Harga Emas Hari Ini Sentuh Rekor Tertinggi, Apa Pemicunya?
Harga emas dunia kembali mencetak sejarah. Pada perdagangan Selasa (20/1/2026) waktu setempat atau Rabu (21/1/2026) waktu Indonesia, harga emas spot menembus rekor tertinggi sepanjang masa.
Lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya permintaan aset lindung nilai, seiring memburuknya sentimen geopolitik global, tekanan utang negara-negara maju, pelemahan dollar AS, serta ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter.
Mengutip laporan Reuters, harga emas spot sempat melesat di kisaran 4.700 sampai 4.800 dollar AS per troy ounce dalam perdagangan intraday, sebelum bergerak volatil hingga penutupan pasar.
Harga emas hari ini. Harga emas Pegadaian hari ini. Harga emas UBS hari ini. Harga emas hari ini di Pegadaian. Harga emas Galeri24 hari ini.
Sementara itu, The Economic Times mencatat harga emas spot sempat menyentuh 4.737,54 dollar AS, lalu terkoreksi tipis ke sekitar 4.731 dollar AS dalam perdagangan di London.
Kontrak berjangka emas di bursa Comex Amerika Serikat juga ditutup menguat, menandai reli yang berlanjut sejak akhir 2025 dan semakin menguat pada awal 2026.
Live Mint melaporkan, harga emas spot melonjak melewati tonggak psikologis 4.800 dollar AS per troy ons untuk pertama kalinya, karena permintaan sebagai aset safe-haven membuat emas batangan tetap menjadi aset favorit.
Harga perak juga naik 0,3 persen menjadi 94,89 dollar AS per ons.
Ketegangan geopolitik kembali mendominasi sentimen pasar
Salah satu faktor utama di balik lonjakan harga emas adalah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Investor kembali menghindari aset berisiko dan memilih instrumen lindung nilai, seiring memanasnya dinamika politik dan perdagangan antara Amerika Serikat dan Eropa.
Ilustrasi emas. Harga emas hari ini pada Minggu (4/1/2026)
Perhatian pasar tertuju pada pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos. Di sela agenda tersebut, Presiden AS Donald Trump mengatakan berencana bertemu dengan sejumlah pihak untuk membahas proposalnya terkait Greenland.
Pernyataan tersebut memicu reaksi beragam dari Eropa. Presiden Perancis Emmanuel Macron mengisyaratkan kemungkinan mengaktifkan instrumen anti-koersi Uni Eropa, sebuah perangkat pertahanan perdagangan yang memungkinkan Uni Eropa merespons tekanan ekonomi dari negara lain.
Namun, Kanselir Jerman Friedrich Merz mendorong sikap yang lebih menahan diri. Ia menyoroti adanya perbedaan pandangan di antara negara-negara Eropa mengenai seberapa agresif respons yang seharusnya diberikan terhadap AS.
Ketegangan semakin meningkat setelah Trump secara terbuka mengkritik Macron dan mengisyaratkan potensi penerapan bea masuk terhadap produk anggur dan sampanye Perancis.
Retorika tersebut memperkuat kekhawatiran pasar bahwa sengketa politik dapat berkembang menjadi pembalasan ekonomi dan konflik perdagangan yang lebih luas.
Dalam kondisi tersebut, logam mulia termasuk emas kembali menjadi tujuan utama investor global.
“Harga emas telah melonjak lebih dalam ke wilayah yang belum pernah terjadi sebelumnya karena investor melakukan lindung nilai terhadap meningkatnya risiko politik,” ujar Fawad Razaqzada, analis pasar dari City Index dan FOREX.com, seperti dikutip Reuters.
Mengapa emas dipilih, bukan mata uang?
Sejumlah pelaku pasar menilai emas menawarkan perlindungan yang lebih efektif dibandingkan mata uang dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik saat ini.
Mengutip The Economic Times, Peter Kinsella dari Union Bancaire Privee dalam wawancaranya di Bloomberg Television mengatakan, mata uang tidak selalu menjadi kendaraan terbaik untuk mengekspresikan tema geopolitik yang berkembang.
Ilustrasi emas. Berikut daftar harga emas batangan Antam yang tercatat di laman Logam Mulia
Menurutnya, logam mulia memberikan eksposur yang lebih langsung terhadap risiko geopolitik dan ketidakpastian global.
Pandangan tersebut sejalan dengan meningkatnya minat investor institusional terhadap emas, baik melalui pembelian fisik maupun instrumen keuangan berbasis emas.
Tekanan utang negara maju ikut menopang reli harga emas
Di luar faktor geopolitik, kekhawatiran struktural terkait kondisi fiskal negara-negara maju juga menjadi pendorong kuat lonjakan harga emas.
Pasar obligasi Jepang kembali berada di bawah tekanan setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi mengusulkan pemotongan pajak terkait pemilu.
Usulan tersebut kembali menyoroti besarnya beban utang pemerintah Jepang, yang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.
Tekanan fiskal tidak hanya terjadi di Jepang. Defisit anggaran yang tinggi di AS dan Eropa memunculkan kembali kekhawatiran bahwa inflasi pada akhirnya dapat digunakan untuk mengurangi beban utang pemerintah.
Narasi tersebut telah menjadi pendorong harga emas sepanjang 2025 dan berlanjut hingga awal 2026.
Dalam periode tersebut, bank-bank sentral global dilaporkan terus menambah cadangan emas mereka sebagai bagian dari strategi diversifikasi aset dan pengurangan ketergantungan terhadap dollar AS.
