Belajar dari Kasus Menantea Jerome Polin, UMKM Wajib Rapi Kelola Keuangan dan Kenali Pasar
- Usaha UMKM berumur panjang perlu memiliki pengenalan target pasar yang matang disertai dengan pencatatan laporan keuangan yang rapi.
Dua faktor tersebut dinilai dapat membuat bisnis bertahan di tengah gempuran pelaku usaha baru.
Ketua Asosiasi Industri Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Indonesia (Akumandiri) Hermawati Setyorini mengatakan, pelaku usaha pemula terutama yang bergerak di sektor makanan dan minuman harus mengetahui target pasar yang akan dibidik.
"Kalau market itu dilihatnya misalnya di tempat itu, usia berapa yang sering lewat, terus lokasi dia itu mudah atau tidak untuk dijangkau," kata dia kepada Kompas.com, Selasa (14/4/2026).
Baca juga: Belajar dari Menantea Jerome Polin, Pelaku UMKM Diimbau Gunakan Sistem Pembayaran Digital
Menurut dia, kadang banyak usaha makanan dan minuman yang berada di tempat ramai seperti persimpangan jalan, tetapi sebenarnya sulit dijangkau karena minimnya ruang atau kondisi yang tidak memungkinkan, misalnya di dekat lampu lalu lintas.
Ia menambahkan, pengenalan pasar juga termasuk di dalamnya memetakan apakah produk yang dijual dapat dinikmati berbagai usia.
Manajemen bisnis perlu diperhatikan
Hermawati mengungkapkan, sektor makanan dan minuman memang bisnis yang tampak menjanjikan, tetapi manajemen pengelolaan juga perlu diperhatikan.
Salah satu yang penting diterapkan adanya dengan menggunakan mesin kasir.
Hal ini akan mengurangi risiko seperti perampokan.
"Itu bisa meminimalkan risiko, itu bisa jadi pertimbangan bagi pelaku usaha untuk hati-hati," ungkap dia.
Bagi bisnis makanan waralaba atau franchise sistem pengadaan barang hingga penggajian karyawan juga merupakan aspek yang penting untuk menjaga bisnis berumur panjang.
"Di luar itu saya enggak ada masalah, selain service, attitude pelayanannya. Tidak ada namanya mukanya cantik tapi cemberut, itu kan nggak bisa," ucap dia.
UMKM harus punya laporan keuangan yang rapi
Perencana Keuangan Independen Andy Nugroho menjelaskan, untuk memulai bisnis UMKM dengan catatan keuangan yang rapi pengusaha perlu memisahkan antara rekening bisnis dan rekening pribadi agar tidak saling bercampur.
"Mencatat setiap transaksi keuangan secara disiplin," kata dia.
Ia menambahkan, pelaku UMKM juga harus menyusun rencana anggaran dan rencana keuangan untuk mengontrol pengeluaran.
Kemudian, pelaku UMKM perlu melakukan manajemen arus kas, termasuk memastikan agar biaya operasional dan promosi tidak lebih besar daripada pendapatan (revenue).
"Dan tentu saja masih tetap harus ada labanya," imbuh dia.
Tak hanya itu, pelaku UMKM juga perlu mengevaluasi laporan keuangan yang dibuat secara rutin dan mencocokkannya dengan kondisi riil saldo keuangannya.
Bisnis Jerome Polin jadi pelajaran
Belakangan muncul kabar bisnis minuman milik kreator konten Jerome Polin disebut menelan kerugian hingga Rp 38 miliar karena penipuan mitra bisnisnya.
Terkait dengan apa yang menimpa Jerome Polin dengan bisnisnya, Andy bilang pemilik usaha harus mau mengecek langsung kondisi bisnis.
"Meskipun kita bertindak sebagai owner dan ada seseorang yang ditugaskan untuk menjadi pengendali operasional bisnis, jangan segan, sungkan, apalagi malas untuk mengecek langsung kondisi di lapangan," ungkap dia.
Ia berpesan, secara berkala pemilik usaha harus melakukan pengecekan kondisi keuangan.
Pemilik perlu mengecek posisi keuangan yang tertulis di pembukuan dan realita yang ada di saldo rekening.
Untuk menghindari penipuan, pelaku usaha juga perlu memahami prosedur dan bagaimana bisnis yang akan dilakukan tersebut berjalan nantinya.
Pelaku UMKM juga harus membuat dan memahami kontrak perjanjian kerja sama secara jelas.
Di saat bisnis belum menunjukkan kemajuan, pemilik usaha juga sebaiknya memiliki cadangan dana yang cukup untuk menutupi kerugian,
"Bila ada kondisi darurat," ungkap dia.
