Rupiah Kembali Ditutup Melemah, Sentuh Rp 17.090 per Dollar AS
ilustrasi(canva.com)
16:44
9 April 2026

Rupiah Kembali Ditutup Melemah, Sentuh Rp 17.090 per Dollar AS

- Nilai tukar rupiah di pasar spot melemah saat penutupan perdagangan Kamis (9/4/2026). Mata uang Garuda terdepresiasi 78 poin atau 0,46 persen ke level Rp 17.090 per dollar AS.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah disebabkan oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali membayangi pasar global, terutama terkait gangguan distribusi energi di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.

Ia menjelaskan, gangguan di Selat Hormuz masih berlanjut meskipun sempat terjadi gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Jalur yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak global tersebut disebut masih menghadapi pembatasan ketat.

Pergerakan kapal memang mulai dibuka secara terbatas, namun aktivitas pengiriman belum sepenuhnya pulih. Iran disebut masih memegang kendali signifikan terhadap lalu lintas dan akses di kawasan tersebut, sehingga risiko gangguan pasokan tetap tinggi.

“Pergerakan kapal yang terbatas dan terkontrol ketat telah dilanjutkan, tetapi gangguan pengiriman tetap ada, dengan Iran mempertahankan kendali signifikan atas transit dan akses, menurut laporan,” ujar Ibrahim kepada wartawan Kamis sore ini.

Baca juga: Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 17.030 per Dollar AS

Di sisi lain, sentimen pasar turut tertekan oleh meningkatnya serangan Israel di Lebanon yang berpotensi merusak gencatan senjata yang masih rapuh. Bahkan, laporan terbaru menyebutkan jalur kapal tanker sempat kembali terhenti pasca serangan tersebut, meskipun pejabat Amerika Serikat mulai memberi sinyal adanya pembukaan kembali secara bertahap.

Situasi semakin kompleks setelah Iran menyatakan bahwa pembicaraan damai dengan Amerika Serikat menjadi “tidak masuk akal” pasca serangan terbaru, yang dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran. Kebijakan ini sempat memicu optimisme pasar terkait potensi normalisasi distribusi energi global. Namun demikian, para analis memperingatkan bahwa gangguan struktural pada rantai pasok dan infrastruktur energi di kawasan tersebut berpotensi membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih sepenuhnya.

Dari sisi kebijakan moneter, risalah Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Maret menunjukkan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) masih membuka peluang penurunan suku bunga tahun ini. Meski demikian, para pejabat The Fed menegaskan perlunya sikap “gesit” dalam merespons ketidakpastian tinggi, terutama akibat konflik geopolitik dan tekanan tarif.

The Fed juga menyoroti inflasi masih berada di atas target, sementara pasar tenaga kerja cenderung stagnan dalam satu tahun terakhir, sehingga arah kebijakan tetap akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi ke depan.

Sementara itu, dari sisi domestik, prospek ekonomi Indonesia turut mendapat sorotan dari lembaga internasional. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 4,7 persen, sedikit lebih rendah dari proyeksi sebelumnya 4,8 persen.

Meski mengalami revisi turun, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik yang diperkirakan hanya mencapai 4,2 persen.

Bank Dunia menilai, prospek ekonomi kawasan dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal, antara lain konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi, kebijakan pembatasan perdagangan di Amerika Serikat, serta ketidakpastian global yang meningkat, termasuk perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI).

Senada, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 4,8 persen dari sebelumnya 5 persen. Penyesuaian ini mencerminkan meningkatnya tekanan global, khususnya akibat lonjakan harga energi dan eskalasi ketegangan geopolitik.

Meski demikian, pemerintah Indonesia tetap optimistis terhadap prospek ekonomi nasional. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 5,4 persen hingga 5,7 persen, dengan potensi mencapai 6 persen melalui transformasi struktural.

Optimisme tersebut didukung oleh penguatan konsumsi domestik, peningkatan investasi, serta implementasi program strategis seperti biodiesel B50. Selain itu, pemerintah juga menekankan pentingnya menjaga kedaulatan pangan dan energi, menjalankan kebijakan fiskal yang prudent, serta mempercepat realisasi investasi guna menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Tag:  #rupiah #kembali #ditutup #melemah #sentuh #17090 #dollar

KOMENTAR