Harga Minyak Dunia Tembus 110 Dollar AS
- Harga minyak dunia kembali naik pada awal pekan. Kenaikan dipicu kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah di tengah perang AS-Israel dengan Iran.
Pada Senin (6/4/2026) pagi, minyak mentah Brent naik 1,71 dollar AS atau 1,6 persen ke level 110,74 dollar AS per barel, setara sekitar Rp 1,88 juta.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,71 dollar AS atau 0,6 persen ke 112,25 dollar AS per barel, sekitar Rp 1,91 juta.
Kenaikan ini melanjutkan lonjakan tajam pada akhir pekan lalu. Harga WTI melonjak lebih dari 11 persen pada Kamis. Brent naik hampir 8 persen. Kenaikan ini menjadi yang terbesar sejak 2020 setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan kelanjutan serangan ke Iran.
Baca juga: Rupiah dan Minyak Dunia Jadi Ujian Berat IHSG, Cek Rekomendasi Saham Pekan Ini
Selat Hormuz Jadi Titik Tekanan
Tekanan utama berasal dari Selat Hormuz. Jalur ini menjadi rute utama pengiriman minyak dari Irak, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, hingga Uni Emirat Arab.
Sejak perang pecah pada 28 Februari, jalur ini sebagian besar tertutup akibat serangan Iran terhadap kapal. Gangguan ini memaksa kilang di berbagai negara mencari pasokan alternatif.
Pembelian beralih ke minyak dari Amerika Serikat dan Laut Utara Inggris.
“Pembeli global menawar secara agresif untuk barel (Pantai Teluk AS) dan Brent bahkan naik lebih cepat,” tulis Schork Group.
Ketegangan politik ikut meningkat. Trump mengancam akan menargetkan infrastruktur Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka.
Sebagian kapal masih melintas di jalur tersebut. Data pelayaran mencatat kapal tanker Oman, kapal kontainer Prancis, dan kapal gas Jepang tetap beroperasi. Iran hanya memberi akses ke negara yang dianggap bersahabat.
Baca juga: India Kembali Impor Minyak Iran Setelah 7 Tahun untuk Amankan Pasokan
Pasokan Global Terbatas
Upaya diplomasi belum membuahkan hasil. Iran menolak pertemuan dengan pejabat AS dalam waktu dekat. Rencana perundingan di Islamabad tidak berlanjut.
Dari sisi pasokan, OPEC+ menyepakati kenaikan produksi 206.000 barel per hari untuk Mei. Tambahan ini dinilai belum cukup menutup gangguan pasokan.
Sejumlah produsen kesulitan menaikkan produksi akibat dampak konflik. Pasokan Rusia juga sempat terganggu setelah serangan drone Ukraina ke terminal ekspor di Laut Baltik.
Terminal Ust-Luga baru kembali beroperasi setelah beberapa hari mengalami gangguan.