Energi Global Bergejolak, Pertamina Percepat EBT
Strategi percepatan pengembangan energi baru terbarukan Pertamina ditujukan untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah gejolak energi global di Jakarta.(DOK. PERTAMINA)
07:12
4 April 2026

Energi Global Bergejolak, Pertamina Percepat EBT

Gejolak energi global yang memicu ketidakpastian pasokan dan harga mendorong PT Pertamina (Persero) mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT) sebagai fondasi ketahanan energi nasional.

Langkah ini menjadi strategi jangka panjang untuk menjaga stabilitas energi sekaligus membuka peluang ekonomi baru berbasis energi bersih.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron menegaskan, pengembangan EBT merupakan bagian dari upaya memperkuat kemandirian energi nasional.

“Dinamika geopolitik global mempengaruhi stabilitas pasokan dan harga energi fosil. Oleh karena itu, Pertamina terus memperkuat bauran energi melalui pengembangan energi baru terbarukan,” ujar Baron, melalui keterangannya, dikutip Sabtu (4/4/2026).

“Upaya ini tidak hanya meningkatkan independensi energi nasional, tetapi juga menjadi bagian untuk energi yang lebih bersih bagi lingkungan,” lanjut dia.

Baca juga: KEK Industropolis Batang Gandeng JPEN, Kembangkan EBT 180 MW

Produksi Energi Bersih Terus Tumbuh

VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron dalam acara media briefing di Kantor Pertamina, Jakarta, Rabu (26/11/2025). KOMPAS.com/YOHANA ARTHA ULY VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron dalam acara media briefing di Kantor Pertamina, Jakarta, Rabu (26/11/2025). Hingga akhir 2025, Pertamina mencatat produksi energi bersih mencapai 8.743 gigawatt per jam (GWh) dari berbagai sumber rendah karbon, dengan kapasitas terpasang sebesar 3.271 megawatt (MW).

Kontribusi tersebut berasal dari PLTBg sebesar 2,4 MW, gas to power dari Jawa Satu Power sebesar 1.760 MW, serta gas to power dari Pertamina Power Indonesia sebesar 12,9 MW.

Selain itu, pembangkit listrik tenaga surya dari Pertamina Power Indonesia mencapai 55,3 MW, sementara panas bumi menyumbang 772,5 MW.

Di tingkat regional, ekspansi juga dilakukan melalui kepemilikan saham Pertamina New & Renewable Energy pada perusahaan Filipina Citicore Renewable Energy Corporation (CREC) dengan kapasitas 669,3 MW.

Baca juga: Bulog Komitmen Serap Jagung Blora untuk Pakan dan Bioetanol

Energi Bersih Dorong Ekonomi Desa

Pertamina juga memperluas pemanfaatan energi bersih melalui program Desa Energi Berdikari (DEB) yang kini mencapai 252 desa.

Program ini mengembangkan energi transisi seperti panel surya, mikrohidro, dan biogas untuk mendukung kebutuhan energi lokal sekaligus aktivitas ekonomi.

“Kami berharap dengan pemanfaatan energi transisi, masyarakat desa tak hanya memiliki ketahanan energi, tapi juga penggerak aktivitas ekonomi,” ungkap Baron.

Sebanyak 156 lokasi DEB tercatat mampu memproduksi 15,8 ribu ton bahan pangan beras dan 890,4 ton bahan pangan non beras, yang berkontribusi pada ketahanan pangan nasional.

Baca juga: Hilirisasi Bauksit hingga Bioavtur Masuk Agenda Groundbreaking Februari

Kolaborasi Bioetanol Perkuat Transisi Energi

Penandatanganan nota kesepahaman antara Pertamina NRE dan US Grains & BioProducts Council untuk pengembangan bioetanol sebagai bagian dari strategi transisi energi di Jakarta, Jumat (3/4/2026).DOk. PNRE Penandatanganan nota kesepahaman antara Pertamina NRE dan US Grains & BioProducts Council untuk pengembangan bioetanol sebagai bagian dari strategi transisi energi di Jakarta, Jumat (3/4/2026).Sejalan dengan itu, Pertamina juga memperkuat kolaborasi internasional dalam pengembangan bioetanol.

Pertamina NRE menandatangani nota kesepahaman dengan US Grains & BioProducts Council (USGBC) pada 27 Maret 2026 untuk mendorong pengembangan bioetanol melalui studi bersama dan pertukaran pengetahuan.

Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza menilai kolaborasi ini penting untuk memperkuat kapabilitas nasional.

“Bioetanol merupakan titik temu antara ketahanan energi dan keberlanjutan bagi Indonesia,” ujar Oki.

“Melalui kerja sama ini, kami ingin belajar lebih dalam dari pengalaman dan praktik terbaik internasional,” lanjut dia.

Direktur Utama Pertamina NRE John Anis menambahkan, kerja sama ini menjadi platform untuk memperkuat kapabilitas teknis melalui knowledge exchange.

Sementara itu, Chairman USGBC Mark Wilson menegaskan kemitraan ini berfokus pada implementasi nyata dalam produksi, rantai pasok, dan pengembangan pasar etanol.

Pengembangan EBT dan bioetanol tersebut sejalan dengan target Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) serta komitmen menuju Net Zero Emission 2060.

Tag:  #energi #global #bergejolak #pertamina #percepat

KOMENTAR