Bitcoin Terkoreksi 2,24 Persen, Pasar Kripto Kompak Melemah
- Harga bitcoin (BTC) terkoreksi 2,24 persen dalam perdagangan 24 jam terakhir. Pelemahan ini ikut menyeret sejumlah aset kripto.
Berdasarkan data CoinMarketCap Senin (19/1/2026) pukul 08.22 WIB, harga Bitcoin berada di posisi 92.604,72 dollar AS, turun sekitar 2,24 persen. Sebelumnya harga BTC sempat melonjak 97.007 dollar AS, menguat 2,13 persen pada perdagangan Jumat pekan kemarin.
Kapitalisasi pasar Bitcoin saat ini mencapai 1,85 triliun dollar AS, dengan volume transaksi harian sebesar 28,44 miliar dollar AS. Dominasi Bitcoin terhadap total pasar kripto masih relatif tinggi, yakni 59,13 persen.
Secara kinerja waktu, Bitcoin masih mencatatkan penguatan 1,37 persen dalam sepekan. Bahkan, secara year to date (YTD), BTC juga menguat 4,54 persen.
Tekanan juga tampak merata ke altcoin utama. Ethereum turun 2,75 persen ke posisi 3.212 dollar AS, sementara Binance Coin (BNB) melemah 2,56 persen ke 919 dollar AS. XRP mencatat koreksi lebih dalam sebesar 5,17 persen ke 1,95 dollar AS, dan Solana turun hampir 6 persen ke 133 dollar AS.
Di kelompok aset kripto berkapitalisasi menengah, Dogecoin dan Cardano masing-masing anjlok lebih dari 7 persen, sedangkan Chainlink terkoreksi sekitar 6 persen. Di tengah dominasi pelemahan, hanya segelintir aset yang mampu bertahan di zona hijau, salah satunya Monero yang menguat lebih dari 8 persen dalam 24 jam terakhir.
Prospek harga Bitcoin pada 2026 dinilai semakin menjanjikan. Aset kripto terbesar di dunia itu diperkirakan kembali berpeluang mencetak rekor tertinggi (all-time high/ATH) di level 125.000 dollar AS.
Penguatan harga BTC dinilai sejalan dengan ekspektasi penurunan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, menguatnya tekanan politik Presiden AS Donald Trump terhadap The Federal Reserve (The Fed), serta derasnya akumulasi investor institusi global.
Pendiri sekaligus CEO Triv, Gabriel Rey, mengatakan proyeksi harga Bitcoin dan aset kripto lainnya erat kaitannya dengan arah kebijakan moneter AS.
Menurutnya, jika The Fed mulai menurunkan suku bunga, meskipun secara bertahap, Bitcoin berpotensi kembali menyentuh ATH di kisaran 125.000 dollar AS. Kendati ia menekankan prediksi tersebut bukan saran atau rekomendasi untuk berinvestasi bagi investor.
“Kalau dari prediksi kami ketika suku bunga ini diturunkan paling minim, Bitcoin itu akan kembali menyentuh ATH-nya di 125.000 dollar AS. But disclaimer on not financial advice,” ujar Gabriel saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Kamis sore.
Ia menilai, dinamika kebijakan di AS kini menjadi fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah pemerintahan AS, Ketua The Fed Jerome Powell menghadapi tekanan politik yang sangat kuat, bahkan dipanggil oleh Jaksa Federal terkait proses penyelidikan perkara.
Dikutip dari BBC, Senin (12/1/2026), Departemen Kehakiman AS (DoJ) telah mengirimkan surat panggilan dan mengancam akan mengajukan dakwaan pidana terhadap lembaga tersebut, termasuk Powell.
Situasi itu terjadi di tengah meningkatnya pengaruh Presiden Donald Trump, yang secara terbuka mendorong penurunan suku bunga ke level 1 persen, yang berpeluang mengubah persepsi pasar.
Gabriel mencatat pasar kini melihat arah suku bunga Amerika Serikat bukan lagi sebagai sebuah kemungkinan, melainkan agenda yang tinggal menunggu momentum. Dalam jangka menengah, level suku bunga 1 persen tidak diperdebatkan dari sisi “akan terjadi atau tidak”, tetapi “kapan akan terjadi?”.
Dorongan kuat datang dari Trump yang menginginkan biaya pinjaman ditekan serendah mungkin untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan pasar keuangan.
