Proyeksi Harga Minyak 2026 Naik, Goldman Sachs Soroti Risiko Pasokan
Harga minyak dunia kembali menguat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Lonjakan harga komoditas energi tersebut turut menekan sentimen di pasar keuangan, termasuk pelemahan kontrak berjangka saham di Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya volatilitas di berbagai bursa dunia.
Pergerakan pasar terjadi seiring meningkatnya risiko konflik antara AS dan Iran yang berpotensi berdampak pada distribusi minyak melalui jalur pelayaran strategis di kawasan Teluk Persia.
Baca juga: Tren Harga Minyak Dunia di Atas 100 Dollar AS Diprediksi Bisa Berlangsung hingga 2027
Ilustrasi harga minyak dunia.
Ketidakpastian terkait keamanan pasokan membuat investor cenderung bersikap lebih hati-hati dalam menempatkan dana pada aset berisiko.
Harga minyak dunia menguat di atas 100 dollar AS
Dikutip dari CNN, Senin (23/3/2026), pada awal perdagangan Minggu (22/3/2026) waktu setempat, harga minyak mentah acuan global Brent dilaporkan naik sekitar 1,7 persen hingga berada di kisaran lebih dari 114 dollar AS per barrel.
Sementara itu, minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) meningkat sekitar 2 persen dan bertahan di atas level 100 dollar AS per barrel.
Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan distribusi energi, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.
Baca juga: AS-Iran Saling Ancam, Krisis Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia
Sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair global melewati jalur tersebut, sehingga setiap ancaman terhadap operasional pelayaran dinilai dapat memicu lonjakan harga energi.
Di sisi lain, kontrak berjangka indeks saham utama di AS mengalami tekanan.
Dow futures dilaporkan turun sekitar 0,6 persen atau setara lebih dari 200 poin, sementara futures S&P 500 dan Nasdaq masing-masing melemah sekitar 0,6 persen hingga 0,8 persen.
Ilustrasi harga minyak dunia.
Pergerakan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi global.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Diperkirakan “Menggila” Awal Pekan Ini
Biaya energi yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan tekanan harga di berbagai sektor, sekaligus memengaruhi daya beli konsumen.
Kepala analisis perminyakan GasBuddy Patrick De Haan mengatakan penyesuaian harga bahan bakar di tingkat konsumen kemungkinan berlangsung secara bertahap selama konflik masih berlangsung.
“Prosesnya akan berjalan sangat lambat selama ini terus berlarut-larut,” ujarnya.
Risiko pasokan dorong volatilitas energi
Sepanjang perdagangan, harga minyak bergerak fluktuatif seiring perkembangan situasi geopolitik.
Baca juga: IEA Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Minyak dan Beban Konsumen Global
Harga minyak mentah Brent sempat berada di kisaran sekitar 112 dollar AS per barrel sebelum kembali menguat, sedangkan harga minyak WTI juga bergerak di bawah 100 dollar AS sebelum kembali menanjak.
Analis pasar menilai gangguan terhadap produksi maupun distribusi minyak di Timur Tengah dapat memengaruhi keseimbangan pasokan global.
Ketergantungan pasar internasional terhadap pasokan dari kawasan tersebut membuat harga energi sangat sensitif terhadap risiko geopolitik.
Selain potensi gangguan langsung terhadap pengiriman minyak, meningkatnya ketidakpastian juga mendorong pelaku pasar menambahkan premi risiko dalam penentuan harga.
Baca juga: AS Buka Keran Minyak Iran Sebulan, Pasokan Belum Tentu Mengalir
Kondisi ini dapat memperpanjang periode harga minyak yang tinggi apabila konflik berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Goldman Sachs naikkan proyeksi harga minyak dunia 2026
Ilustrasi harga minyak mentah.
Di tengah meningkatnya risiko tersebut, Goldman Sachs merevisi proyeksi harga minyak untuk 2026.
Bank investasi tersebut menaikkan perkiraan harga rata-rata mintak mentah Brent sebesar 8 dollar AS menjadi 85 dollar AS per barrel. Proyeksi harga minyak WTI juga dinaikkan menjadi 79 dollar AS per barrel.
