KRL Jabodetabek Diprediksi Tembus 437 Juta Penumpang pada 2030, KAI Perkuat Sarana dan Prasarana
- PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI memproyeksikan volume penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek) akan meningkat dari realisasi sekitar 339 juta penumpang pada 2025 menjadi 437 juta penumpang pada 2030.
Dengan tren pertumbuhan rata-rata sekitar 4 persen per tahun, volume harian KRL Jabodetabek diperkirakan dapat mencapai sekitar 2 juta penumpang pada 2030.
Pernyataan tersebut disampaikan Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Baca juga: Alasan Dirut KAI Batalkan 82 Perjalanan Kereta: Keselamatan Nomor Satu
Bobby mengungkapkan, KRL melayani lebih dari satu juta masyarakat Jabodetabek setiap hari. Hal ini membuat peran KRL tidak hanya sebagai layanan transportasi, tetapi juga infrastruktur produktivitas kota dan penggerak utama aktivitas ekonomi kawasan aglomerasi Jabodetabek.
Pasalnya, KRL merupakan moda transportasi massal yang efisien dan berdaya angkut tinggi untuk mendukung produktivitas kawasan Jabodetabek secara berkelanjutan.
Mengingat peran KRL sebagai tulang punggung mobilitas kawasan aglomerasi Jakarta, KAI berkomitmen memperkuat sarana dan prasarana KRL untuk memastikan kapasitas dan keselamatan layanan tetap terjaga.
"Penguatan layanan KRL merupakan kebutuhan struktural dalam mendukung pertumbuhan aglomerasi,” ujar Bobby dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (12/2/2026).
Baca juga: Jadwal KRL Solo–Jogja PP saat Libur Imlek 2026, Ada Tambahan Perjalanan
Pengadaan sarana dan modernisasi prasarana
Untuk mengantisipasi pertumbuhan mobilitas yang terus meningkat, KAI menjalankan penguatan sarana melalui dukungan negara dan investasi korporasi.
Saat ini, KAI mengoperasikan 11 trainset KRL baru produksi China Railway Rolling Stock Corporation (CRRC) serta 4 trainset produksi PT INKA (Persero).
Kehadiran rangkaian baru tersebut memperkuat kapasitas angkut di koridor-koridor padat Jabodetabek sekaligus mendukung peningkatan keandalan operasional.
Selain itu, KAI juga telah menandatangani kontrak pengadaan 16 trainset atau 192 unit KRL produksi PT INKA senilai Rp3,85 triliun. Dari jumlah ini, 11 rangkaian ditargetkan mulai beroperasi pada 2026 sebagai bagian dari program percepatan regenerasi sarana.
Baca juga: Kemenhub dan KAI Bahas Pengadaan Kereta untuk Reaktivasi Jalur di Stasiun Labuan Banten
“Kami memastikan pengadaan sarana dilakukan melalui berbagai pendekatan pendanaan, baik dukungan pemerintah maupun investasi perusahaan, agar kapasitas layanan terus bertumbuh sejalan dengan kebutuhan mobilitas urban,” jelas Bobby.
Secara keseluruhan, kini KAI mengoperasikan 1.088 unit KRL yang sebagian besar telah berusia di atas 30 tahun dan akan memasuki masa konservasi secara bertahap.
Oleh karena itu, regenerasi sarana menjadi langkah strategis untuk menjaga keselamatan, kenyamanan, dan keberlanjutan layanan.
Selain pengadaan sarana, KAI juga terus mendorong modernisasi prasarana untuk memastikan sistem transportasi siap menghadapi pertumbuhan penumpang jangka panjang.
Baca juga: Napas Terakhir Bus Pusaka: Bertahan di Tengah Modernisasi dan Integrasi Transportasi
Sejumlah upaya yang telah dilakukan KAI, antara lain modernisasi prasarana menuju lintas Rangkasbitung, penguatan kapasitas kelistrikan di lintas padat seperti Manggarai–Bogor dan Manggarai–Bekasi, pembaruan sistem operasi untuk meningkatkan ketepatan waktu dan frekuensi perjalanan, serta penguatan integrasi layanan di simpul utama transportasi urban.
KAI juga konsisten menambah elektrifikasi lintas KRL yang kini telah mencapai 474,942 kilometer (km) sejak 2017-2018. Jalur ini mencakup lintas Bogor, Bekasi, Serpong, Tangerang, dan Tanjung Priok.
“Sarana baru harus ditopang sistem kelistrikan, persinyalan, dan stasiun yang siap menghadapi pertumbuhan penumpang. Modernisasi prasarana menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas dan kualitas layanan,” tegas Bobby.
Baca juga: Eksistensi Perahu Eretan di Kali Gendong Jakut, Bertahan di Tengah Modernisasi Transportasi
Dukungan pemerintah pusat
Upaya penguatan layanan KRL Jabodetabek mendapat dukungan dari pemerintah pusat melalui alokasi pendanaan hingga Rp 5 triliun. Komitmen ini disampaikan oleh Presiden RI Prabowo Subianto dalam peresmian Stasiun Tanah Abang Baru di Jakarta, Selasa (4/11/2026).
Dukungan tersebut diarahkan untuk penambahan rangkaian, peningkatan kapasitas layanan, serta penguatan sistem operasional pada jalur-jalur utama.
“Kami melihat dukungan ini sebagai komitmen kuat negara dalam memperkuat transportasi publik. Targetnya adalah kapasitas meningkat, kepadatan berkurang, dan masyarakat memperoleh layanan yang semakin andal,” kata Bobby.
Baca juga: Penumpang Transportasi Publik Jakarta Melonjak di 2025, Mana yang Terbanyak?
Tag: #jabodetabek #diprediksi #tembus #juta #penumpang #pada #2030 #perkuat #sarana #prasarana