Agrinas Impor 105.000 Kendaraan dari India, Pengusaha Minta Pemerintah Lindungi Industri Lokal
Rencana impor 105.000 unit kendaraan dari India oleh PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) untuk kebutuhan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes/KDKMP) menuai sorotan dari pelaku industri komponen otomotif dalam negeri.
Perkumpulan Industri Kecil dan Menengah Komponen Otomotif Indonesia (PIKKO) meminta pemerintah berhati-hati agar kebijakan tersebut tidak melemahkan industri otomotif nasional.
Mereka mengaku prihatin karena impor kendaraan dari India berpotensi menekan keberlangsungan industri otomotif Tanah Air, khususnya sektor industri kecil dan menengah (IKM) komponen otomotif.
Baca juga: Dilema 105.000 Pikap Impor: Pertumbuhan yang Dibeli atau Diproduksi?
Ketua Umum PIKKO, Rosalina Faried, mengatakan kondisi sektor otomotif nasional masih memerlukan dukungan pemerintah untuk meningkatkan gairah pasar dan daya saingnya.
Saat ada tekanan tersebut, Agrinas justru berencana mendatangkan ratusan unit kendaraan dari India.
PIKKO pun mengusulkan kepada pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) agar membatasi jumlah kendaraan impor.
Sebaliknya, otoritas bisa memberikan kesempatan kepada produsen kendaraan lokal untuk memenuhi kebutuhan nasional, termasuk operasional Kopdes Merah Putih.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mendorong penguatan industri otomotif nasional, sekaligus meningkatkan pemanfaatan produk dalam negeri.
“Kami sangat berharap pemerintah melalui Kementerian Perindustrian memberikan kesempatan kepada produsen lokal Indonesia untuk mengembangkan dan memproduksi kendaraan dengan kualitas yang sesuai serta harga yang kompetitif,” ujar Rosalina lewat keterangan pers, Minggu (22/2/2026).
Baca juga: RI Bakal Impor 1.000 Ton Beras AS, Pemerintah Sebut Tak Signifikan
PIKKO juga menyampaikan kekhawatiran bahwa kebijakan pembebasan impor kendaraan tanpa pembatasan berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi nasional.
Oleh karena itu, organisasi tersebut mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan kebijakan yang dapat melindungi industri domestik.
Sebagai informasi, anggota PIKKO bersama pelaku IKM di Tegal, Jawa Tengah, memiliki pengalaman sebagai pemasok komponen mobil AMMDes yang diproduksi oleh PT Velasto Indonesia.
Hal ini menunjukkan kemampuan industri lokal dalam mendukung kebutuhan kendaraan nasional.
PIKKO berharap pemerintah dapat mengambil kebijakan yang berpihak pada penguatan industri nasional, perlindungan industri dalam negeri, serta peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional.
Lebih jauh, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mencatat bahwa impor 105.000 unit pikap dari India tidak memerlukan persetujuan impor (PI). Menurutnya, kendaraan roda empat termasuk dalam komoditas yang tidak wajib mengantongi PI maupun rekomendasi kementerian teknis terkait.
“Kalau Mobil kan bebas. Mobil kan tidak perlu PI, tidak perlu rekomendasi,” kata Budi saat berjumpa wartawan di Kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Jumat (20/2/2026).
Rencana impor ini menjadi sorotan publik karena PT Agrinas Pangan Nusantara sebagai perusahaan negara memilih menggandeng pabrikan asal India dibandingkan produsen dalam negeri. Total 105.000 unit kendaraan tersebut dikontrak dari dua perusahaan besar, yakni Mahindra & Mahindra Ltd dan Tata Motors, dengan nilai kontrak mencapai Rp 24,66 triliun.
Pihak Agrinas Pangan Nusantara telah mengkonfirmasi kontrak pembelian tersebut. Dalam laporan di situs resminya, Mahindra & Mahindra Ltd menyebut menerima pesanan 35.000 unit single cabin Scorpio Pick Up untuk mendukung operasional Kopdes Merah Putih.
CEO Otomotif Mahindra & Mahindra Ltd, Nalinikanth Gollagunta, menyatakan kerja sama tersebut akan berdampak signifikan terhadap ekspansi internasional perusahaan.
“Volume yang dikomitmenkan untuk kemitraan ini akan secara signifikan meningkatkan Operasi Internasional kami, menambah volume ekspor total kami yang dicapai pada tahun fiskal 2025,” kata Nalinikanth dalam keterangan resmi 4 Februari lalu.
Sementara itu, Tata Motors menerima pesanan sebanyak 70.000 unit dari Agrinas, yang terdiri dari 35.000 unit pikap Yodha dan 35.000 unit truk Ultra T.7 untuk mendukung kegiatan logistik Kopdes Merah Putih.
“Tata Yodha dan Ultra T.7 dirancang untuk kinerja berkelanjutan, waktu operasional tinggi, dan ekonomi operasional yang efisien,” kata Direktur Distribusi Tata Motors Indonesia, Asif Shamim.
Kebijakan impor tersebut turut mendapat sindiran dari Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita. Sebagai menteri yang membidangi sektor industri, Agus menegaskan pabrikan otomotif dalam negeri memiliki kapasitas untuk memproduksi kendaraan pikap dengan kualitas yang mampu bersaing dengan produk impor dan telah diterima luas untuk kebutuhan niaga.
Tag: #agrinas #impor #105000 #kendaraan #dari #india #pengusaha #minta #pemerintah #lindungi #industri #lokal