Goldman Sachs menilai risiko gangguan pasokan yang berkepanjangan dapat membuat pasar energi semakin sensitif terhadap perkembangan geopolitik.
Baca juga: IEA Peringatkan Krisis Minyak Terbesar, Dorong WFH hingga Berkendara Lebih Pelan
Selain itu, negara-negara konsumen diperkirakan akan meningkatkan penimbunan cadangan strategis guna mengantisipasi potensi kekurangan pasokan.
Daan Struyven, yang memimpin riset Goldman Sachs mengenai pasar minyak, mengatakan konsentrasi produksi dan kapasitas cadangan global menjadi faktor yang berpotensi mendorong perubahan struktural dalam dinamika harga energi.
“Pengakuan atas risiko yang timbul dari konsentrasi produksi dan kapasitas cadangan yang tinggi kemungkinan akan menyebabkan penimbunan strategis yang lebih tinggi secara struktural dan harga jangka panjang,” kata Struyven, dikutip dari Investing.com.
Menurutnya, dalam jangka pendek harga minyak diperkirakan masih memiliki kecenderungan meningkat selama ketidakpastian pasokan belum mereda.
Baca juga: Harga Emas dan Perak Dunia Anjlok di Tengah Lonjakan Minyak dan Risiko Inflasi Global
“Harga kemungkinan akan cenderung naik sampai pasar yakin bahwa gangguan yang berkepanjangan tidak mungkin terjadi,” ujarnya.
Ia menambahkan, kenaikan premi risiko kemungkinan diperlukan untuk menahan permintaan sekaligus mengantisipasi potensi kekurangan pasokan.
Sejalan dengan pandangan tersebut, Goldman Sachs kini memperkirakan harga Brent rata-rata mencapai 110 dollar AS per barrel pada periode Maret hingga April 2026, naik dari proyeksi sebelumnya sebesar 98 dollar AS.
Proyeksi ini juga mencerminkan kenaikan signifikan dibandingkan level harga sepanjang 2025.
Baca juga: Harga Minyak Turun Usai AS Buka Kemungkinan Cabut Sanksi Kapal Tanker Iran
Ilustrasi produksi minyak, harga minyak mentah.
Tekanan terhadap pasar global
Lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah turut menekan sentimen di pasar saham global.
Investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko seiring meningkatnya ketidakpastian mengenai stabilitas pasokan energi dan prospek pertumbuhan ekonomi.
Kenaikan biaya energi berpotensi memperburuk tekanan inflasi di berbagai negara, terutama bagi kawasan yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor minyak.
Kondisi ini juga dinilai dapat memengaruhi kebijakan moneter bank sentral yang masih berupaya menyeimbangkan stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Melemah Usai AS Pertimbangkan Lepas Minyak Iran
Di kawasan Asia dan Eropa, volatilitas pasar meningkat seiring perkembangan konflik. Pelaku pasar memantau dampak terhadap sektor industri yang sangat bergantung pada stabilitas harga energi, seperti manufaktur, transportasi, dan logistik.
Selain itu, harga minyak yang bertahan di atas level 100 dollar AS per barrel dinilai berpotensi menekan konsumsi global apabila berlangsung dalam jangka panjang.
Kenaikan biaya produksi dapat mendorong penyesuaian harga barang dan jasa di berbagai sektor ekonomi.
Investor mencermati perkembangan konflik
Ketidakpastian terkait arah konflik membuat pasar keuangan global bergerak lebih defensif.
Baca juga: Harga Minyak dan Gas Melonjak Tajam Akibat Serangan di Teluk
Pergerakan harga minyak dan kontrak berjangka saham menunjukkan investor masih menunggu kejelasan mengenai potensi gangguan pasokan energi dalam jangka menengah.
Selama risiko geopolitik tetap tinggi, dinamika harga minyak diperkirakan akan terus menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar global.
Perkembangan diplomatik maupun militer di kawasan Teluk Persia menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi menentukan stabilitas distribusi energi dunia.
Tag: #proyeksi #harga #minyak #2026 #naik #goldman #sachs #soroti #risiko #pasokan