Ketika suku bunga akhirnya turun ke level tersebut, efek berantainya dinilai hampir selalu sama dan berulang dalam sejarah pasar global. Biaya uang yang murah akan memicu lonjakan likuiditas, mendorong dana keluar dari instrumen aman menuju aset berisiko yang menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi.
Dalam situasi seperti ini, Bitcoin menjadi salah satu penerima manfaat utama, seiring dengan menguatnya pasar saham AS, termasuk indeks S&P 500. Karena itu, penurunan suku bunga dipandang sebagai “bahan bakar” yang secara alami dapat mengangkat harga aset finansial, sekaligus memperkuat optimisme investor di pasar kripto global.
“Jadi istilahnya apa? Kita melihat bahwa dalam jangka menengah suku bunga 1 persen itu bukan pertanyaan iya atau tidak, tapi kapan terjadinya. Karena Trump mau suku bunga ini turun menjadi 1 persen. Dan ketika kita melihat suku bunga ini turun menjadi 1 persen otomatis apa yang terjadi? Ini sudah hukum alam di mana-mana, Bitcoin pasti naik, SP500 saham Amerika pasti naik,” paparnya.
Faktor lain yang dinilai krusial adalah rencana pergantian pimpinan The Fed. Powell diperkirakan akan digantikan sekitar Mei atau Juni 2026. Kandidat terkuat penggantinya disebut memiliki kedekatan dengan Trump. Gabriel menyebut dengan kombinasi tekanan politik dan pergantian kepemimpinan ini, peluang penurunan suku bunga menjadi semakin besar.
“Jadi saya merasa ketika suku bunga ini diturunkan otomatis harga itu akan naik. Ini tinggal masalah kapan saja akan terjadi penurunan suku bunga. Dan saya rasa dalam jangka menengah ini sangat possible terjadi di 2026,” bebernya.
Dari sisi fundamental, dukungan terhadap Bitcoin juga semakin kuat. Arus dana investor institusi global terus menunjukkan tren akumulasi. Total aset kelolaan (assets under management/AUM) dari manajer investasi besar seperti BlackRock dan Fidelity dilaporkan terus meningkat.
Gabriel menyebut, meskipun harga Bitcoin sempat mengalami koreksi, para pemain besar justru memanfaatkan momentum tersebut untuk menambah kepemilikan. Bahkan, jumlah Bitcoin yang dikumpulkan oleh para pemegang besar (whales) kini telah menembus lebih dari 600.000 BTC dan masih terus bertambah.
Sentimen pasar juga menguat setelah Eric Trump, putra Donald Trump, secara terbuka mengumumkan pembelian Bitcoin. Menurut Gabriel, langkah tersebut memperkuat keyakinan bahwa kebijakan pemerintahan Trump ke depan akan berpihak pada pertumbuhan aset kripto.
“Dan yang paling menarik adalah anaknya Trump, yaitu Eric Trump, melakukan pembelian Bitcoin dan diumumkan secara terang-terangan. Dan kita ngomonglah sejelek-jeleknya bapak, gak mungkin bapak bikin rugi anaknya. Jadi itulah policy-policy yang dilakukan oleh Trump pasti akan mendukung pertumbuhan harga bitcoin,” pungkas Gabriel
Lebih jauh, dukungan institusional juga datang dari tingkat negara bagian. Texas tercatat menjadi negara bagian pertama di AS yang membeli Bitcoin. Langkah ini dinilai sebagai sinyal kuat meningkatnya adopsi Bitcoin di level pemerintahan, sekaligus mempertegas legitimasi kripto sebagai aset alternatif.
Dengan berbagai katalis tersebut, Gabriel menilai pasar kripto berpotensi memasuki fase baru. Ia bahkan meyakini siklus empat tahunan yang selama ini dikenal di pasar Bitcoin mulai bergeser.
Di pasar domestik, lanjut Gabriel, karakter investor kripto di Indonesia masih menunjukkan kecenderungan berbeda. Gabriel mengungkapkan, saat ini pasar domestik lebih didominasi oleh trader altcoin. Di platform Triv, volume perdagangan altcoin tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan Bitcoin.
“Kalo saat ini di Indonesia lebih didominasi oleh trader altcoin. Jujur, karena seperti di Triv sekarang dominasi volume trading altcoin jauh lebih tinggi daripada Bitcoin. Jadi orang lebih suka berspekulasi, mencari peluang lain mana yang bisa mendapatkan return lebih tinggi,” katanya.
Tag: #bitcoin #terkoreksi #persen #pasar #kripto #kompak #melemah