Pelemahan dollar AS dan ekspektasi suku bunga
Faktor lain yang memperkuat reli harga emas adalah pelemahan dollar AS. Ketika dollar AS melemah, emas yang diperdagangkan dalam denominasi dollar AS menjadi lebih terjangkau bagi pembeli dari negara lain, sehingga meningkatkan permintaan global.
Ilustrasi emas batangan. Harga emas dunia pada Kamis (18/12/2025) menguat dan bergerak mendekati rekor tertinggi. Kenaikan ini terjadi di tengah sikap investor yang menanti rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) serta mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di Venezuela.
Pelemahan dollar AS terjadi seiring meningkatnya spekulasi pasar mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS Federal Reserve (The Fed).
Pelaku pasar mulai memproyeksikan peluang penurunan suku bunga acuan pada paruh kedua 2026.
Ekspektasi tersebut menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan menurunkan opportunity cost memegang emas, yang tidak memberikan imbal hasil bunga. Secara historis, kondisi tersebut kerap menjadi katalis positif bagi harga emas.
Tidak hanya emas, harga perak ikut melonjak
Kenaikan tajam tidak hanya terjadi pada emas. The Economic Times mencatat harga perak melonjak 7,6 persen pada hari yang sama.
Sepanjang 2025, harga perak bahkan tercatat hampir tiga kali lipat, mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap logam mulia sebagai alternatif lindung nilai.
Dampaknya terasa hingga pasar domestik
Lonjakan harga emas dunia tersebut segera tercermin di pasar domestik Indonesia. Harga emas batangan, khususnya produk PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali mencatatkan rekor baru dalam beberapa hari terakhir.
Harga emas Antam kembali mencetak rekor tertinggi. Harga Antam hari ini menguat Rp 35.000 per gram menjadi Rp 2.772.000.
Pada pembukaan perdagangan pagi hari pukul 05.00 WIB, harga emas Antam masih berada di posisi Rp 2.737.000 per gram.
Harga emas Antam tersebut kemudian naik menjadi Rp 2.772.000 per gramnya.
Pergerakan ini membuat emas kembali menjadi perhatian utama investor ritel di dalam negeri, terutama di tengah fluktuasi pasar saham dan ketidakpastian ekonomi global.
Strategi yang dicermati investor ritel di tengah reli harga emas
Emas Antam. Harga emas Antam hari ini. Harga Antam hari ini. Harga emas hari ini.
Lonjakan harga emas yang agresif kerap memicu euforia di kalangan investor ritel. Namun, analis pasar mengingatkan bahwa reli tajam juga meningkatkan risiko koreksi jangka pendek.
Lukman Leong, analis dari Doo Financial Futures, mengatakan bahwa pergerakan harga emas sempat mengalami koreksi tipis akibat aksi ambil untung setelah reli kuat sebelumnya.
“Investor emas dan perak perlu mewaspadai potensi koreksi setelah lonjakan tajam ini, sekaligus mencermati peluang beli terbaik yang muncul di tengah volatilitas pasar,” ujar Lukman, dikutip dari Kontan.
Dalam konteks tersebut, investor ritel kerap disarankan untuk memperhatikan beberapa prinsip dasar.
1. Pertimbangkan tujuan investasi dan horizon waktu
Investasi emas cocok untuk tujuan lindung nilai jangka panjang atau diversifikasi, bukan sekadar spekulasi jangka pendek.
Mengutip Investopedia, peran emas lebih sebagai diversifier dan hedge situasional ketimbang kendaraan pertumbuhan jangka pendek.
2. Jangan memutuskan berdasarkan FOMO (fear of missing out)
Pembelian besar saat harga sedang melesat dapat mengekspos investor pada risiko pembalikan harga.
Praktik dollar-cost averaging (membeli bertahap secara berkala) dapat membantu mengurangi risiko timing pasar.
3. Pilih instrumen yang sesuai
Investopedia menjabarkan beberapa cara memegang emas, misalnya emas batangan (fisik), ETF emas, reksa dana atau produk yang meniru harga emas, atau kontrak berjangka alias options (lebih kompleks).
Tiap instrumen berbeda dalam hal likuiditas, biaya penyimpanan atau asuransi, dan pajak. Pilih yang sesuai profil risiko dan kebutuhan likuiditas.
Pemerintah resmi mengenakan bea keluar untuk ekspor emas. Kebijakan ini dinilai bisa menekan margin emiten tambang, meski harga sahamnya masih bergerak positif.
4. Pertimbangkan taking profit parsial (ambil sebagian keuntungan)
Ketika kepemilikan emas telah memberikan keuntungan substansial, sebagian investor memilih merealisasi sebagian keuntungan untuk mengunci profit dan menjaga alokasi portofolio. Saran ini umum muncul saat aset mengalami lonjakan tajam.
5. Perhatikan biaya, pajak, dan mekanisme buyback
Jika membeli fisik, misal emas batangan Antam), perhatikan spread jual atau beli, biaya sertifikat atau penyimpanan, serta ketentuan buyback dari penjual. Investor harus memahami likuiditas dan biaya tersebut sebelum membeli besar.
6. Gunakan diversifikasi portofolio
Jangan menempatkan seluruh dana di satu aset. Sebaiknya, Anda menyebar aset di saham, obligasi, kas, dan komoditas sesuai toleransi risiko.
Emas dapat menjadi bagian alokasi, bukan seluruh portofolio.
Tag: #harga #emas #hari #sentuh #rekor #tertinggi #pemicunya