Harga Minyak Dunia Naik, Emas Melemah, Pasar Tersandera Konflik AS-Iran
Ilustrasi harga minyak dunia. (FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO)
08:56
7 April 2026

Harga Minyak Dunia Naik, Emas Melemah, Pasar Tersandera Konflik AS-Iran

- Lonjakan harga minyak dan pelemahan emas menjadi cerminan pasar global yang tersandera konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran, di tengah tarik-menarik antara risiko geopolitik dan arah suku bunga.

Harga minyak dunia menguat pada akhir perdagangan Senin (6/4/2026) waktu setempat atau Selasa (7/4/2026) pagi WIB, seiring meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi global.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent ditutup naik 74 sen atau 0,68 persen ke level 109,77 dollar AS per barrel atau sekitar Rp 1.811.205 per barrel (kurs Rp 16.500). Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 87 sen atau 0,78 persen menjadi 112,40 dollar AS per barrel atau sekitar Rp 1.854.600 per barrel.

Kenaikan ini terjadi di tengah memanasnya retorika antara AS dan Iran, meski kedua negara masih melakukan pembicaraan tidak langsung yang mengarah pada de-eskalasi konflik.

Untuk menekan harga minyak, pasar menilai penghentian serangan harus diikuti dengan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Namun, hingga kini jalur tersebut masih sebagian besar tertutup akibat serangan terhadap kapal sejak konflik dimulai pada 28 Februari 2026.

Baca juga: Kalimat Kasar Trump ke Iran Disebut Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia, Kok Bisa?

Dampak ke konsumen Asia

Dampaknya mulai terasa ke konsumen, terutama di Asia, yang mulai menghemat penggunaan energi akibat terganggunya pasokan.

Meski begitu, data pelayaran menunjukkan beberapa kapal dari negara yang dianggap "bersahabat" oleh Iran masih diizinkan melintas.

"Pasar sedang mencoba memahami apa yang akan terjadi ke depan. Berita paling penting akhir pekan ini adalah bahwa beberapa kapal berhasil melintasi selat," kata analis SEB Research Ole Hvalbye.

Di sisi lain, tekanan geopolitik juga merambat ke pasar logam mulia, namun dengan arah berbeda.

Alih-alih menguat sebagai aset lindung nilai, harga emas justru melemah karena tertahan ekspektasi suku bunga tinggi.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Usai Trump Ultimatum Iran Buka Selat Hormuz

Emas Tertekan Suku Bunga di Tengah Ketidakpastian

Mengutip Reuters, harga emas di pasar spot turun 0,4 persen menjadi 4.654,99 dollar AS per ons atau sekitar Rp 76.807.335 per ons. Sementara kontrak emas berjangka AS naik tipis 0,1 persen ke level 4.684,70 dollar AS per ons atau sekitar Rp 77.297.550 per ons.

Pergerakan ini mencerminkan sikap hati-hati investor yang menunggu kepastian konflik, sekaligus mempertimbangkan arah kebijakan moneter global.

Kepala strategi komoditas global TD Securities, Bart Melek, mengatakan pasar kini dihadapkan pada dua tekanan utama, yakni perang dan suku bunga.

"Fokus pasar kemungkinan akan tetap pada perang dan suku bunga. Jika konflik berlarut-larut, harga minyak akan terus naik akibat pasokan yang semakin ketat, sehingga menambah tekanan inflasi," ujar Melek.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Tembus 110 Dollar AS

Ia menambahkan, lonjakan harga energi berpotensi mempersempit ruang bank sentral, khususnya Federal Reserve (The Fed), untuk menurunkan suku bunga.

"Hal itu membuat bank sentral memiliki ruang yang lebih sempit untuk menurunkan suku bunga dan bahkan bisa memicu kembali pembahasan kenaikan suku bunga jika harga energi terus naik, yang berdampak negatif bagi emas,” lanjutnya.

Sejalan dengan itu, pelaku pasar juga mencermati sejumlah data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini, seperti risalah rapat The Fed bulan Maret, data Personal Consumption Expenditures (PCE), serta indeks harga konsumen (CPI).

Bank sentral AS diketahui mempertahankan suku bunga bulan lalu, dan mayoritas pelaku pasar memperkirakan tidak akan ada pemangkasan suku bunga sepanjang tahun ini.

Selain emas, logam mulia lainnya juga melemah. Harga perak turun 0,3 persen menjadi 72,81 dollar AS per ons atau sekitar Rp 1.201.365 per ons, platinum turun 0,6 persen ke level 1.976,21 dollar AS per ons atau sekitar Rp 32.607.465 per ons, dan paladium merosot 1,1 persen menjadi 1.487,22 dollar AS per ons atau sekitar Rp 24.539.130 per ons.

Sementara itu, dinamika konflik masih terus berkembang. Iran menyatakan telah merumuskan posisi dalam merespons berbagai proposal perdamaian, meski retorika yang muncul menunjukkan sikap yang belum sepenuhnya sejalan dengan upaya gencatan senjata.

"Situasinya sangat dinamis dengan berbagai rencana perdamaian yang terus bermunculan," ujar mitra Again Capital, John Kilduff.

"Retorika dari Iran tampaknya menolak proposal gencatan senjata, tetapi mereka tetap mengizinkan lebih banyak kapal melintasi Selat Hormuz," tambahnya.

Tag:  #harga #minyak #dunia #naik #emas #melemah #pasar #tersandera #konflik #iran

KOMENTAR