Ketahanan Energi Jadi Tameng RI Hadapi Gejolak Global
Tangkapan layar dari video yang menampilkan Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Wanhar pada hari kedua Indonesia Sustainable Energy Week (ISEW) 2024, Rabu (11/9/2024).(YOUTUBE/KEMENTERIAN ESDM)
20:20
17 April 2026

Ketahanan Energi Jadi Tameng RI Hadapi Gejolak Global

- Sekretaris Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Wanhar menegaskan, ketahanan energi menjadi kunci utama bagi Indonesia dalam menghadapi gejolak global yang kian kompleks, mulai dari konflik geopolitik hingga krisis energi dunia.

Wanhar menyampaikan bahwa dinamika global, termasuk ketegangan di kawasan Timur Tengah dan perlambatan ekonomi global, telah memicu volatilitas harga energi serta gangguan rantai pasok.

Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap perekonomian nasional dan sektor energi dalam negeri.

Baca juga: PLN Kejar 4.118 Proyek Transisi Energi, Meski Dihantam Volatilitas Global

Ilustrasi listrik. PIXABAY/MICHAEL SCHWARZENBERGER Ilustrasi listrik.

“Dalam konteks tersebut, tantangan global semakin menegaskan pentingnya memperkuat kemandirian energi dan industrialisasi berbasis sumber daya sebagai fondasi ketahanan nasional,” ujar Chairani dalam Launching MKI Electricity Connect 2026 di Kantor PLN Pusat, Jakarta Selatan pada Jumat (17/4/2026).

Menurut dia, penguatan sektor ketenagalistrikan tidak hanya bertujuan menjaga pasokan energi, tetapi juga menjadi strategi untuk melindungi perekonomian nasional dari guncangan eksternal.

Selain itu, langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan daya saing industri serta memastikan pembangunan berjalan berkelanjutan.

Wanhar menjelaskan, pemerintah telah menetapkan arah kebijakan energi nasional yang menempatkan kemandirian dan ketahanan energi sebagai pilar utama.

Baca juga: Hadapi Dampak Perang Iran, Australia Kunci Pasokan Energi dari Asia Tenggara

Hal ini diwujudkan melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya domestik, penguatan teknologi dalam negeri, serta peningkatan peran tenaga kerja nasional di sektor ketenagalistrikan.

Ia menambahkan, dalam kerangka kebijakan tersebut, Indeks Ketahanan Energi Nasional dibangun atas dua dimensi utama, yakni kemandirian energi dan ketahanan energi.

Kemandirian energi tecermin dari penurunan ketergantungan impor, peningkatan komponen dalam negeri, serta penguatan investasi nasional.

Ilustrasi listrik, token listrik. Pemerintah pastikan tidak ada lagi program diskon listtik pada 2025. SHUTTERSTOCK/JITTAWIT21 Ilustrasi listrik, token listrik. Pemerintah pastikan tidak ada lagi program diskon listtik pada 2025.

Sementara itu, aspek ketahanan energi diukur melalui keandalan dan keberlanjutan sistem, antara lain kecukupan cadangan energi primer, rasio elektrifikasi nasional, serta tingkat keandalan pasokan listrik.

Baca juga: Krisis Energi Timur Tengah, IEA Prediksi Pemulihan hingga 2 Tahun

Di sisi lain, pemerintah juga terus mendorong percepatan transisi energi sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan tersebut.

Pengembangan energi baru dan terbarukan, seperti tenaga surya, angin, hidro, dan panas bumi, menjadi fokus utama dalam membangun sistem energi yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Wanhar menegaskan, langkah ini sekaligus menjadi upaya Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil serta mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon.

“Penguatan sektor ketenagalistrikan tidak hanya untuk menjaga pasokan energi, tetapi juga sebagai strategi melindungi perekonomian dari guncangan global, meningkatkan daya saing industri, serta memastikan pembangunan yang berkelanjutan dan berdaulat,” kata dia.

Baca juga: KSPI: 9.000 Pekerja Terancam PHK Imbas Perang dan Lonjakan Biaya Energi

Dengan strategi tersebut, pemerintah berharap sektor energi, khususnya ketenagalistrikan, dapat menjadi fondasi kuat dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Tag:  #ketahanan #energi #jadi #tameng #hadapi #gejolak #global

KOMENTAR