Baca juga: Perubahan PNM Jadi Bank UMKM: Risiko Ekosistem dan Pendampingan?
Ilustrasi UMKM
Sistem kasir digital jadi solusi
Pelaku UMKM harus mulai merapikan catatan keuangan dengan menggunakan sistem kasir dan pembayaran digital untuk meminimalkan tindak penipuan.
Hermawati menilai, saat ini pengusaha dan pelaku UMKM harus menggunakan beberapa metode pembayaran selain tunai seperti QRIS, transfer, hingga auto debet.
"Ini lebih mudah dan account-nya satu," ungkap dia.
Ia menambahkan, pihak manajemen atau operasional harian yang ingin menggunakan dana dari rekening tersebut memerlukan dua tanda tangan atau akses dua orang sebagai bagian dari menjaga keamanan keuangan usaha.
Sedikit catatan, dengan nilai kerugian hingga puluhan miliar bisnis minuman milik Jerome Polin tersebut masuk kategori UMKM kecil menengah.
"Itu pun karena kesalahan dia sendiri sebagai owner, dia tidak teliti dalam hal mengecek keuangannya dia. Itu kesalahan intern, bukan karena market," ucap dia.
Padahal menurut dia, bisnis yang bergerak di sektor makanan dan minuman tersebut dinilai memiliki prospek yang bagus dilihat dari nominalnya.
"Saya juga kaget kenapa Jerome Polin itu data keuangannya menggunakan Excel gitu lho, seharusnya kan dia sudah menggunakan kaya mesin kasir, jangan tunai" ucap dia.
Di sisi lain, Hermawati juga menyoroti bisnis milik influencer dan artis yang biasanya tidak dikerjakan sendiri dengan alasan kesibukan.
"Tidak ada orang yang benar-benar bisa dipercaya dan bertanggung jawab dengan pekerjaannya yang bisa meng-handle itu. Jadi kesalahannya bukan karena kewirausahaannya, tetapi karena manajemen di dalamnya," ungkap dia.
Lebih jauh, ia menjelaskan preseden ini tidak mencerminkan lesunya bisnis makanan dan minuman.
Menurut dia, bisnis sektor makanan ini justru sedang naik daun.
Beberapa contoh bisnis yang berpotensi menghasilkan pendapatan besar misalnya adalah penjualan es teh jumbo yang dinilai memiliki margin keuntungan besar.
"FnB itu termasuk jenis wirausaha yang dia bisa mendapatkan keuntungan besar dibanding misalnya fesyen dan handicraft, tas, sepatu," tutup dia.
Sebagai informasi, kreator konten Jerome Polin rugi hingga Rp 38 miliar di bisnis Menantea sebelum akhirnya menutup seluruh operasionalnya mulai 25 April 2026.
Jerome mengakui kesalahannya di awal berbisnis karena terlalu percaya dan menyerahkan seluruh pengelolaan keuangan pada satu orang.
"Karena dia ini laporan keuangannya selalu dari Excel, dari Excel kita ngecekin laporan keuangannya," ungkap Jerome di Celloszxz.
Percaya pada laporan Excel yang dikirim tanpa berpikir bahwa laporan itu bisa dimanipulasi, Jerome dibuat terkejut ketika pada 2023 mendapati laporan uang di perusahaan habis.
"Ketahuan, Excel itu bohong. Bisa diedit Excel kan," ujar dia.
Dari sana Jerome akhirnya baru mulai memeriksa mutasi rekening.
Ternyata selama ini laporan yang diberikan padanya tak sejalan dengan saldo di rekeningnya.
"Kesalahan gua adalah, gua enggak ngecek mutasi," ungkap dia.
Jerome menyebut keuangan Menantea kosong dan diketahui rugi hingga Rp 38 miliar.
"Jadi duit yang dipindahkan itu sekitar Rp 38 (Miliar), ada beberapa yang dibalikkan untuk bayar operasional," jelas Jerome.
"Total Rp 5-6 miliar yang diambil. Ternyata duitnya itu dipakai buat nutupin lubangnya dia yang lain," timpal dia.
Jerome bahkan menggunakan uang pribadinya untuk melanjutkan operasional Menantea hingga kontrak dengan para Mitra selesai, yaitu di tanggal 25 April 2026 nanti.
Baca juga: Babak Belur UMKM, Terpukul Lonjakan Harga Plastik
Tag: #belajar #dari #kasus #menantea #jerome #polin #umkm #wajib #rapi #kelola #keuangan #kenali #pasar