yang kini dipertaruhkan bukan lagi semata aliran minyak, melainkan sesuatu yang lebih mendasar: masa depan dominasi dolar itu sendiri.

Laporan terbaru menyebutkan bahwa Iran mulai menerapkan pungutan transit bagi kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz dengan skema pembayaran yang dapat dilakukan melalui aset digital, termasuk stablecoin dan instrumen kripto tertentu.

Bahkan terdapat skema tarif sekitar 1 dolar AS per barel, yang menjadikan Selat Hormuz bukan hanya energy chokepoint, tetapi juga mulai bertransformasi menjadi monetary chokepoint baru.

Di titik inilah dunia menyaksikan sebuah pergeseran historis: dari petrodollar menuju programmable dollar.

Petrodollar dan Arsitektur Lama Dominasi Global

Teori hegemonic stability yang dikembangkan Charles Kindleberger menjelaskan bahwa tatanan ekonomi internasional memerlukan satu kekuatan dominan yang menyediakan mata uang utama, likuiditas, dan infrastruktur pembayaran global.

Dalam konteks modern, peran tersebut dijalankan Amerika Serikat melalui kombinasi dolar, pasar Treasury, jaringan perbankan internasional, serta sistem SWIFT.

Dolar bukan sekadar alat tukar, melainkan instrumen kekuasaan. Melalui dominasi dolar, Amerika Serikat mampu memengaruhi arus perdagangan, biaya pendanaan global, dan efektivitas sanksi ekonomi.

Dalam konteks inilah petrodollar menjadi fondasi geopolitik selama puluhan tahun: minyak diperdagangkan dalam dolar, cadangan devisa disimpan dalam dolar, dan transaksi lintas negara melewati infrastruktur dolar.

Namun, teknologi blockchain kini mulai mengubah bentuk dominasi tersebut.

Banyak pihak melihat aset kripto sebagai ancaman bagi dolar. Pandangan ini tidak sepenuhnya tepat.

Yang justru sedang terjadi adalah transformasi dolar ke format digital yang dapat diprogram.

Stablecoin berbasis dolar seperti USDT dan USDC pada dasarnya adalah representasi digital dolar dalam jaringan blockchain.

Nilainya tetap dipatok 1:1 terhadap dolar AS, tetapi ia bergerak lebih cepat, lintas batas, dan relatif tidak bergantung pada jalur perbankan tradisional.

Yang sesungguhnya tengah berlangsung bukan pelemahan dolar, melainkan transformasi bentuk hegemoninya ke dalam ruang digital yang ditopang teknologi blockchain.

Inilah esensi dari istilah programmable dollar. Dolar tidak lagi hadir semata dalam rekening bank dan sistem pembayaran konvensional, tetapi dalam bentuk kode, smart contract, dan dompet digital yang bergerak melampaui batas yurisdiksi nasional.

Paradoksnya, teknologi yang oleh sebagian pihak dianggap akan melemahkan dominasi dolar justru berpotensi memperluas jangkauannya.

Sebagaimana terlihat dari perkembangan stablecoin global, mayoritas kapitalisasi pasar aset digital yang digunakan untuk pembayaran lintas negara tetap berbasis dolar. Dalam konteks ini, yang berubah bukan hegemoninya, melainkan medium distribusinya.

Pelajaran Strategis dari Selat Hormuz

Perkembangan di Selat Hormuz memberikan pelajaran penting tentang bagaimana geopolitik energi kini bertemu langsung dengan geopolitik keuangan digital.

Dalam teori geo-finance, instrumen finansial dapat digunakan sebagai alat tekanan strategis yang efektivitasnya setara dengan kekuatan militer.

Jika sebelumnya kekuatan suatu negara diukur dari kendali atas jalur fisik perdagangan, kini kendali itu meluas ke jalur pembayaran digital.

Iran, sebagai negara yang selama bertahun-tahun menghadapi sanksi finansial, memiliki insentif kuat untuk membangun jalur settlement alternatif di luar kanal dolar tradisional.

Penggunaan stablecoin, yuan, maupun instrumen digital lainnya merupakan bentuk adaptasi terhadap tekanan sanksi dan pembatasan akses ke sistem pembayaran global.

Paradoksnya, sebagian instrumen yang digunakan justru berbasis dolar digital.

Di sinilah letak pelajaran paling penting dari Hormuz: masa depan dominasi dolar mungkin tidak lagi ditentukan oleh jumlah uang kertas yang beredar, melainkan oleh siapa yang menguasai protokol, regulasi, dan infrastruktur digitalnya.

Bagi Indonesia dan negara berkembang lain, dinamika ini bukan isu yang jauh.

Gangguan di Selat Hormuz secara langsung memengaruhi harga energi global, inflasi impor, dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Baca juga: Super Iran

Di saat yang sama, meluasnya penggunaan stablecoin lintas negara dapat mempercepat fenomena crypto-dollarization, yakni kecenderungan pelaku ekonomi menggunakan dolar digital dibanding mata uang domestik.

Jika tidak diantisipasi, kondisi ini dapat mengurangi efektivitas kebijakan moneter nasional.

Karena itu, penguatan arsitektur Rupiah Digital, tata kelola aset digital, serta interoperabilitas sistem pembayaran nasional menjadi agenda yang semakin mendesak.

Membaca Pergerakan Ekonomi Global 

Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari Selat Hormuz bukan hanya tentang minyak atau konflik kawasan.

Ia adalah cermin dari perubahan yang lebih besar: pergeseran bentuk kekuasaan ekonomi global.

Jika dahulu dominasi ditentukan oleh siapa yang menguasai sumur minyak dan armada laut, kini ia mulai ditentukan oleh siapa yang menguasai kode, jaringan, dan protokol pembayaran digital.

Dunia tampaknya sedang bergerak dari era petrodollar menuju era programmable dollar.

Dan mungkin, sejarah akan mencatat bahwa salah satu titik baliknya dimulai dari sebuah jalur sempit bernama Selat Hormuz.

Tag:  #dari #petrodollar #programmable #dollar #pelajaran #dari #selat #hormuz

KOMENTAR